Terdengar dikejauhan bunyi seseorang sedang menyalakan motornya. Sepertinya sudah dari kemarin. Hal yang paling tidak enak ketika yang diharapkan tidak terlaksana. Banyak hal sudah bisa diperhitungkan atau dibaca. Hukum sebab akibat berlaku. Bila akan melakukan A akan menghasilkan B, bila akan melakukan C akan menghasilkan D. Ada jalannya sendiri-sendiri. Bisa jadi karena perawatannya kurang makanya motornya tidak bisa dinyalakan. Mau disalahkan siapa? Tukang bengkel yang tidak mau merawat motornya hehe... Atau waktu yang tidak ada lama untuk khusus menghantar motornya ke bengkel. Dan paling sering adalah uang untuk ke perbaikan rutin, minimal ada uang untuk bayar jasa perbaikan atau membeli oli. Semangatnya untuk mandiri namun bila bukan ahlinya ya itu pilihan yang akan menghasilkan pula.
Banyak cerita pada saat masa tugas akhir. Pra, saat dan pascanya. Sebelum, saat mengalami dan sesudah. Persiapan tugas akhir seakan seperti langit akan jatuh bila tidak kuat memegang tiang langit. Terlalu berlebihan, namun itulah yang terjadi. Padahal pada saat sudah diterima hasil tulisan tugas akhir dan maju sidang, kok cuma segini aja hehe... Tinggi diri berlebihan kali ya hehe... Bisa menjadi cerita bersambung. Nah ketika selelsai sidang pun bisa menjadi cerita yang menarik dan menegangkan pula. Apalagi bagi perguruan tingginya memperbolehkan ikut wisuda tanpa harus menyelesaikan koreksi hasil sidang, Lagi-lagi akan bilang bahwa siap-siap langit pun akan kembali jatuh. Wah begitu menyeramkan di dunia ini bila posisi di bawah akan kejatuhan yang di atas. Makanya banyak orang yang berlomba untuk berposisi di atas, beranggapan tidak ada yang menjatuhkannya. Peribahasa pun harus berlaku dan mengerti,"masih ada langit di atas langit".
Laporan Tugas Akhir di bolak-balik melihat coretan penguji. Teramat banyak dan besar-besar. Mestinya ada arah yang jelas supaya jelas pula mengkoreksinya. Hmm...suka-suka penguji. Kalau mau menyanggahpun, mereka yang saat ini menjadi penguji pernah mengalami hal ini dan merasakan tidak enaknya tapi kok ini. Bales? Koreksian mesti lebih sempurna dari Laporan Tugas Akhir. Bisa dinamakan hasilnya nanti "Laporan Tugas Akhir yang sempurna". Laporan yang belum diperbaiki setelah sidang berakibat ijazah belum bisa diambil. Loh kemarin wisuda itu menerima apa? Surat Keterangan Lulus dan cengar-cengir sudah wisuda serta bisa memakai titel sarjana. Jika diteruskan kembali, sudah punya titel sarjana terus mana pembuktian untuk berubah status? Ayo kembali semangat, Para Sahabat Pencari Ilmu. Perjuangan masih panjang.
Pihak yang dirugikan bila ijazah belum diambil:
1. Rental komputer, masih ada ga tuh filenya dan paling tidak yang sama dengan waktu sidang.
2. Fotocopy, masih ada ga tuh bekas copy sebelum sidang dan paling tidak masih ke arsip copy lama yang mau dibuang.
3. Petugas Administrasi Mahasiswa, masih kenal pernah jadi mahasiswa untuk bantu atau masih tersimpan ijazah pada tempatnya walau sudah berdebu, berwarna coklat tua buat tatakan meja yang miring.
4. Boss di kantor, merasa anak buahnya pernah sekolah tapi belum ada bukti ijazah kecuali boss ga pernah nganggep sekolah apa ga yang penting mau kerja disuruh2.
5. Orang tua, hampir mirip dengan boss di kantor ditambah keyakinan terhadap anaknya bener punya ijazah sarjana yang mo ditempel di dinding ruang tamu.
6. Istri/pacar, berharap ada peningkatan penghasilan dengan kenaikan pendidikan akan ada kenaikan jabatan yang mempengaruhi penghasilan dan status sosial.
7. Sahabat, mesti ngingetin terus karena tahu gimana tragisnya bila semua yang tertulis di atas terjadi.
"Everybody is a Genius. But If You Judge a Fish by Its Ability to Climb a Tree, It Will Live Its Whole Life Believing that It is Stupid" (Albert Einstein)