Kamis, 21 Juni 2007

titip ibuku ya Allah


" Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja... "

Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.

" Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa " pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,

" Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? "

Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana.

Terbata-bata Ibu berkata,

" Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri "

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.

Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,

" Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua. "

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,

" Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. "

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku ntuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu.

Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi...

Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?

" Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. "

Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan,

" Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu... ".

Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat

"aku sayang padamu... ",

namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.

Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

Wallaahua'lam

" Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu..., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil "

"Titip Ibuku ya Allah"

- Muhasabah untuk diri, terima kasih sahabat atas suratmu yang aku boleh baca, akupun mencintai ibuku. -

kunci kebahagiaan

Tiap kita punya pendapat sendiri tentang kebahagiaan. Walau pun semua berhasrat ingin bahagia, namun tak sedikit kita jumpai orang yang tidak bahagia. Padahal tiada kurang harta yang dimilikinya, tiada kurang penghormatan untuknya, dan tiada kurang jabatannya. Kecantikan bukan ukuran kebahagiaan. Hal itu ibarat bunga yang suatu saat layu. Bukan pula harta kekayaan. Ia ibarat hujan yang akan kering setelah datang sinar matahari. Bukan juga kekuatan. Ia ibarat pertandingan, ada saatnya menang, tapi ada juga saatnya kalah. Singkat kata dunia tak dapat membahagiakan kita.

Syahdan sebelum menciptakan manusia, Allah tugaskan dua malaikat untuk menempatkan sesuatu yang amat berharga yang kelak akan dicari seluruh manusia. Malaikat satu berkata, aku kan letakkan di dasar samudra, hingga hanya orang yang tangguhlah yang menemukannya. Malaikat satu lagi berkata, aku kan menyimpannya di puncak gunung hingga tak ada yang menemukan kecuali orang yang kuat tekadnya. Perselisihan itu pun tak berujung. Akhirnya Allah yang memutuskan, Aku kan taruh sesuatu itu di lubuk hati manusia yang paling dalam. Sesuatu apakah gerangan hingga Allah turun tangan. Tak lain itu adalah kebahagiaan.

Kebahagiaan tertanam dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu menemukannya. Ia sering kali tertimbun endapan rasa takut, dengki dan kecewa akibat hal-hal di luar diri kita. Karena itu harus kita singkirkan. Kita takut kehilangan sesuatu, padahal mau tidak mau, semua yang datang pasti kan pergi. Kita dengki melihat kenikmatan orang, padahal tidak kurang anugerah Allah pada kita. Kadang kita kecewa dengan kejadian diluar, padahal selalu ada hikmah yang indah di balik semua kejadian yang telah berlalu.

Kebahagiaan adalah ketulusan. Hanya dengan ketulusan kita bisa menemukan kebahagiaan. Tulus menerima segala apa yang Allah anugerahkan seraya mensyukurinya. Allah lebih mengetahui dari pada kita tentang apa yang kita butuhkan. Jangan lepaskan burung di tangan hanya karena mengharap burung yang terbang. Yakinlah apa Allah yang takdirkan untuk kita, itu baik buat kita.

Maka jangan remehkan apa-apa yang telah kita miliki.
Ketulusan akan menyingkirkan debu kedengkian, kekecewaan sekaligus kecemasan. Sebaliknya ketulusan membawa kita pada sikap ridha. Maka Allah pun akan meridhai kita. Rasul bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala bergantung besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah menguji mereka. Maka siapa yang ridha, maka Allah akan meridhainya, dan siapa yang murka, maka Allah akan memurkainyaâ€
(HR Tirmidzi).

Kebahagiaan ibarat air dalam botol. Botol dan air memang saling memerlukan. Namun hanya air yang dapat melepaskan dahaga. Maka siapa yang memiliki akal sehat akan memilih air, sedang orang yang sesat akan memilih botol, tanpa melihat apakah terdapat air didalamnya atau tidak. Itulah sebabnya, dahaganya tidak pernah terpuaskan, sebab ia tidak tahu apakah botol itu kosong atau berisi.

Mengaitkan Urusan dengan Allah

KH Abdullah Gymnastiar
Setiap urusan yang tidak dikaitkan kepada Allah, berpotensi menjadi besar, rumit, dan berat. Karena itu, orang yang paling sengsara dalam hidup adalah orang yang tidak mengenal Allah. Semua yang dilakukannya tidak memiliki gantungan yang kokoh.
Tidak ada rezeki selain dari Allah. Sekecil apa pun itu, semuanya datang dari Allah. Manusia hanya sekadar perantara. Saat kita lapar, kemudian ada yang memberi kita makan. Maka yakinlah bahwa makanan itu datang dari Allah, orang itu hanya sekadar perantara. Benar ungkapan Imam Al Ghazali, "Dia (Allah) yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia pula yang mengantarnya kepada mereka serta menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya".
Saudaraku, yang paling mahal dari pemberian adalah ingat kepada Allah. Contohnya saat mendapat uang. Yang terpenting bukan uangnya, namun bagaimana uang tersebut menjadikan kita ingat dan bersyukur kepada Allah. Saat kita dikaruniai rumah, maka yang terpenting bukan bagus dan megahnya rumah, namun bagaimana rumah itu bisa mendekatkan kita kepada Allah. Saat Rezeki terbesar kita bukan datangnya sesuatu, namun ingat Allah karena sesuatu itu.
Ali bin Abi Thalib berkata, "Jangan merasa adanya yang memberi nikmat kepadamu selain Allah. Dan anggaplah semua nikmat yang engkau terima dari selain Allah itu sebagai kerugian.''
Segala sesuatu yang kita alami, benar-benar ada dalam kekuasaan Allah. Semuanya terjadi karena izin Allah, entah yang baik maupun yang buruk. Andai kita bermaksiat, maka maksiat yang kita lakukan terjadi karena izin Allah. Karena itu, jangan mencari izin Allah. Yang harus kita cari adalah ridha Allah. Ridha Allah ini hakikatnya adalah izin yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita. Demikian pula saat mencari rezeki. Semua yang kita dapatkan, halal maupun haram, datang kepada kita karena izin Allah. Rezeki yang kita dapatkan akan berkah dan membawa kebaikan bila dikaitkan dengan Allah sebagai Dzat Pemberi Rezeki.
Saudaraku, setiap urusan yang tidak dikaitkan kepada Allah, berpotensi menjadi besar, rumit, dan berat. Orang yang paling sengsara dalam hidup adalah orang yang tidak mengenal Allah. Semua yang dilakukannya tidak memiliki gantungan yang kokoh.
Jadi, kita akan stres bila hati lebih bergantung kepada ikhtiar daripada kepada Allah. Saat berbisnis misalnya. Bila kita menggantungkan kesuksesan bisnis hanya pada strategi yang kita rancang, kita akan stres bahkan depresi ketika bisnis tersebut mengalami kegagalan. Saat kita mendambakan pendamping hidup, dan kita menggantungkan harapan pada ikhtiar semata, maka kita akan stres saat gagal menikah. Idealnya, ikhtiar seratus persen dan keyakinan pun seratus persen. Keyakinan, adalah pangkalan tempat berpijak. Hati harus yakin, sambil terus menyempurnakan ikhtiar. Wallahu a'lam.


Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=232831&kat_id=105

Senin, 11 Juni 2007

membaca


Membaca....membaca....membaca... renungan cinta ..... bahwa rizki Allah selalu ada, bersyukur.... Belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna...  Terima kasih teman-teman. Ini saya kutip sebagai muhasabah diri :-) Renungan Hidup ......