Rabu, 27 Agustus 2025

bagaimana sang Rosulullah mencari Tuhannya?

 Sejak kecil, Rosulullah, Nabi Muhammad ﷺ selalu merasa ada sesuatu yang lebih besar daripada kehidupan sehari-hari. Hatinya penuh rasa ingin tahu tentang Tuhan dan kebenaran hidup. Suatu hari, saat melihat matahari terbit dan bintang-bintang bersinar di langit malam, beliau merenung dan bertanya dalam hatinya, “Siapa yang mengatur semua ini?” Dari sinilah langkah pertama beliau: merenung tentang alam dan kehidupan, mencoba memahami kebesaran Sang Pencipta.

Beliau juga memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Banyak di antara mereka melakukan perbuatan yang salah dan menyesatkan. Nabi ﷺ tidak ingin hatinya ikut kotor, sehingga beliau mulai menjauh dari perbuatan buruk orang lain, menjaga hati tetap bersih agar bisa mencari kebenaran dengan jujur.

Setiap kali merasa butuh petunjuk, beliau menyendiri di Gua Hira. Di sana, jauh dari keramaian, beliau duduk sendiri, berpikir tentang kehidupan, tentang manusia, dan tentang Tuhan, sambil berdoa dalam diam. Inilah langkah ketiga: menyendiri untuk merenung dan berkomunikasi dengan Allah melalui doa.

Doa-doa beliau tidak hanya diucapkan, tetapi keluar dari hati yang tulus. Beliau selalu memohon petunjuk kepada Allah, agar diberikan arah yang benar dan tidak tersesat di jalan hidup. Hatinya yang bersih dan tulus inilah yang menjadi kunci langkah keempat.

Akhirnya, dari kesungguhan dan doa yang terus menerus, Allah menurunkan wahyu melalui Malaikat Jibril. Wahyu itu menjadi petunjuk yang sempurna, menjelaskan siapa Allah dan bagaimana manusia harus hidup. Dari perjalanan Nabi ﷺ, kita belajar bahwa mengenal Allah membutuhkan hati yang bersih, kesungguhan dalam merenung, doa yang tulus, dan kesabaran untuk menerima petunjuk-Nya.

Selasa, 26 Agustus 2025

Nusantara di Bawah Bayang-Bayang

Di pulau-pulau nusantara yang luas,

Berkumpul kerajaan, sultan, dan raja,

Masing-masing memimpin rakyatnya,

Dengan adat, agama, dan tanah leluhur.


Datang bangsa asing dari jauh,

Portugis, Spanyol, Belanda,

Bukan untuk menjajah negeri yang belum ada namanya,

Tapi untuk rempah, monopoli, dan kekuasaan perdagangan.


Konflik internal kerajaan pun merebak,

Hak waris, tahta, dan tradisi terancam,

Pangeran Diponegoro menolak jalan yang melewati makam leluhur,

Agama dan kehormatan menjadi tamengnya.


Bangsa asing datang sebagai penguasa nyata,

Mereka mencatat pajak, upah, dan kerja rakyat,

Raja tetap simbol, namun keputusan operasional ada di tangan kolonial,

Rakyat bingung, siapa pemimpin sejati mereka?


Bangsa bangga pada kehormatan elite,

“Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah,”

Namun rakyat menanggung kerja paksa, pajak berat, dan penderitaan,

Sementara harga diri raja dijaga dalam kompromi politik.


Sejarah Nusantara bukan sekadar angka dijajah,

Bukan hanya heroik, tetapi kompleks dan humanis,

Elite bertahan, rakyat menanggung beban,

Dan bangsa lahir dari perjuangan simbolik dan nyata,

Hingga akhirnya, pada hari kemerdekaan,

Indonesia berdiri, bersatu, merdeka, dan berdaulat.

Senin, 25 Agustus 2025

Memahami Sejarah Nusantara, Kolonialisme, dan Posisi Rakyat

Sejarah Nusantara sering disederhanakan menjadi narasi “Indonesia dijajah selama 350–365 tahun.” Namun, bila dicermati secara kritis, istilah “dijajah” tidak sepenuhnya tepat sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pada masa itu, konsep “Indonesia” sebagai bangsa belum ada. Nusantara merupakan kumpulan kerajaan dan kesultanan yang mandiri, masing-masing memiliki sistem pemerintahan, adat, dan rakyatnya sendiri. Kedatangan bangsa Eropa, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan pejabat kolonial seperti Herman Willem Daendels, awalnya lebih terkait dengan kepentingan perdagangan rempah dan politik kerajaan, bukan untuk menjajah Indonesia sebagai negara modern.

Kedatangan bangsa Eropa sering kali dimanfaatkan oleh kerajaan lokal untuk memenangkan konflik internal atau perebutan kekuasaan. Perselisihan keluarga, perebutan hak waris, hingga kebijakan pembangunan yang menyinggung tradisi menjadi pintu masuk dominasi asing. Contohnya, pembangunan jalan yang melewati makam leluhur di Jawa menjadi salah satu pemicu konflik bagi Pangeran Diponegoro. Dalam konteks ini, pengaruh asing tidak muncul dari awal sebagai kolonialisme langsung, tetapi sebagai intervensi eksternal yang memanfaatkan konflik internal kerajaan.

Perang Diponegoro (1825–1830) merupakan contoh nyata bagaimana konflik internal kerajaan bisa berkembang menjadi perlawanan besar terhadap kekuasaan kolonial. Pangeran Diponegoro, yang juga seorang ulama, awalnya berselisih dengan penguasa lokal terkait hak waris dan nilai-nilai agama. Belanda kemudian ikut campur untuk melindungi kepentingan ekonomi dan politiknya. Meski ada legenda romantis tentang asmara Diponegoro dengan gadis Belanda, bukti historis utama menekankan konflik keluarga dan politik. Hal ini menunjukkan bahwa perlawanan yang muncul bukan murni anti-kolonial, tetapi bersumber dari dilema internal kerajaan yang diperparah oleh intervensi asing.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa orang asing, meski datang sebagai pejabat perdagangan atau kolonial, disebut sebagai “pemerintah.” Raja dan sultan tetap memiliki legitimasi simbolik dan menjalankan operasional internal kerajaan—mengatur adat, ritual, dan sebagian ekonomi lokal—tetapi keputusan nyata tentang pajak, militer, dan hukum berada di tangan Belanda. Rakyat pun sering bingung: secara simbolik mereka punya raja, namun secara faktual, penguasa operasional nyata adalah kolonial. Inilah yang disebut dual power atau kekuasaan ganda, di mana rakyat hidup di bawah pengaruh penguasa simbolik sekaligus penguasa nyata.

Raja dan bangsawan, dalam menghadapi dominasi asing, sering mengambil strategi bertahan hidup. Mereka kompromi dengan kolonial untuk mempertahankan sisa kekuasaan, harta, dan legitimasi simbolik, serta melindungi rakyat sebisa mungkin. Strategi ini, meski penting untuk kelangsungan kerajaan, tidak selalu membuat mereka populer di mata rakyat. Rakyat, yang menanggung kerja paksa, pajak berat, dan tekanan sosial, sering merasa pemimpin mereka lebih memikirkan harga diri elite daripada kesejahteraan mereka. Peribahasa “Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah” lebih relevan bagi elite daripada rakyat, yang berada di posisi lemah.

Situasi ini menimbulkan ketegangan klasik antara kepentingan elite dan kesejahteraan rakyat. Strategi bertahan hidup raja tidak otomatis disukai rakyat, yang sering mengalami penderitaan sehari-hari akibat kebijakan kolonial dan kerja paksa. Meski raja tetap simbol budaya dan agama, banyak rakyat merasa terabaikan atau tertindas, sehingga sejarah sering menyampaikan gambaran heroik elite tanpa menampilkan penderitaan rakyat secara utuh.

Memahami sejarah Nusantara memerlukan pemahaman nuansa. “Indonesia dijajah” bisa dipahami sebagai narasi simbolik, tetapi secara faktual, yang terjadi adalah dominasi asing terhadap kerajaan-kerajaan lokal, dengan rakyat menjadi pihak yang paling menanggung beban. Konteks ini juga menjelaskan mengapa pejabat kolonial seperti Daendels disebut pemerintah, meski ada raja dan sultan: kontrol administratif dan militer nyata berada pada kolonial, sementara legitimasi simbolik tetap dipegang elite lokal. Memahami hal ini membantu kita melihat sejarah Nusantara tidak sekadar heroik atau patriotik, tetapi juga kompleks, penuh dilema, dan humanis.


Kamis, 21 Agustus 2025

inter-nation city

Penang City, Malaysia, may be considered small, but it has become a major reference point for hospital treatment. Yes, Penang is relatively small compared to other major Malaysian cities, but that is precisely what makes it unique. The city has developed into an international medical hub, with modern hospitals, highly experienced specialists, and professional yet more affordable services compared to those in many developed countries. It is no wonder that people from Indonesia, the Middle East, and even Europe choose Penang as a destination for medical care.

What else is noteworthy about this city? Perhaps the welcoming nature of its people. Most residents speak Malay as it is Malaysia’s mother tongue. Yet, if you use another language, such as English, locals will respond just as easily. Chinese communities, with their various dialects, can also communicate readily. Could this be because of the demands of the service and trade sectors, which require strong communication skills to serve diverse clients?

The multilingual ability of Penang’s residents actually stems from socio-economic needs. For centuries, Penang has been a port and trading hub, where people regularly interacted with diverse ethnicities and nations. From this, a flexible linguistic culture emerged—Malay as the national identity, English for global communication, and Chinese or Tamil dialects to strengthen community ties. This is what makes Penang’s people appear so friendly and adaptable in serving visitors from all walks of life.

Beyond trade and services, this diversity is also rooted in Penang’s long history as a meeting point for different nations since the colonial era. Once a British colony, Penang still carries the legacy of English in administration, education, and law. In addition, large-scale migration of Chinese, Indian, and other communities since the 18th century helped shape a pluralistic society. This is how Penang’s cosmopolitan identity was formed—not only because of economic necessity, but also through a history that brought together diverse ethnic groups to coexist.

In Malaysia, the term pribumi generally refers to Bumiputera—the Malay ethnic group and other indigenous peoples (such as the Orang Asli in Peninsular Malaysia and various ethnic groups in Sabah and Sarawak). In Penang, the Malay community continues to play a significant role, especially in religious life, traditions, and politics. However, because Penang is more cosmopolitan than many other Malaysian cities, the distinction between “pribumi” and “non-pribumi” is less visible in everyday life. Instead, local culture stands out more clearly: old Malay mosques, traditional villages, and signature dishes like nasi kandar or Penang laksa, rooted in Malay tradition yet enriched with Indian and Chinese influences.

I experienced this firsthand when I was about to board a shuttle bus. The attendant could easily connect with different customers and continued to communicate seamlessly with colleagues and travel agencies. It felt as though there was no pause in their thinking. How did they learn to do that? Or was it simply adaptation?

That, indeed, is fascinating. Their ability to communicate effortlessly is more a matter of adaptation than formal learning. Penangites grow up in multilingual environments: at home they might speak Malay or a Chinese dialect, at school they use English, and in the marketplace or business settings, they switch languages depending on who they are speaking to. Over time, this makes language-switching almost automatic—a kind of reflex. What seems natural to them is, in fact, a powerful skill shaped by daily life.

This language adaptability has become one of Penang’s competitive advantages as a truly international city. By bridging languages, Penangites create a sense of comfort for anyone who visits, whether for healthcare, tourism, or business. This sense of connection makes foreigners feel valued, more at home, and willing to spend. In this way, language functions not only as a tool of communication but also as an economic asset, strengthening Penang’s position as a city of nations.

A simple example—but one that says so much.

kota antar bangsa

 Kota Penang - Malaysia bisa disebut kota kecil namun menjadi rujukan untuk berobat di rumah sakit di sana. Ya, Kota Penang memang relatif kecil dibandingkan kota besar lain di Malaysia, tapi justru itu yang membuatnya istimewa. Kota ini berkembang sebagai pusat medis internasional, dengan rumah sakit modern, dokter spesialis berpengalaman, serta layanan yang profesional namun lebih terjangkau dibanding negara maju lain. Tak heran, banyak orang dari Indonesia, Timur Tengah, hingga Eropa memilih Penang sebagai tujuan berobat.

Apa yang bisa diambil perhatian lebih dari hal itu? Apakah dari penerimaan masyarakatnya? Umumnya berbahasa melayu karena sebagai bahasa ibu negeri Malaysia. Jika menggunakan bahasa lainnya, misalnya Inggris, masyarakatnya akan mudah menjawab. Cina dengan berbagai dialek, bisa. Apakah karena tuntutan perdagangan jasa yang harus bisa berkomunikasi untuk melayani?

Kemampuan masyarakat Penang menggunakan banyak bahasa sebenarnya lahir dari kebutuhan sosial-ekonomi. Karena sejak lama Penang menjadi pelabuhan dan persinggahan perdagangan antar bangsa, warganya terbiasa berinteraksi dengan berbagai etnis dan bangsa. Dari situ tumbuh budaya bahasa yang lentur—bahasa Melayu sebagai identitas nasional, Inggris untuk komunikasi global, dan dialek Cina atau Tamil untuk mengikat komunitas tertentu. Inilah yang membuat masyarakat Penang tampak ramah sekaligus adaptif dalam melayani siapa saja yang datang.

Selain karena alasan perdagangan dan kebutuhan jasa, keberagaman itu juga muncul dari sejarah panjang Penang sebagai tempat pertemuan berbagai bangsa sejak era kolonial. Pulau ini pernah menjadi koloni Inggris, sehingga warisan administrasi, pendidikan, dan hukum berbahasa Inggris masih kuat. Di sisi lain, migrasi besar-besaran orang Tionghoa, India, dan bangsa lain sejak abad ke-18 juga membentuk pola masyarakat majemuk. Dari sanalah lahir identitas Penang yang kosmopolitan—bukan hanya karena kebutuhan ekonomi, tapi juga karena sejarah yang menempatkan beragam etnis hidup berdampingan.

Di Malaysia, istilah “pribumi” biasanya merujuk pada Bumiputera — yakni kelompok etnis Melayu dan penduduk asli lainnya (seperti Orang Asli di Semenanjung dan berbagai etnis di Sabah-Sarawak). Di Penang sendiri, masyarakat Melayu tetap hadir dan punya peran penting, terutama dalam kehidupan beragama, tradisi, dan politik. Namun karena Penang lebih kosmopolitan dibanding kota lain di Malaysia, nuansa “pribumi” dan “non-pribumi” tidak terlalu kentara dalam kehidupan sehari-hari. Identitasnya lebih terasa pada budaya lokal: masjid tua Melayu, kampung-kampung tradisional, hingga makanan khas seperti nasi kandar atau laksa Penang yang kuat dengan akar Melayu, tapi tetap bercampur dengan pengaruh India dan Cina.

Saya merasakan ketika ingin naik travel. Si pelayan bisa nyambung berkomunikasi dengan ringannya dengan pelanggan yang berbeda dan terus berkomunikasi antar usaha sebagai travel. Seperti tidak ada jeda mikirnya. Bagaimana ya mereka bisa belajar seperti itu? Atau ini adaptasi?

Itu menarik sekali. Kemampuan mereka berkomunikasi tanpa jeda itu lebih condong ke hasil adaptasi. Masyarakat Penang sejak kecil sudah terbiasa hidup di lingkungan multibahasa. Di rumah bisa berbahasa Melayu atau dialek Cina, di sekolah ada bahasa Inggris, sementara di pasar atau dunia usaha mereka harus berganti bahasa sesuai lawan bicara. Proses ini membuat otak mereka otomatis “switching” bahasa, seolah seperti refleks. Jadi bukan sekadar hasil belajar formal, tapi keterampilan hidup sehari-hari yang akhirnya jadi keunggulan ketika melayani wisatawan atau pelanggan dari berbagai negara.

Keterampilan adaptasi bahasa ini juga bisa jadi salah satu modal daya saing Penang sebagai kota antar bangsa. Dengan kemampuan adaptasi bahasa, masyarakat Penang bisa menciptakan rasa nyaman bagi siapa saja yang datang, entah untuk berobat, berwisata, atau berbisnis. Rasa “nyambung” dalam komunikasi membuat orang asing merasa dihargai, sehingga mereka lebih betah dan rela membelanjakan uangnya. Inilah yang menjadikan bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga modal ekonomi yang memperkuat posisi Penang sebagai kota antar bangsa.

Contoh yang mudah dilakukan. Mau?



Rabu, 20 Agustus 2025

bantuan bukan sekedar santuan: belajar berusaha

Pagi itu, rumah terasa hangat dengan suasana santai namun serius. Di tengah aktivitas pagi, percakapan mengalir membahas bantuan dana pemerintah untuk UMKM. Obrolan yang ringan namun penuh makna ini menyingkap bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi bantuan: bukan sekadar menerima, tapi juga belajar, bertanggung jawab, dan menumbuhkan semangat kerja yang nyata.

 (Abah Uwi menarik dahinya melihat Bagas berlari terburu-buru mendekat)

“Enek opo? Ojo mlayu. Kesandung malah ga iso cerito ki.”

(Bagas berhenti sejenak, napas ngos-ngosan, tangan menepuk-nepuk paha sambil tersenyum kikuk)
“Hehehe… Alah, Bah… aku mung buru-buru, takut terlambat nyiapke dokumen bantuan dana sing baru teko saka pemerintah. Lha, terus aku kepikiran, nek kesandung, malah repot dhewe, hehe.”

(menarik napas, menatap Abah Uwi dengan serius tapi santai)
“Bah, piye menurutmu… bantuan iki kudu dipakai kabeh kanggo UMKM, utawa sebagian disisihkan kanggo persiapan laporan pertanggungjawaban? Wong aku mikir yen salah sedikit, laporan bakal ruwet.”

(senyum tipis, sambil ngusap keringat di jidat)
“Eh, Bah… njenengan wis ndelok aturan anyar pemerintah soal dana bantuan iki? Aku rada mumet, akeh syarat lan ketentuan.”

(Abah Uwi makin menarik dahinya)

“Dana soko pemerintah opo? Kok ngerti enek berita kui? Darimana? Hati-hati loh… opo jenenge. Hoax. Mesti paham disek asal berita dan dikonfirmasi ke pihak yang bisa dipercaya. Misale iki ya ke Pak RT. Piye?”

(Bagas mengangguk cepat, tangan digesek-gesek di paha, suara sedikit ragu tapi serius)
“Iya, Bah… aku paham. Jenenge bantuan iki 'Dana Usaha Mikro Kreatif' sing diwenehake pemerintah daerah kanggo UMKM. Wong aku ndelok info iki saka papan pengumuman resmi kantor kecamatan, lan tak konfirmasi karo Pak RT. Jadi ora sembarangan hoax, Bah.”

(mencondongkan badan, menatap Abah Uwi, senyum tipis tapi waspada)
“Nek menurut Abah, piye sebaiknya langkah pertama sing kudu ditindakake supaya bantuan iki bisa diterima UMKM tanpa masalah laporan?”

(tangan Bagas mengusap jidat, nada agak pelan)
“Soale nek salah langkah, bisa ribet urusan administratif, Bah…”

(Abah Uwi tersenyum tipis)

“Awakmu wes lihat tanggale, tahunne? Iku info lawas. Bantuan pemerintah untuk UMKM itu saat pandemi Covid 19. Ngerti artine opo pemerintah kasih bantuan kui?”

(Bagas mengangguk pelan, menunduk sebentar, lalu menatap Abah Uwi dengan serius)
“Iya, Bah… aku ngerti, maksudnya pemerintah kepengin bantu masyarakat sing kena dampak ekonomi pandemi. Supaya UMKM iso bertahan, iso terus produksi, lan warga tetep nduwe penghasilan. Wong aku yo mikir nek dana iki kanggo nyengkuyung usaha cilik, ora mung kanggo sementara, tapi kanggo keberlanjutan UMKM.”

(menarik napas, suara agak rendah tapi tegas)
“Bah, nek menurut Abah, wong UMKM saiki iso sinau saka bantuan iki cara ngatur usaha sing bener, lan ngerti tanggung jawab laporan sing cetha, ya?”

(melirik sebentar ke Abah Uwi, senyum tipis tapi antusias)
“Soale nek salah langkah, bisa kebingungan, lan manfaat bantuan malah ora maksimal.”

“Ya, Betul. UMKM saiki iso sinau saka pandemi kui. Cara ngatur usaha sing bener, lan ngerti tanggung jawab laporan sing cetha yen enthu bantuan soko pemerintah. Pemerintah iso ngasih bantuan kalau negara dalam keadaan bencana seperti saat pandemi. Awakmu mau ngerasake sebagai korban bencana?”

“Pemerintah tentunya wes mikir bagaimana mengayomi rakyate. Nah, kita sebagai rakyat. Masyarakat UMKM mesti ngerti juga bahwa usaha iku mesti tenanan. Gak mung nyadong, minta bantuan tho. Semangat. Gelem melu pelatihan usaha dari pemerintah. Tenanan melu yo ojo ingin entuk sangu thok. Mengkopun iso ngajari liyane.”

“Opo iki sek gelem njaluk bantuan?”

(Bagas mengangguk cepat, tangan digenggam di pangkuan, suara penuh semangat tapi rendah)
“Iya, Bah… aku ngerti maksud njenengan. Wong bantuan iku dudu sekadar santunan, tapi kesempatan kanggo belajar, ngembangke usaha, lan tanggung jawab. Nek UMKM gelem serius, mesthi iso manfaatake bantuan iki kanggo ningkatake kualitas usaha.”

(mencondongkan badan, pandangan serius tapi lembut ke Abah Uwi)
“Bah, nek menurutku, wong sing gelem njaluk bantuan yo kudu siap: melu pelatihan, nggawe laporan, lan ngajari kanca liyane. Wong bantuan iki ya ora mung dikasih, tapi kudu dipake kanthi tanggung jawab. Ben iso terus ngembang lan iso ngajari liyane sing durung ngerti.”

(menarik napas panjang, tersenyum tipis)
“Soale nek cuma nyadong, mung mikir sangu, ora bakal iso maju, Bah. Semangat lan keseriusan yo kunci.”

Kamis, 07 Agustus 2025

Catatan Musim di Tepi Sungai Swan: Sepi yang Penuh Suara

Langit Perth pagi itu nyaris tanpa awan, hanya semburat putih tipis yang mengambang, membiarkan matahari musim dingin menumpahkan cahayanya perlahan ke permukaan Sungai Swan. Tidak menyilaukan, tidak menghangatkan, namun cukup untuk menyadarkan: inilah musim dingin di Australia Barat—dingin yang sunyi, tetapi hidup.

Di tepian Swan River, taman-taman membentang tenang. Jalur pejalan kaki yang rapi melengkung lembut mengikuti kontur sungai, mengajak setiap kaki untuk melambat, mengamati, dan barangkali merenung. Di sela-sela bebatuan dan semak rendah, tumbuh tanaman-tanaman khas iklim sedang, banyak di antaranya adalah spesies yang terbiasa hidup di dataran tinggi. Daunnya menyerupai jarum—kecil, ramping, dan bersisik halus. Warna hijau pucatnya nyaris memudar ke arah keperakan, seolah ingin menyatu dengan langit musim dingin yang murung.

Jenis vegetasi ini bukan kebetulan. Australia Barat memiliki ekosistem unik yang sangat adaptif terhadap suhu ekstrem dan curah hujan yang rendah. Tanaman semacam Grevillea, Melaleuca, dan Banksia lazim ditemukan di sini, yang juga tumbuh di dataran tinggi Pegunungan Stirling atau bahkan di bagian selatan benua ini. Batangnya keras, seperti kayu tua, menandakan perjuangan panjang terhadap tanah tandus dan angin garang.

Suhu saat itu tak lebih dari 17 derajat Celsius. Musim dingin sedang memuncak, meski di kalender lokal, bulan Juni masih dianggap awal. Masyarakat Perth yang lalu-lalang di jalur taman tampak sudah terbiasa. Mereka mengenakan jaket tebal, topi rajut, syal, dan sepatu tertutup. Jarang terlihat yang memakai sandal, apalagi kaki terbuka. Angin dari sungai menampar halus namun gigih, membuat setiap helaan napas seolah ingin menetap lebih lama di paru-paru.

Tapi bukan keheningan yang menjadi musik latar taman ini. Melainkan kicauan burung liar, yang datang dari segala arah. Ukurannya besar, suaranya ramai—seperti pasar burung yang dibuka alam sendiri. Burung kookaburra, magpie, dan lorikeet adalah penghuninya, sebagian tampak berani bertengger di tiang atau semak rendah. Mereka bukan hanya penghias latar, tetapi suara yang memberi napas pada ruang hening. Satu-dua kali, burung melintas rendah di atas sungai, menyisakan bayangan lembut di air jernih yang bergerak lambat.

Swan River, yang membelah kota Perth seperti urat nadi purba, berkilau tenang pagi itu. Permukaannya luas dan bersih, nyaris tidak beriak. Sungai ini adalah simbol dari keseimbangan antara kota dan alam, modernitas dan konservasi. Tidak ada aroma polusi, tidak ada suara mesin bising—hanya perahu kecil sesekali melintas, menggores permukaan seperti kuas di atas kanvas dingin.

Sebagian orang mungkin menganggap matahari di musim dingin sebagai hadiah yang tak sepenuhnya berguna. Tapi bagi saya, setiap sinar yang jatuh di wajah adalah pengingat hangat bahwa kita masih hidup, masih bergerak, masih merasakan. Tidak panas memang, tapi cukup untuk disyukuri. Dalam suhu seperti ini, hangat bukan lagi soal fisik, melainkan soal rasa.

Dan di taman ini, di tepi sungai tua yang menjadi saksi musim demi musim, saya merasa telah menemukan satu jenis kesunyian yang anehnya penuh suara: suara dedaunan, suara kaki yang menyentuh tanah becek, dan tentu saja, suara burung yang seperti enggan diam.

Swan River, 17 Juni 2025

Rabu, 06 Agustus 2025

Menyeberangi Garis Musim: Sebuah Awal dari Negeri Selatan

Saat mendarat di Perth, kota metropolitan paling barat di benua Australia, yang pertama kali saya sadari bukanlah hawa dingin atau aksen bahasa Inggris yang pekat, melainkan perasaan sunyi yang sangat tertib. Langit biru terbuka lebar, udara bersih, dan semua orang tampak tahu ke mana mereka pergi. Tidak tergesa, tapi pasti. Di sinilah, saya memulai sebuah perjalanan melintasi batas fisik dan budaya—masuk ke dalam dunia yang beroperasi dengan logika dan nilai-nilai berbeda dari negeri asal saya.

Rencana awal saya adalah turun di Stasiun Claisebrook atau McIver, dua nama yang tampak logis secara peta karena lebih dekat ke hotel tujuan. Tapi petugas di Stasiun Bandara Internasional Perth menyarankan agar saya turun di Stasiun Perth saja. Alasannya sederhana: “lebih ramai dan aman.” Saya baru menyadari kemudian bahwa kedua stasiun sebelumnya hanyalah stasiun kecil, yang secara fungsi lebih mirip halte bus di tengah pemukiman—tanpa petugas, tanpa keramaian, dan mungkin membingungkan bagi seorang pendatang.

Menuruni tangga Stasiun Perth yang ringkas dan tidak tinggi, saya mendapati suasana yang—secara aneh—mengingatkan saya pada Jalan Sudirman di Jakarta. Bukan karena bentuk fisiknya, melainkan karena di sana pun banyak kantor, banyak orang asing, dan tentu saja, bahasa Inggris mengalir sebagai bahasa kerja dan budaya profesional. Hanya saja, di Jakarta, semua itu terasa sebagai "bagian dari globalisasi", sesuatu yang menumpang lewat jendela ekonomi. Sementara di sini, di negara berbahasa Inggris yang bukan Eropa, semuanya adalah bahasa ibu. Ini bukan "representasi dunia luar"; ini adalah rumah mereka.

Kesadaran sebagai orang luar muncul dari hal-hal sederhana. Ketika saya mengucapkan “thank you” kepada sopir bus sebelum turun, suara saya terasa berat dan kikuk di telinga sendiri—sebuah isyarat kecil bahwa saya masih menyesuaikan lidah. Ketika petugas hotel mengetuk pintu dan, dengan bahasa cepat namun sopan, menyampaikan niat membersihkan kamar dan mengganti handuk serta air minum, saya hanya bisa menjawab pendek: “Yes,” lalu kembali mengulang: “Thank you.” Tindakan kecil ini bukan sekadar sopan santun. Di negeri asing, ia berubah menjadi semacam ritual adaptasi, penanda bahwa saya sedang belajar merawat perasaan saling hormat dalam sistem budaya yang tidak saya bangun.

Australia—dan Perth secara khusus—adalah tempat yang menarik karena secara geografis dekat dengan Asia, namun sosial-budayanya sangat bercorak Eropa. Secara antropologis, kota ini adalah contoh khas dari masyarakat migran yang berhasil menyatukan struktur Eropa dengan kedekatan geografis Asia-Pasifik. Warga lokalnya beragam, namun sistem tetap berjalan dengan nilai-nilai dominan: efisiensi, kerapian, dan penghormatan terhadap privasi. Bahasa Inggris menjadi alat utama komunikasi, dan bagi pendatang, ini adalah ujian pertama untuk bertahan atau sekadar berbaur.

Hidup di negeri seperti ini, terutama bagi yang ingin bekerja, belajar, atau bahkan menetap bersama keluarga, memerlukan lebih dari sekadar dokumen dan perencanaan ekonomi. Ia memerlukan kesiapan budaya: menerima kesendirian yang tidak selalu menyedihkan, belajar membaca kebiasaan yang tidak tertulis, dan yang paling penting—menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri. Hal ini bisa tampak sepele saat kita melihat anak-anak sekolah berjalan di pagi hari mengenakan jaket tebal dan sepatu bot, atau ketika pasangan lansia menikmati kopi pagi di tepi Swan River, tapi di balik semua itu ada kesadaran hidup yang tertanam dan diwariskan.

Satu hal yang pelan-pelan saya sadari: untuk merasa nyaman di negeri orang, bukan berarti kita harus menjadi seperti mereka. Yang lebih penting adalah memahami struktur sosialnya, menghormatinya, dan menemukan ruang kita di dalamnya. Di Perth, hal itu memungkinkan, karena kotanya memberi ruang untuk pelan-pelan belajar. Mulai dari transportasi publik yang ramah pengguna, hingga kehadiran taman kota yang bukan sekadar pelengkap estetika, tetapi ruang sosial terbuka bagi setiap kelas dan latar belakang budaya.

Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah negeri ini bisa menjadi rumah, melainkan apa yang harus kita lakukan agar diri kita layak tinggal di dalamnya. Dunia tidak akan berubah agar cocok dengan kita. Tapi kita bisa memilih untuk menyesuaikan—tanpa kehilangan nilai diri. Seperti kata orang bijak: berjalanlah ke negeri orang, bukan untuk menjadi seperti mereka, tapi untuk memahami dunia dengan lebih utuh.

Jumat, 01 Agustus 2025

Tsunami - Gelombang Ketakutan

Gempa berkekuatan 8,8 skala Richter melanda Semenanjung Kamchatka Rusia pada Selasa malam (29 Juli 2025), memicu peringatan tsunami hingga ke Chili. Keganasan gempa ini menjadikannya salah satu gempa terbesar dalam sejarah, tetapi keadaannya bisa saja jauh lebih buruk; belum ada laporan korban jiwa sejauh ini. Tsunami-tsunami berikutnya—yang tingginya mencapai 3 meter di beberapa tempat—menyebabkan kerusakan yang jauh lebih ringan dibandingkan tsunami-tsunami lain yang pernah terjadi, seperti tsunami Jepang tahun 2011 atau tsunami Samudra Hindia tahun 2004. (Sumber: Britannica, 31 Juli 2025)

Dalam sains, tsunami didefinisikan sebagai serangkaian gelombang laut dahsyat yang biasanya disebabkan oleh gangguan berskala besar, paling sering berupa gempa bumi di dasar laut. Gelombang ini dicirikan oleh panjang gelombang dan periode yang sangat panjang, dan merambat melalui seluruh kolom air, tidak seperti gelombang yang digerakkan oleh angin. Istilah "tsunami" berasal dari bahasa Jepang, yang berarti "gelombang pelabuhan". (Sumber: National Ocean and Atmospheric Administration, 25 Februari 2025)

Tsunami Aceh terdapat dalam catatan bencana tsunami di Indonesia dengan bencana alam dahsyat yang melanda pesisir Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Gempa bumi berkekuatan 9.3 skala Richter yang berpusat di Samudra Hindia memicu gelombang tsunami setinggi 30 meter yang menghancurkan wilayah pesisir dan menewaskan lebih dari 230.000 orang di beberapa negara, termasuk Indonesia menewaskan lebih dari 170.000 orang.

Mungkin tidak selalu ada waktu untuk menunggu peringatan tsunami resmi. Peringatan tsunami alami bisa menjadi peringatan pertama, terbaik, atau satu-satunya bahwa tsunami sedang mendekat . Peringatan tsunami alami meliputi gempa bumi yang kuat atau berkepanjangan, suara gemuruh keras (seperti kereta api atau pesawat) dari laut, dan perilaku laut yang tidak biasa.

Sistem Peringatan Dini (Early Warning System, EWS) merupakan salah satu pendekatan utama dalam pengelolaan risiko bencana yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari bencana alam terhadap kehidupan manusia dan aset penting lainnya. Atas kelebihan alat ini, peringatan akan bahayanya tsunami tetap diwaspadai bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang pesisir laut. Bisa tetap selalu waspada akan gejala yang bisa terjadi tiba-tiba.