Cerita Allah bisa banyak arti dan g diduga. Merasa diri bisa menentukan apa yang diinginkan, kehendakNya bisa berubah. Berubah total malahan.Cerita seorang perempuan tua, mbah atau nenek untuk memanggilnya, dengan jelas ia sebutkan mbah Sri lahir di Yogyakarta tanggal 10 April 1933, berapa tuh umurnya sekarang hmm...
"Kalau g saya sendiri yang ke pasar nanti beli dagingnya dibohongi jadinya buat bikin abon kualitasnya jelek. Dan kalau g saya lihatin cara menggoreng bawangnya nanti masih banyak minyaknya keceh. Bawang goreng saya tidak memakai minyak goreng yang lebih dua kali pakai. Jadi bisa kuat sampai maksimal 4 bulan tapi apa maemnya sejumput kok g habis-habis...."
Mbah Sri, kelahiran Yogyakarta dengan gigihnya dan keuletannya membangun bisnisnya. Bawang goreng dan abon. Icon oleh-oleh yang muncul bila berkunjung ke Kota Palu, Sulawesi Tengah. Bisnis rumahan, bertempat dekat bandara Mutiara, Palu. Kalau tidak tahu bisa bertanya ke siapa saja, terkesan semua orang sangat mengenal baik dengan "Bawang Goreng Mbok Sri".
Banyak makna cerita Allah untuk kita dengam tidak saja melihat bisnisnya namun rasa keiklasan yang mendalam akan juga terasa. Hidup yang nyaman di antara sanak saudara, hidup berkecukupan dengan usaha kos-kosan ditinggalkannya untuk penghidupan yang baru, yang banyak diperkirakan orang belum jelas masa depannya. Dan anak kos yang pernah menyewa di tempatnya yang ia ikuti untuk pindah. Hijrah. Sekarang ia telah menjadi seorang haji dan juga telah menghajikan anak-anak dan cucu-cucunya. Subhanallah.
Satu yang ia pikirkan adalah ia selalu bersama suami dan anak-anaknya. Rizki dari Allah, iklas untuk hijrah walau yang dipikirkannya sangat jauh berbeda dengan yang ia dapatkan sekarang.
"Perjalanan hidup tidak dapat diulang kembali."
Iklas untuk berhijrah.


