Jadi gini wir, ga sedikit orang di tengah perjalanan usahanya merasakan kegalauan luar biasa. Apakah usaha ini masih layak kulanjutkan? Kuperjuangkan sampai titik darah penghabisan seperti cintaku padamu?? Eaaa...
Kegalauan ini muncul bisa jadi disebabkan banyak faktor gaes. Bisa jadi karena omzet yang stagnan, permintaan pasar yang tidak stabil bahkan merosot.
Hal ini juga sempat saya rasakan ketika memutuskan pindah domisili di Klaten. FYI, sebelumnya saya di Kudus dengan usaha souvenir bantal yang sudah cukup mapan.
Kondisi budaya dan daya beli masyarakat di Klaten yang berbanding jauh dari Kudus, membuat saya oleng gaes. Perjalanan usaha di Klaten sangat tidak mulus. Hiks, sedih ya.. Sempat mau berhenti, alih usaha aja. Dagang cilok, yang jelas ada pemasukan tiap hari meski kudu banting tulang sampai remuk.
Kebetulan, saya mendapatkan undangan untuk mengikuti seminar tentang Studi Kelayakan Usaha di Boyolali akhir Juni kemarin.
Saya percaya, tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Semua karena ada hukum tarik-menarik. Karena Allah menganggap saat ini saya butuh materi ini, Allah kasihlah kesempatan. Sebenarnya pada saat mendaftarkan diri di awal tahun kemarin ada beberapa opsi materi seminar. Entah, kok tiba-tiba saya memilih tentang Studi Kelayakan Usaha.
Nah, singkat cerita nih ya wir. Di kesempatan tersebut, saya bertemu dengan Mas Hanif. Dia pengisi materi di seminar ini. Pengusaha dari Pemalang ini yang akhirnya membuat saya tertampar dengan kenyataan yang saya hadapi. Welah, hiperbola banget ya.
Di tengah seminar, mas Hanif bertanya, apa usaha saya layak diperjuangkan? Saya bilang iya dong, tetep harus optimis. Padahal terbersit rasa pesimis.
Kemudian mas Hanif melanjutkan. Buktinya apa?? Nah ini.. Saya melongo ga bisa jawab gaes.
Akhirnya mas Hanif mengajar saya dan seisi kelas untuk berpikir. Dia mengajak untuk membenahi pola pikir saya yang sebelumnya ruwet, tidak berpola. Karena tidak berpola inilah, tidak ada rencana, tidak ada target yang jelas. Sepertinya usaha yang saya jalankan selama ini jadi nggak jeluntrung arahnya.
Di kelas ini saya dan teman-teman diajari untuk mencoba menghitung, modal usaha kami berapa. Segmen pasar siapa, target penjualan berapa, positioning kita dibanding kompetitor seperti apa.
Dia mencontohkan, usaha daster. Jika di Indonesia jumlah ibu-ibu ada 50 juta. Kita ambil satu persen aja untuk jadi sasaran market kita. Kita fokuskan ke 500.000 orang aja. Bisa booom penjualan kita.
Nah, begitu pulang dari seminar. Alhamdulillah saya dapat order souvenir bantal dari Kudus sebanyak 200pcs dengan nominal harga 20.000/pcs. Jika dijumlah totalnya 4 juta rupiah.
Saya hitung lagi modal untuk produksi 200 bantal tersebut. Untuk modal bahan dan biaya operasional menghabiskan 2,5 juta. Keuntungan bersih 1,5 juta wir.
Saya jadi mulai berpikir dengan pola. Setiap hari pasti ada yang memiliki acara spesial seperti ulang tahun, lahiran yang bisa jadi membutuhkan produk souvenir bantal saya. Jika saya targetkan 10 orang saja pemesan dalam sebulan dengan nominal yang kurang lebih sama, 4 juta rupiah. Omzet sebulan sudah bisa mencapai 40 juta. Dengan laba bersih bisa mencapai 15 juta. Ih, ngeri merinding saya membayangkannya wir.
Sudah gitu, ketika saya membuat produk sebaik mungkin. Kualitas saya jaga bener, dari 200 penerima souvenir bisa jadi ada 2 orang yang bakal kepingin dengan produk saya. Gila nggak tuh.
Dari sini, saya mulai mengajukan proposal ke Allah. Sementara ini, 10 orang aja dulu deh sebulan.
Tinggal ini PRnya untuk semakin digas untuk promosi di sosmed dan rencanakan strategi yang lebih jelas biar nggak ambyar.
Sumber: @dearbeesouvenir - Kudus - 202405