Aceh pada awalnya bukan sekadar sebuah suku seperti yang banyak dipahami sekarang, melainkan merupakan sebuah kerajaan besar Islam yang memainkan peranan penting dalam sejarah Asia Tenggara. Dalam catatan sejarah, Aceh bahkan termasuk dalam lima kerajaan Islam terbesar di dunia pada abad ke-16 dan ke-17, sejajar dengan Turki Usmani, Bani Fatimiyah di Maroko-Mesir, Safawiyah di Persia, dan Mughal di India.
Kerajaan Aceh Darussalam kala itu merupakan pusat kekuasaan yang terdiri dari berbagai etnis, bukan hanya orang Aceh seperti yang kita kenal saat ini. Para sultan yang memerintah datang dari berbagai latar belakang, termasuk dari Perak, Pahang, dan Padang. Ini menunjukkan bahwa Aceh lebih merupakan pusat peradaban daripada milik satu etnis tertentu. Bahasa pengantar yang digunakan bukan bahasa Aceh, melainkan bahasa Melayu, yang kala itu telah diarabkan dan digunakan sebagai bahasa ilmu dan agama Islam.
Peran penting Aceh dalam menyebarkan bahasa Melayu sebagai bahasa Islam terlihat dalam karya-karya seperti *Hikayat Raja-Raja Pasai* dan tafsir-tafsir yang ditulis dalam Melayu Jawi. Bahasa Aceh sendiri baru menjadi bahasa tulisan dan identitas sekitar abad ke-19, ketika Aceh mulai melemah dalam peta politik internasional.
Menariknya, bahasa Aceh menyerap banyak pengaruh, termasuk dari bahasa Campa, yang masuk ke Aceh setelah kerajaan Campa dihancurkan oleh Cina pada abad ke-14. Akibatnya, banyak kosa kata Aceh yang mirip dengan bahasa Campa, termasuk dalam nama makanan dan istilah sehari-hari.
Kelemahan Aceh di kancah internasional membuat sebagian wilayah kerajaan ini jatuh ke tangan Inggris dan Belanda. Di Semenanjung Malaya, wilayah seperti Perak yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Aceh, akhirnya tunduk kepada Inggris. Begitu juga wilayah barat Sumatera seperti Padang, yang sebelumnya merupakan bagian dari kerajaan Aceh, jatuh ke tangan Belanda setelah perjanjian Painan. Tokoh-tokoh pejuang seperti Datuk Mahkadum Sakti, kakek dari Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, merupakan bagian dari perlawanan terhadap kolonialisme yang berakar dari sejarah ini.
Dalam identitas kulturalnya, Aceh merupakan melting pot dari berbagai suku dan budaya. Dulu dikenal adanya empat kelompok etnis utama: suku Lerto, suku 300 (pasukan awal Sultan Johansyah), suku Jasandang (dari India), dan suku Tok Bate. Yang menyatukan mereka bukanlah darah atau bahasa, melainkan Islam sebagai identitas bersama. Oleh karena itu, Islam di Aceh bersifat moderat dan adaptif terhadap berbagai latar belakang.
Namun, masalah muncul ketika identitas Islam dijadikan alat politik. Ketika semangat pemersatu Islam melemah, identitas Aceh pun ikut memudar. Maka dari itu, memahami Aceh sebagai entitas historis dan kultural yang lebih luas daripada sekadar etnis adalah kunci untuk memahami dinamika Aceh hari ini.
