Kota Muntinlupa, di bagian paling selatan dari Metro Manila, adalah tempat di mana dua dunia tampak hidup berdampingan namun tak bersentuhan. Ketika saya datang ke kota ini pada bulan November 2024, hawa lembap tropis langsung menyergap, khas Asia Tenggara—namun aroma khasnya bukan aroma laut. Amis yang menggantung di udara berasal dari arah lain: danau yang luas dan tenang bernama Laguna de Bay, yang ternyata menyimpan cerita tentang sejarah, kelas sosial, dan ekosistem yang terabaikan.
Dari atas jembatan yang melintasi sungai menuju kota, batas visual begitu nyata: satu sisi adalah kompleks perkantoran rapi, gedung-gedung modern berjajar dengan jalan aspal mulus, trotoar bersih, dan penjaga keamanan berjaga di gerbang-gerbang bangunan tinggi. Di sisi lain, hanya beberapa meter dari aspal, terdapat permukiman padat tak terencana, gang sempit, kabel-kabel yang menjuntai, bangunan semi permanen, dan bau yang tak bisa diabaikan—sebuah wilayah yang seolah hidup dengan waktu dan aturan sendiri. Kontras ini tidak dibicarakan dengan kata-kata, tapi terasa kuat di napas dan langkah kaki.
Apakah Muntinlupa Bagian dari Ibu Kota?
Secara administratif, Muntinlupa adalah salah satu dari 17 kota dan munisipalitas yang membentuk Metro Manila, wilayah metropolitan yang menjadi jantung pemerintahan, ekonomi, dan budaya Filipina. Meski tidak menjadi pusat pemerintahan nasional, Muntinlupa adalah kota dengan posisi strategis—gerbang selatan menuju ibu kota, dan dikenal sebagai kawasan hunian kelas menengah ke atas. Di sinilah berdiri Alabang, distrik komersial dan perumahan yang tumbuh dengan konsep “gated community” bergaya barat, lengkap dengan pusat belanja dan perkantoran premium.
Namun kehidupan kota ini tidak bisa dipahami hanya dari sisi gedungnya. Seperti banyak kota besar di negara berkembang, tumbuhnya wilayah urban kerap dibarengi dengan bayangan panjang ketimpangan. Permukiman informal di sepanjang Danau Laguna adalah gambaran sisi lain dari modernisasi Muntinlupa. Laguna de Bay, danau terbesar di Filipina, dulunya adalah kawasan sumber air, mata pencaharian, dan rekreasi. Kini, sebagian wilayahnya tercemar, dipenuhi limbah domestik dan industri, menjadikan tepian danau bukan lagi tempat peristirahatan, melainkan tempat bertahan hidup bagi mereka yang terdesak oleh harga tanah dan urbanisasi.
Kota, Bahasa, dan Identitas
Di jalan-jalan Muntinlupa, bahasa adalah penanda status dan generasi. Secara resmi, Filipina memiliki dua bahasa nasional: Filipino (berbasis Tagalog) dan bahasa Inggris. Namun kenyataannya lebih rumit. Banyak warga—terutama di area permukiman padat—lebih fasih menggunakan Tagalog, dan bahkan dialek lokal lainnya. Bahasa Inggris memang diajarkan di sekolah dan digunakan di ranah resmi, tetapi penggunaannya sangat bergantung pada latar pendidikan dan sosial-ekonomi. Dibandingkan dengan Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris di kalangan generasi muda Filipina relatif lebih tinggi, mungkin karena faktor sejarah kolonial Amerika yang mendalam.
Tapi jangan berharap semua orang bisa memandu atau menjelaskan arah dalam bahasa Inggris. Banyak sopir jeepney, pedagang kaki lima, hingga petugas kebersihan masih terbata-bata saat diajak berbicara dalam bahasa tersebut. Bahkan di hotel-hotel kelas menengah, percakapan sederhana masih lebih nyaman dilakukan dalam Tagalog.
Agama dan Simbol
Yang cukup mengejutkan adalah keberadaan masjid kecil di area padat penduduk yang semula saya kira adalah kawasan komunitas Muslim. Namun ternyata, banyak dari mereka bukan Muslim, dan masjid hanya menjadi simbol yang diwarisi atau dipinjam dalam konteks sosial tertentu. Komunitas Muslim di Muntinlupa memang ada, tapi mereka umumnya tinggal di area yang lebih terorganisir sebagai komunitas etnik, seperti pendatang dari Mindanao, kawasan selatan Filipina yang mayoritas Muslim.
Di negara mayoritas Katolik ini, agama tetap memainkan peran sentral dalam kehidupan sehari-hari. Di setiap sudut jalan, patung Bunda Maria dan Yesus Kristus berdiri dalam kotak kaca kecil. Bahkan di dalam kendaraan umum seperti jeepney, gantungan rosario dan kutipan kitab suci ditempelkan berdampingan dengan stiker band metal atau lambang klub basket lokal. Inilah sinkretisme kota, di mana agama, budaya pop, dan ekonomi jalanan saling melengkapi.
Sebuah Kota dalam Kontras
Muntinlupa bukan kota yang bisa dinikmati dengan cara wisatawan konvensional. Tidak ada ikon turistik besar, tak ada landmark monumental. Namun kota ini adalah potret yang jujur tentang Filipina hari ini: modernitas yang tumbuh tak merata, harapan yang hidup di tengah bau limbah, dan manusia-manusia yang bertahan di celah antara aspirasi global dan realitas lokal.
Jika Anda berjalan dari stasiun Alabang ke arah Danau Laguna, Anda akan menyaksikan transformasi ruang yang begitu ekstrem dalam jarak yang sangat pendek. Seperti membuka dua halaman buku dengan cerita yang bertolak belakang namun ditulis oleh tangan yang sama.
Muntinlupa, 20 November 2024