Kamis, 22 November 2012

ketika harus memilih

Sore itu, kebetulan bisa pulang cepat dari biasanya. Alhamdulillah ini memang rizki, ya namamya mo ketemu kekasih hehe... Bersamaan dengan seorang teman menuju stasiun kereta api. Ku pikir masih terlalu lama untuk menunggu pukul 21.30, kereta terakhir, Kereta Tawang Jaya yang akan membawaku ke Semarang. Waktu menunjukkan jam 16.00 wuiii....lama kan. Temanku menyarankan itu ada kereta yang seharusnya sudah berangkat karena delay jadi tertunda. "Segera beli tiket walau berdiri, terpenting segera berangkat daripada menunggu sampai malam". Berpikir, bagaimana ini harus cepat diputuskan, dan posisi sudah ikut mengantri. Keputusan tetap.....membeli karcis saat itu. Alhamdulillah masih mendapat kursi.


Hidup adalah keputusan diri sendiri. Arah tujuan adalah diri sendiri yang menentukan. Keputusan adalah takdir yang telah dipilih, haruslah disyukuri. Tidak lagi ada perkataan tidak karena ketika memutuskan itu sudah menjadikan rizki untuk melangkah. Jika harus menunggu sampai malam, tentu cerita indah seperti dibayangkan tidak akan terjadi. Setiap keputusan ada konsekuensinya, walau saat itu harus membayar tiket lebih mahal. Waktu sudah dibayarkan tunai dengan kebahagiaan yang diterima dari sekedar nominal yang sudah dikeluarkan.

Hehe...seneng bisa membayangkan yang indah walaupun perjalanan untuk mencapainya tidak bisa diceritakan dengan baris-baris kata yang terekam. Akan masih banyak lembaran-lembaran yang tidak akan  pernah habis untuk menerangkan akhir cerita indah itu. Sama seperti saat ini, pengharapan untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih baik. Sebenarnya untuk apa, sedang rizki bekerja sudah di tangan. Dan hendaknya saat ini fokus untuk mencari rizki, menghimpun harta dengan mendapatkan penghasilan lebih namun ini malah berpayah-payah untuk menghadapi ujian setiap tingkat. Lebih lagi harus membayar SPP dengan nilai tidak sedikit. Pilihan hidup.

Seminggu ini masih UTS, namun pikiran masih melayang dan ini malah hanyut membaca sebuah cerita di http://www.wattpad.com. Tentunya cerita romantis yang akhirnya terbawa untuk menyelesaikan segera. Banyak waktu terpakai daripada belajar, mengulang bahan kuliah hehe...

Cerita seorang gadis, memutuskan suatu langkah yang teramat beresiko dengan mempertaruhkan kehidupannya. Langkah yang diambil saat ini tentunya akan menjadikan batuan bagi langkahnya ke depan. Dia memutuskan untuk menikah dengan perjanjian waktu dari seorang ibu, atasannya dimana dia bekerja yang ingin melihat anak laki-lakinya hidup bahagia dan mengerti tentang keluarga.

Dua sisi kehidupan yang berbeda, Pemilik perusahaan besar dengan staf perusahaan itu yang dipandang bahwa dia ada pun tidak. Belum lagi diceritakan sisi kehidupan masing-masing yang berbeda. Ibu, atasan dari gadis itu sebagai jembatan yang akan merubah kehidupannya. Sepertinya tidak akan pernah terpikir pada saat akhir dari perjanjian waktu telah usai. Ini pernikahan dan bila bila sudah waktunya, ia pun bercerai dan status kehidupannya berbeda dengan saat ini. Harta, kekayaan yang ia pilih?? Pertanyaan yang mudah diucapkan karena memang itu yang ditawarkan. Bilapun seumur hidupnya mengabdi pada perusahaan itu tidak akan pernah mendapatkan dari sejumlah penghasilannya.

Menikah adalah suatu janji. Keputusan secara iklas untuk hidup bersama. Dua sisi pribadi yang berbeda, lingkungan yang berbeda dan yang jelas tidak akan pernah sama, ini harus disamakan. Menikah tidak hanya janji karena itu hanya ucapan. Menikah tetaplah hati yang berbicara. Walau keputusan itu bisa disebut gila bagi orang lain. Perbedaan yang harus disamakan. Syarat-syarat dari perjanjian bisa diucapkan dengan mulut untuk mengingkarkan arti pernikahan yang suci, namun kuasa Sang Khalik tentu dengan mudahnya membalikkan hati setiap hamba-Nya.

Kehampaan yang dirasakan dari keduanya menjadikan getaran-getaran yang aneh menyelusuri setiap sentuhan yang sengaja maupun tidak. Senyum simpul membacanya bersinar. Gadis itu jadi mencintai suaminya yang telah membawa seorang bidadari kecil, yang terasa jutek untuk dilihat karena playboy kelas wahid. Lak-laki itu pun merasa terpana oleh pandangannya, ia sudah mengalami masa pernikahan yang pada akhirnya hancur namun ini sepertinya ia kembali seperti tidak memiliki apa-apa untuk menarik hati gadisnya yang cuek, judes. Mereka jadi saling mencintai. Romantiskan???

Bagaimana membawa diri dari perjanjian pernikahan sementara dengan gelora hati untuk selalu bersama. Bagaimana membawa hati untuk tetap ingat dan konsisten dengan perjanjian pernikahan sementara sedang desiran darah yang mengalir begitu hangat dan cepat mengalir walau itu hanya satu titik yang tidak dapat dimengerti tetapi harus diterima. Baca deh di sini. Pernikahan tidak ada syarat karena memang saling mencintai. Perjanjian yang ada, hanya ada pada saat janji untuk hidup bersama, menikah, bukan perjanjian yang membawa hidup menjadi tidak akan bersama. Hidup ini indah untuk disyukuri. Keiklasan menerima, perbedaan itu untuk menyamakan langkah, harmonis kehidupan sepasang kekasih.

Sekarang kembali fokus menghadapi ujian sendiri. Ujian dari suasana kerja yang tidak jelas atau hanya diri sendiri saja yang menghadapinya tidak jelas, kehidupan bersama kekasih yang romantisnya terbatas, dan tentu untuk minggu ini ujian yang masih ada untuk fokus belajar. Ayo fokus deh!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar