Rabu, 27 Juni 2012

marhabaa jamiil

Ketika turun dari kereta api, yang kuingat aku harus menyusuri jalan persimpangan yang ke arah kota Kediri. Ditelusuri arah mesti ngerti jalan, jika tidak, persimpangan itu menjadi sangat jauh karena tukang2 becak depan stasiun akan menembak kita dengan harga yang tidak normal seakan kita tidak mengerti padahal jaraknya mungkin sekitar satu kilometer saja. Hmmm...pelajaran hidup bahwa mencari rezki itu keras....loh iklas ga sih...kalo gak iklas jalan aja hehe.... Berdiri menunggu bis ke arah Kediri yang melewati Papar bukan yang lewat jalur cepat, nah ini perlu ekstra sabar karena selain bisnya susah dan pastinya jika datang pasti penuhnya. Perjuangan hehe...bagaimana jika keseharian seperti itu....

Papar itu bukan batas akhir untuk jalan kaki sampai ke rumah, mesti melanjutkan kembali dengan angkutan ke arah Pasar Bogo (ayo bisa ga bacanya hehe...lidah melayu susah deh!!). Pasar Bogo tentu bukan pasar besar, bukan pasar Inpres (mudah2an sekarang sudah banyak perubahan ya). Ketika ku melihatnya dulu, saat itu duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas dan itu pertama kali setelah sekian tahun dari semenjak masuk sekolah baru melihatnya kembali kok....masih sama bentuknya. Mungkin itu tanda untuk bisa mengenal daerah garis keturunan hehe....keren kan. Ya memang ini tempat bapakku dilahirkan, tempat mbahku bertempat tinggal. Itu cerita saat itu dan sekarang....belum bisa lagi melihatnya...kapan ya??

Pasar Bogo dekat dengan rumah paklek dan jika ditanya dimana rumah paklek hehe ga tau!!! Lebih nyasarnya daripada jalan2 di dalam pasar itu padahal tidak pernah ke dalamnya hehe.... Pasar tradisional, di desa2 banyak terdapat pasar yang ramainya hanya pada saat pagi hari. Pagi itu batasya dari ba'da shubuh sampai .... ya jam sembilanan deh... Masih pagi kan tapi bila di desa itu sudah sepi sekali. Tetap ada penjual yang mempunyai kios2 besar yang berjualan sampai sore dan sorenya itu jam tigaan dan yang posisinya hanya yang di tepi jalan besar. Desaku... 

Cerita pasar Bogo sebagai patokan untuk melanjuti perjalanan. Saat ini sudah banyak pilihan, bisa ojek, becak atau dokar atau angkutan desa (angdes). Saat itu dan mungkin ketika ku nanti ke sana, ku pilih....jalan kaki menyusuri jalan di temani sawah2 yang membentang luas....Senengnya....masihkah??? Desaku lambat dalam perubahan dan tentunya masih....mudah2an. Banyak orang menoleh, bisa merasa aneh ada orang kota ke desa hehe...saudaranya siapa sih itu, kasian bener mesti jalan kaki, ga punya ongkos ya hehe.... eh anaknya siapa sih mungkin kenal....hehe....Mengikuti jalan aspal tidak seberapa panjang ya sekitar lima ratus meter. Beberapa langkah setelah melewati Pasar Bogo terdapat Kantor Kepala Desa Bogo (wuiii benerkah masih hapal!!). Setelahnya menyeberang jalan untuk masuk ke gang atau tetep bisa disebut jalan ke arah Dukuh Kedungsari. Jalan yang kulalui adalah jalan teristimewa. Jalan ini menapaki langkah2 darah keluargaku. Jalan yang menghubungkan dunia luar dan dalam, dunia beradab dan tidak beradab, dunia kesederhanaan dan kaya akan makna hidup. Jalan itu berpasir, berbatu. Ga akan becek ketika hujan, gak akan debel ketika becek, gak akan kotor bila basah. Jalan itu jalan mbah2ku yang menunjukkan pada bapakku untuk terbang tinggi di langit biru. Menemukan kekasih hatinya, ibuku dan terlahirlah.....aku. Jalan ini penuh dengan cita dan cinta, Jalan ini penuh dengan tetesan keringat, air mata, keluh kesah, kegembiraan, kenestapaan dan harapan.

Bertemu pertigaan, belok kanan, kemudian kanan lagi ketika bertemu pertigaan lagi. Jika sudah melihat SDN Kedungsari dan melihat jalan di sisinya, jalanilah. Sekolah itu adalah sekolah bapakku yang dinyatakan pengakuan bersekolah dari pemerintah karena selebihnya, bapakku masuk pesantren walau tidak tamat. Sekolah itu yang mengembangkan cita2 bapakku untuk kuat mengepakkan sayap dunia yang berbeda diluar alam sana hehe padahal itu alamku. Walaupun ijazah yang didambakan hilang ntah kemana, alhamdulillah, ibu pertiwi lebih berkenan menerima karena semangatnya daripada selembar ijazah. Apalagi itu ijazah sekolah dasar. Ibu Pertiwi lebih bangga kepada putra2 bangsanya yang mau membela tumpah darahnya, menjaga merah putihnya nusantara. Rizki bapakku....

Sepuluh meter dari arah sekolah terdapat jembatan kecil yang ditutupi rimbunan pohon2 bambu. Sangat rimbun sehingga sinar matahari sulit untuk masuk kedalamnya. Sangat rimbun sehingga udara sangat sejuk, sejuk yang melenakan udara desa. Jembatan itu kecil, pernah terbuat dari bambu, selanjutnya sudah terbangun dengan kokoh pondasi batuan berbeton. Masihkah sama.... Berjalan melalui tikungan akan bertemu pagar rumah yang mengelilingi halaman yang luas dengan rumah besar di tengahnya. Berdiri angkuh, sebagai rumah masyarakat, rumah pemimpin yang memberikan perlindungan bagi sekitarnya. Mbah2ku adalah guru ngaji dan banyak juga dari mereka juga seorang kepala dukuh, kepala dusun, atau kepala desa. Terakhir pakdeku, seorang Kamituwo, seorang kepala dusun, Dusun Kedungsari.

Masihkah kuingat rumah besar dengan halaman yang luas itu? Masihkah ku bisa ceritakan betapa arsitektur dari rumah itu yang teramat agung dari buatan tangan pemuda2 desa yang ilmu bangunannya adalah ilmu alam, ilmu ngawur, ilmu yang penting bener, ilmu asal. Bila kupukul dengan tinju kecilku ke arah dindingnya, tak ada bunyi, yang ada tanganku sakit hehe.... Tebal temboknya dua puluh sampai tiga puluh centimeter. Bentengkah??? hehe itulah seni klasik dari rumah mbahku. Masihkah kubisa ceritakan saat ini.....

"Mbah,....kangeeen cucumu ini....., pakde, bude....... Sudah lama ku belum kesareanmu lagi, maafin cucumu ini, mbah, maafin keponakanmu ini, pakde, bude...."

beautiful to be passed

Pernahkah kita mencoba berdiri, mencoba memperhatikan apa yang ada dihadapan kita? Bila kita berdiri di pinggir jalan, bisa jalur jalan, bisa persimpangan jalan, akan kita lihat begitu banyak cerita untuk diungkapkan. Pernahkah mencoba untuk menceritakan salah satu dari apa yang kita ingin perhatikan benar2? Mengertikah kita apa yang kita lihat? Pahamkah kita apa yang sedang mereka kerjakan? Kita seakan sebagai menonton film nyata dan bisa jadi itu gambaran yang tragis, tentu penilaian itu ada karena apa yang kita pahami berbeda dengan apa yang mereka rasakan.

Da kita bercerita (bego2an - istilah saya aja nih) seneng. Ada seseorang yang sedang menunggu,
 dia teramat gelisah. Menunggu memang pekerjaan yang menggelisahkan dan senengnya happy ending yang diharapkan dapat terjadi. Jika ingin menebak2 tentu ia sedang menunggu kekasihnya (wuiii...ya sah2 aja ya namanya juga cerita bego2an).

"Kapan ya kekasih dateng??", tentu itu yang dipikirkannya. Bersedekap, pukul2 dinding, menyarungkan tangan ke saku celana, menendang2 apa aja yang kena...hmmm....resahnya tentu sama karena kita pernah merasakannya. Keresahan yang tertahan dalam luapan ingin cepat bertemu.

Bila cerita dikembangkan, seandainya yang ia tunggu ternyata ga pernah datang...(weiii...tragis banget...da ngawur nih hmmm....lanjuut). Seandainya yang ia tunggu telatnya ga ketulungan dan ketika datang, ia telah pergi padahal hanya berjarak sepersekian detik. Seandainya yang ia tunggu malah pergi begitu saja tanpa melihat senyum selebar2nya bahwa yang ditunggu telah ada dihadapan mata tetapi.... Seandainya yang ia tunggu...hanya ada titipan pesan dari seseorang yang tidak dikenal perihal yang ia tunggu.....ceritanyaaaa bisa dikembangin lagi kaaan...hehe....

Imajinasi bisa liar berkelana, berlari seperti tanpa arah tujuan eh benar ga sih??? Ya ga mungkin lah jika tidak ada arah tujuan padahal ia berlari di jalanan yang bisa ditapaki kecuali ia lari di air, di awan....nah itu baru tanpa arah, ga jelas hehe..... Sekarang, kembangkan cerita dari salah satu cerita seandainya tadi. Mana yang dipilih dan cerita babak selanjutnya apa yang terjadi. Weiii ini bukan curhatan hati loh ya tetapi bercerita saja. Setiap orang bisa mengalami kan?

Hehe padahal ini mo ngerjain laporan yang mau dikumpulin besok, terus mo ujian belum belajar kok malah nulis2 seperti ini...ga jelas. Nah tuh cerita bisa liar kan...Siiip.....

Ayoo apa yang terjadi selanjutnya dari pilihan satu cerita seandainya di atas? Dan nantinya menjadi cerita dari pengamatan kita pada seseorang yang sedang menunggu di pinggir jalan itu. Dan nantinya menjadi pelajaran pada diri sendiri bahwa kita bisa mengamati dan bisa juga merasakan. Cerita indah bisa dibuat, cerita sedih bisa dibuat, apa maunya kita saja yang akan menjalaninya. Ternyata kita tidak pernah tidak membayangkan dari hal2 yang tidak pernah kita bayangkan. Kita tahu atau tidak mengerti atau belum mengerti atau malah tidak mau mengerti.

Semua yang kita jalani dalam hidup ini adalah memang keinginan kita sendiri. Sang Maha Kuasa bisa membuat cerita yang lucu pada hamba2Nya hehe.... Ku tahu karena ku pernah merasakan itu, kamu...?

Rabu, 06 Juni 2012

hasbunallah wa ni'mal wakil

"Pandanglah olehmu orang yang lebih rendah darimu, dan jangan memandang kepada orang yang diatasmu. Demikian itu lebih baik, agar kamu jangan meremehkan nikmat Allah kepadamu." (H.r. Ibnu Majah)

 

Dalam urusan keduniaan, misalnya dalam hal kekayaan, kemuliaan, pangkat, hendaklah selalu melihat kepada orang yang tingkatan hidupnya berada di bawah kita, jangan sekali-kali memandang kepada orang yang berada di atas kita.

 

Dengan sikap seperti itu kita akan beroleh ketenangan hidup, dan akan selalu mensyukuri serta menghargai nikmat Allah yang telah dilimpahkan Nya kepada kita. Sebaliknya bila melihat kepada orang yang tingkatan hidupnya lebih tinggi, maka biasanya akan timbullah kegelisahan hati dan pikiran. Yang mendorong timbulnya usaha-usaha untuk mengejar dan menyami orang-orang yang lebih tinggi itu, tanpa menghiraukan lagi apakah usaha itu halal ataukah haram. Dan bersamaan dengan itu sifat-sifat seperti menipu dan korupsi akan meraja lela. Dan yang paling jelek lagi ialah bahwa ia tidak akan mensyukuri dan menghargai nikmat Allah kepadanya.

 

Oleh sebab itu marilah kita syukuri semua nikmat Allah betapapun kecilnya, agar nikmat itu ditambahnya menjadi berlipat ganda, dan kita berada selalu dalam ketenagan dan kebahagiaan hidup.

 

Maha Besar Allah dengan segala Nikmat Nya. Insya Allah, Tausyiah ini peringatan untuk ku sendiri dan Insya Allah juga untuk saudara ku kaum muslimin lainnya.

overview kuliah (ter) manis

Pembukaan kuliahnya kok jadi sepertinya ada unsur sinisme atau pasrah diri. Rasa kritisnya mana. Kalo’ tanya kaum bapak ya saya akan tanya kaum bapak. Karena saya kan belum bapak-bapak mungkin aja pencermatan saya kurang up to date (hihi… apa tuh), paling terekspos dari kaum bapak itu. Atau itu memang pendapat ibu ya (ooo… gitu ya pendapat dosen muda…). Soal kencur, saya jadi teringat sama jamu beras kencur, soalnya jamu itu rasanya manis eh apa ini berarti ibu dosen juga manis ya…. Hehe…

 

Saya mo’ bertanya sama ibu, bagaimana menurut ibu bila ada seorang gadis mendekati/bilang duluan rasa sukanya pada seorang jejaka? Setuju ngga’ sih. Dan menurut ibu bila ibu seumpama menjadi si jejaka itu akan bersikap bagaimana? Terus bila ibu menjawab ngga’ suka apa yang akan ibu lakukan untuk tidak menyakiti hati si gadis itu (ibu kan tahu dan mengerti perasaan seorang gadis kan…), agar tidak lagi mendekati si jejaka itu. Inget loh ini pertanyaan umum, bukan pengalaman pribadi saya (harap diingat) en bila mo’ tahu juga ini pengalaman temen saya terus minta nasehat saya, lah saya ngga’ tahu gimana sih perasaan seorang gadis itu (wah kaya’nya asyik tuh, seneng ya ditaksir cewek hihi… saya kapan ya…). Jadi saya tanya sama ibu dosen karena ibu sudah pernah belajar kan tentang ini (hihi… ini bukan maksudnya pernah belajar praktek langsung – en kalo’ itu pernah syukurlah, jadi bisa pas jawabannya – maksudnya pernah ada kuliah ya kaya’-kaya’ ginilah… OK tak tunggu kabarnya. Tambahan kalo’ pembukaan ngasih kuliah tuh yang jelas dong en jangan sewotan nanti jadi ngga’ manis lagi loh kaya jamu beras kencur eh jadi jamu brotowali…pait (hehe… maaf loh bercanda soalnya saya yakin ibu dosen akan selalu manis kok hehe…).