Jumat, 25 Juli 2025

Muntinlupa: Di Antara Kaca Gedung dan Bau Air Laguna

Kota Muntinlupa, di bagian paling selatan dari Metro Manila, adalah tempat di mana dua dunia tampak hidup berdampingan namun tak bersentuhan. Ketika saya datang ke kota ini pada bulan November 2024, hawa lembap tropis langsung menyergap, khas Asia Tenggara—namun aroma khasnya bukan aroma laut. Amis yang menggantung di udara berasal dari arah lain: danau yang luas dan tenang bernama Laguna de Bay, yang ternyata menyimpan cerita tentang sejarah, kelas sosial, dan ekosistem yang terabaikan.

Dari atas jembatan yang melintasi sungai menuju kota, batas visual begitu nyata: satu sisi adalah kompleks perkantoran rapi, gedung-gedung modern berjajar dengan jalan aspal mulus, trotoar bersih, dan penjaga keamanan berjaga di gerbang-gerbang bangunan tinggi. Di sisi lain, hanya beberapa meter dari aspal, terdapat permukiman padat tak terencana, gang sempit, kabel-kabel yang menjuntai, bangunan semi permanen, dan bau yang tak bisa diabaikan—sebuah wilayah yang seolah hidup dengan waktu dan aturan sendiri. Kontras ini tidak dibicarakan dengan kata-kata, tapi terasa kuat di napas dan langkah kaki.

Apakah Muntinlupa Bagian dari Ibu Kota?

Secara administratif, Muntinlupa adalah salah satu dari 17 kota dan munisipalitas yang membentuk Metro Manila, wilayah metropolitan yang menjadi jantung pemerintahan, ekonomi, dan budaya Filipina. Meski tidak menjadi pusat pemerintahan nasional, Muntinlupa adalah kota dengan posisi strategis—gerbang selatan menuju ibu kota, dan dikenal sebagai kawasan hunian kelas menengah ke atas. Di sinilah berdiri Alabang, distrik komersial dan perumahan yang tumbuh dengan konsep “gated community” bergaya barat, lengkap dengan pusat belanja dan perkantoran premium.

Namun kehidupan kota ini tidak bisa dipahami hanya dari sisi gedungnya. Seperti banyak kota besar di negara berkembang, tumbuhnya wilayah urban kerap dibarengi dengan bayangan panjang ketimpangan. Permukiman informal di sepanjang Danau Laguna adalah gambaran sisi lain dari modernisasi Muntinlupa. Laguna de Bay, danau terbesar di Filipina, dulunya adalah kawasan sumber air, mata pencaharian, dan rekreasi. Kini, sebagian wilayahnya tercemar, dipenuhi limbah domestik dan industri, menjadikan tepian danau bukan lagi tempat peristirahatan, melainkan tempat bertahan hidup bagi mereka yang terdesak oleh harga tanah dan urbanisasi.

Kota, Bahasa, dan Identitas

Di jalan-jalan Muntinlupa, bahasa adalah penanda status dan generasi. Secara resmi, Filipina memiliki dua bahasa nasional: Filipino (berbasis Tagalog) dan bahasa Inggris. Namun kenyataannya lebih rumit. Banyak warga—terutama di area permukiman padat—lebih fasih menggunakan Tagalog, dan bahkan dialek lokal lainnya. Bahasa Inggris memang diajarkan di sekolah dan digunakan di ranah resmi, tetapi penggunaannya sangat bergantung pada latar pendidikan dan sosial-ekonomi. Dibandingkan dengan Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris di kalangan generasi muda Filipina relatif lebih tinggi, mungkin karena faktor sejarah kolonial Amerika yang mendalam.

Tapi jangan berharap semua orang bisa memandu atau menjelaskan arah dalam bahasa Inggris. Banyak sopir jeepney, pedagang kaki lima, hingga petugas kebersihan masih terbata-bata saat diajak berbicara dalam bahasa tersebut. Bahkan di hotel-hotel kelas menengah, percakapan sederhana masih lebih nyaman dilakukan dalam Tagalog.

Agama dan Simbol

Yang cukup mengejutkan adalah keberadaan masjid kecil di area padat penduduk yang semula saya kira adalah kawasan komunitas Muslim. Namun ternyata, banyak dari mereka bukan Muslim, dan masjid hanya menjadi simbol yang diwarisi atau dipinjam dalam konteks sosial tertentu. Komunitas Muslim di Muntinlupa memang ada, tapi mereka umumnya tinggal di area yang lebih terorganisir sebagai komunitas etnik, seperti pendatang dari Mindanao, kawasan selatan Filipina yang mayoritas Muslim.

Di negara mayoritas Katolik ini, agama tetap memainkan peran sentral dalam kehidupan sehari-hari. Di setiap sudut jalan, patung Bunda Maria dan Yesus Kristus berdiri dalam kotak kaca kecil. Bahkan di dalam kendaraan umum seperti jeepney, gantungan rosario dan kutipan kitab suci ditempelkan berdampingan dengan stiker band metal atau lambang klub basket lokal. Inilah sinkretisme kota, di mana agama, budaya pop, dan ekonomi jalanan saling melengkapi.

Sebuah Kota dalam Kontras

Muntinlupa bukan kota yang bisa dinikmati dengan cara wisatawan konvensional. Tidak ada ikon turistik besar, tak ada landmark monumental. Namun kota ini adalah potret yang jujur tentang Filipina hari ini: modernitas yang tumbuh tak merata, harapan yang hidup di tengah bau limbah, dan manusia-manusia yang bertahan di celah antara aspirasi global dan realitas lokal.

Jika Anda berjalan dari stasiun Alabang ke arah Danau Laguna, Anda akan menyaksikan transformasi ruang yang begitu ekstrem dalam jarak yang sangat pendek. Seperti membuka dua halaman buku dengan cerita yang bertolak belakang namun ditulis oleh tangan yang sama.


Muntinlupa, 20 November 2024

Kamis, 24 Juli 2025

Transit di Negeri Futuristik: Catatan Singkat dari Bandara Changi

20 November 2024, pukul 12.36 waktu Singapura. Saya menjejakkan kaki di Terminal 4 Bandara Internasional Changi—bandara yang lebih menyerupai pernyataan visi masa depan daripada sekadar titik persinggahan. Di sinilah, di salah satu titik paling efisien dari jaringan perjalanan udara Asia Tenggara, saya menjalani perpindahan antar dunia: dari satu negara ke negara lain, dari satu sistem budaya ke sistem yang berbeda.

Perjalanan menuju Terminal 2 saya tempuh dengan bus antar-terminal gratis. Kendaraan itu melaju tanpa tergesa, menyusuri jalur yang dibatasi kaca dan tanaman tropis terawat. Sepi, hening, efisien—tiga kata yang terus muncul di kepala saat mengamati lingkungan sekitar. Singapura memang selalu menampilkan efisiensi sebagai estetika utama mereka.

Wajah Tanpa Stempel

Hal baru saya temukan saat tiba di area imigrasi. Tidak ada petugas. Tidak ada antrean panjang dengan paspor dibolak-balik dan pertanyaan singkat dari balik kaca. Yang ada hanyalah mesin pemindai wajah otomatis. Saya berdiri, membuka halaman depan paspor, dan menatap lensa kamera. Layar menyala. Foto dan identitas saya muncul seketika. Bukan tanpa rasa cemas. Ada penolakan. Rupanya saya belum mengisi SGAC – Singapore Arrival Card, formulir kedatangan elektronik yang kini menggantikan cap paspor. Semua dilakukan online, dan untungnya Wi-Fi bandara gratis sangat membantu. Dalam hitungan menit, saya mengisi formulir digital itu, termasuk bagi penumpang lain yang bersama dalam satu perjalanan. Praktis.

Transformasi ini tidak hanya terjadi di pintu imigrasi. Di toko-toko sekitar terminal pun, semua transaksi dilakukan secara mandiri. Ambil barang, pindai sendiri, bayar dengan kartu, bahkan kembalian recehan diberikan dengan presisi sempurna. Tidak ada kasir, tidak ada suara “Selamat datang” atau "Terima kasih"—hanya bunyi pemindai digital dan lampu hijau tanda pembayaran sukses.

Apakah perubahan ini berarti kehilangan pekerjaan bagi manusia? Mungkin tidak. Di sisi lain bandara, saya melihat banyak lansia masih bekerja. Ada yang menjadi pemandu arah, mendorong troli bagasi, mengantar penumpang dengan mobil kecil, atau bahkan mengemudikan bus antar-terminal. Produktivitas di sini diperpanjang, bukan dipangkas. Mereka yang masih sehat tetap diberi ruang untuk berperan, bukan sekadar menepi.

Bandara dan Ruang Manusia

Namun tidak semua hal futuristik berarti ramah bagi semua. Bandara ini teramat luas. Pintu keberangkatan bisa berjarak satu kilometer dari pintu masuk utama. Bagi para lansia atau orang yang sedang sakit, berpindah gate bisa menjadi perjalanan tersendiri. Fasilitas kursi roda tersedia, tetapi harus diminta dari awal pemesanan atau saat tiba. Sayangnya, penyesuaian mendadak—seperti cedera saat perjalanan—tidak selalu bisa ditangani cepat. Waktu tunggu pelayanan bisa mengganggu jadwal penerbangan. Di balik semua kecanggihan, ada kenyataan bahwa tidak semua sistem bekerja secepat harapan kita.

Jam menunjukkan 13.45 waktu Singapura. Saya bersiap menuju boarding gate. Penerbangan berikutnya ke Manila dijadwalkan pukul 14.50. Di bandara ini, perbedaan waktu antar negara bukan hanya soal angka di jam tangan, tapi soal ritme hidup. Boarding gate menuju Filipina dipenuhi pemeriksaan ketat. Semua air minum harus dibuang. Antrian jadi lebih panjang. Tapi ruang tunggunya menyediakan fasilitas isi ulang air minum. Sebotol yang tadi dikosongkan kini bisa diisi kembali.

Modern yang Tetap Sederhana

Ada satu hal kecil yang menarik perhatian saya: kursi roda di bandara ini. Bentuknya kokoh, model lama, empat roda dengan ukuran belakang sedikit lebih besar. Tidak terlihat modern, tidak lipat praktis seperti desain masa kini, tapi tahan lama dan bisa diandalkan. Kadang, dalam dunia yang mengejar inovasi, yang sederhana tetap memiliki tempatnya. Modern bukan soal gaya, melainkan soal keberlanjutan.

Perjalanan di Changi bukan sekadar transit. Ia adalah potret masa depan kerja, teknologi, dan kemanusiaan. Di sinilah, saya menyaksikan bagaimana negara kecil dengan sumber daya terbatas mampu membangun sistem besar yang berjalan dengan logika efisien. Dan pertanyaan besar yang muncul bukanlah: “Bisa atau tidak kita seperti ini?” Tapi: “Mau atau tidak kita mulai berubah?”

Rabu, 23 Juli 2025

First Night in Metro Manila: Chaos, Charm, and the Red Innova

20 November 2024, 8:30 p.m. — Muntinlupa City, Philippines. After navigating a sea of unfamiliar signage, traffic knots, and unpredictable airport routines, I finally arrived at Vivere Hotel, my temporary home in the Philippines. Set in what seemed to be the heart of Muntinlupa, a southern city within Metro Manila, this part of the capital buzzed with activity even as night cloaked its skyline. The city breathed in layers—elevated highways crossing over chaotic roads, a mix of flickering lights, tall apartment blocks, and honking engines.

The drive from the airport had already revealed the rhythm of a city trying to move faster than its own weight. On the expressway, the traffic flowed—just barely—but once the road dipped toward local junctions, the familiar Asian metropolis gridlock took over. Motorcycles squeezed between SUVs, buses stalled at intersections, and the occasional three-wheeled motorized tricycle—a uniquely Filipino version of the becak motor in Medan—sputtered past, its exposed passengers inches from the asphalt.

Arrival: Between Systems and Surprises

Like many first-time visitors to the Philippines, I experienced the unexpected overlap of old and new at Manila’s Ninoy Aquino International Airport (NAIA). While Singapore had stunned me with a completely automated immigration process, Manila presented a hybrid system. At the arrival hall, travelers were required to fill out an online customs and health declaration form, accessible via a QR code taped to airport pillars.

Everyone stood silently in line, faces buried in their phones, frantically typing in passport numbers and travel dates. Though digital, the process wasn’t exactly smooth. First-timers—especially those unfamiliar with online forms or basic English—faced a learning curve. The immigration officers still stamped passports manually, and if the form wasn’t complete by the time you reached the counter, you were politely but firmly asked to step aside and finish it. A quiet reminder: in international travel, tech literacy is as crucial as your passport.

Finding a Way: When Maps and Language Fail

Navigating a new country always starts with a single question: How do I get from the airport to my hotel?
Public bus? Airport taxi? Ride-hailing app? At 8:00 p.m., with darkness wrapping the city and confusion thick in the air, trial-and-error was not an option.

I paused. Observed. Then, a man approached me. He looked like he worked for a taxi company—ID badge, clipboard, quick English. He offered a direct ride to my hotel. I hesitated. I asked the price. He replied: 2,800 pesos.

That figure rang alarms. In Metro Manila, even the highest Grab fare wouldn’t exceed 500 pesos. I declined.

So, I opened Grab, the Southeast Asian ride-hailing app I had used before. Thankfully, my account details were saved. I booked a Toyota Innova, but now came the next challenge—finding the driver.

The airport’s layout was confusing. Two parallel roads—flyover for departures, underpass for arrivals—ran beside each other. My driver messaged me through the app: “Pick-up at bus lane. Car lane closed.” There was no voice call, no clear location pin, just vague text and a small photo of the area. I guessed he was across the underpass, on the opposite bus lane, and crossed the road hoping my instincts were right.

They were. A red Innova, gleaming under the streetlights, pulled up. “Vivere Hotel?” I asked. The driver nodded. I exhaled in relief.

Through the City: Lights and Shadows

The ride toward Muntinlupa was a journey through the veins of a living, restless city. We sped down the highway, flanked by tall, box-shaped apartment buildings, their windows glowing like pixels in a massive screen. As we neared the city center, traffic returned. Intersections jammed with private cars, jeepneys, and delivery trucks. Motorcycles weaved recklessly, sometimes with one passenger behind, sometimes with two squeezed into a sidecar—the tricycle, still widely used for short-distance rides, even in megacities like Manila.

I watched one closely. The passenger sat in a low sidecar, mere inches from the road, level with truck exhausts and bumpers. Another passenger clung to the back of the motorcycle seat. No helmets. No fear. Just motion.

It was both terrifying and fascinating.

A City of Contradictions

Muntinlupa City may not be on most tourist maps, but it offers a slice of what life is like in the greater Metro Manila area—a mix of commercial ambition and urban sprawl, glass towers and aging sidewalks, fast Wi-Fi and unregulated intersections. It is, in some ways, Southeast Asia condensed into a few square kilometers.

Vivere Hotel, nestled among business parks and local eateries, was quiet when I finally checked in. The bed was clean, the city still humming beyond the window. And I realized: this is the beginning not of a vacation, but of an encounter with another way of life.

Minggu, 20 Juli 2025

Ittiba'

Untuk Cantikku, separuh nafasku,

teman seperjalanan 17 tahun penuh warna,

Assalamu’alaikum, Cantik.

D'Colomadu - Solo, 20 Juli 2025. Hari ini genap 17 tahun kita bersama. Rasanya seperti baru kemarin aku nekat melamar kamu, dengan bekal rasa cinta, mimpi, dan keberanian yang kupaksakan ada. Seiring waktu, ternyata aku belajar: cinta itu tidak cukup hanya sekadar rasa, tapi juga harus jadi tekad, sabar, dan kesetiaan yang kita buktikan setiap hari.

Cantik, terima kasih…

Terima kasih sudah selalu menjadi teman tertawa di hari-hari ringan, juga jadi teman menangis di hari-hari berat. Terima kasih sudah menjadi pundak yang tak pernah menolak sandaran, juga menjadi pengingat sabar saat hati ini nyaris menyerah. Terima kasih atas semua koreksi, semua nasihat, semua doa yang kau panjatkan diam-diam, untukku, untuk kita.

Maafkan aku, Cantik… atas segala salahku, atas keras kepala dan cuekku, atas mulutku yang kadang kurang manis, atas hati yang kadang kurang peka. Aku sadar, cinta yang baik itu tak cukup hanya diucap, tapi juga harus diperjuangkan dan dijaga setiap saat. Dan aku berjanji, aku akan terus belajar, supaya kelak aku jadi suami yang lebih lembut, lebih sabar, lebih layak kau cintai.

Cantik, kita mungkin belum Allah titipi anak—belum, insyaAllah suatu hari nanti. Tapi lihatlah: Allah sudah titipkan kita banyak hal yang juga indah: titipkan rasa saling menguatkan, titipkan kesetiaan yang tidak semua orang punya, titipkan cinta yang meskipun pernah diombang-ambingkan ujian, tetap kembali berlabuh di hati masing-masing.

Lucu juga ya, dulu kita kira bahagia itu soal punya ini-itu. Ternyata bahagia itu sederhana: saat kita masih bisa saling menggenggam tangan, masih saling menertawakan hal-hal kecil, dan saling mengingatkan untuk tidak putus harap dari rahmat Allah.

Jadi, surat ini juga untuk diriku sendiri: agar aku tak pernah lupa bersyukur atasmu, agar aku selalu ingat untuk memelukmu lebih sering, dan berterima kasih padamu lebih tulus. Karena kamulah rumahku, kamulah teman terbaikku, kamulah separuh jalan panjangku menuju ridha Allah.

Selamat anniversary ke-17, Cantikku.

Semoga kita selalu jadi pasangan yang saling jatuh cinta, meski uban makin bertambah dan lutut makin berderit. Semoga Allah segera titipkan keturunan yang jadi penyejuk mata. Tapi kalau pun belum, semoga Allah tetap titipkan hati yang selalu penuh cinta dan sabar.

Aku cinta kamu.

Suamimu yang kadang konyol, kadang keras kepala, tapi tak pernah berhenti menyayangimu.


🌿❤️

Sabtu, 19 Juli 2025

Begini Rasanya Naik Transportasi Umum di Perth

Satu hal yang membuat saya betah di Perth adalah sistem transportasi umumnya yang praktis, ramah pengguna, dan tepat waktu. Sejak hari pertama saya mencoba naik bus, saya langsung merasa seperti disambut oleh sistem yang benar-benar memudahkan warganya untuk bergerak ke mana saja—baik di pusat kota maupun ke daerah pinggiran.

Yang paling memudahkan adalah adanya satu kartu pintar bernama SmartRider, yang bisa digunakan untuk naik bus, kereta, dan bahkan ferry. Cukup “tap in” saat masuk, dan “tap out” saat keluar. Kalau naik kereta, kamu hanya perlu tap di pintu masuk dan pintu keluar stasiun. Tapi untuk bus, tap saat naik dan turun. Sistem ini membuat pembayaran jadi efisien, dan kamu bisa memantau sisa saldo atau mengisi ulang secara online maupun di mesin top-up di stasiun.

Uniknya, di beberapa rute pusat kota Perth, ada layanan bus gratis bernama CAT Bus (Central Area Transit) yang beroperasi dengan jalur dan warna berbeda. Ini benar-benar membantu, terutama untuk pelancong atau pekerja yang beraktivitas di dalam city centre. Hal ini menurut saya menunjukkan betapa pemerintah daerah—dalam hal ini Pemerintah Negara Bagian Western Australia melalui Transperth—mengelola sistem transportasi dengan perencanaan yang baik dan berpihak pada warganya.

Masyarakat Perth sendiri punya banyak pilihan: mau naik transportasi umum, atau menggunakan kendaraan pribadi. Fasilitas parkir tersedia banyak dan luas, terutama di stasiun-stasiun pinggiran. Tapi saya belum tahu pasti apakah tarif parkir di pusat kota mahal, karena saya sendiri belum pernah membawa mobil—masih setia dengan kaki dan kartu SmartRider. Bagi yang ingin menyewa kendaraan, ada juga layanan sewa mobil yang mudah diakses, baik dari bandara maupun pusat kota. Sayangnya, saya belum bisa menyetir mobil, baru bisa motor, jadi belum sempat mencoba sendiri.

Salah satu hal yang membuat saya tersentuh adalah adab sopan santun penumpang. Banyak penumpang bus yang mengucapkan “Thank you!” kepada sopir saat turun. Awalnya saya kira hanya kebetulan, tapi setelah beberapa hari, saya lihat itu memang kebiasaan yang umum. Sebuah bentuk penghargaan sederhana tapi bermakna. Di kereta mungkin tidak semudah itu karena interaksi dengan petugas terbatas, tapi suasana tertib dan tenang tetap terasa. Rasanya seperti menemukan nilai-nilai Timur dalam budaya Barat.

Stasiun kereta dan halte bus di Perth juga beragam. Ada yang besar dan modern, seperti di Perth Station atau Cannington, tapi ada juga yang sederhana dan kecil, bahkan tak terlihat seperti stasiun jika kamu belum tahu. Beberapa orang menyarankan saya untuk turun di stasiun besar saja jika baru pertama kali datang, karena di beberapa tempat suasananya sepi dan bisa membingungkan. Tapi selama ini, saya merasa Perth cukup aman, baik di kota maupun pinggiran. Tentu saja, tetap perlu kewaspadaan seperti di mana pun kita berada.

Bagi pendatang baru, penting untuk tahu cara memiliki SmartRider. Kartu ini bisa dibeli di beberapa stasiun besar, di toko retail tertentu seperti newsagent, atau bahkan bisa dipesan secara online. Dan meskipun sistemnya berbasis kartu, Transperth tetap menyediakan opsi pembayaran tunai di atas bus, jadi sangat membantu jika kamu belum sempat punya kartu.

Bagaimana dengan taksi?

Taksi tetap tersedia, tapi tidak sebanyak di negara Asia. Banyak orang di sini lebih memilih ride-share seperti Uber, DiDi, atau Ola yang bisa dipesan lewat aplikasi. Sistem pembayarannya juga praktis—bisa pakai kartu kredit, debit, atau dompet digital. Untuk naik taksi konvensional, kamu bisa memanggil lewat pangkalan atau telepon, tapi tarifnya memang relatif mahal dibanding transportasi umum, sehingga taksi sering hanya digunakan dalam keadaan darurat atau untuk jarak yang tidak terlayani bus/kereta.

Naik transportasi umum di Perth bukan hanya soal berpindah tempat. Ini juga menjadi pengalaman yang memperkenalkan saya pada budaya keteraturan, efisiensi, dan rasa saling menghormati. Mulai dari sopir bus yang ramah, sistem kartu yang terintegrasi, hingga penumpang yang terbiasa mengucapkan terima kasih—semuanya mengajarkan saya bahwa teknologi dan tata kelola akan jadi sia-sia tanpa nilai-nilai kecil yang dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Kamis, 10 Juli 2025

doa di balik rindu

Mentari pagi menyapa ladang,  

Embun berkilau di ujung daun.  

Cukuplah mata memandang tenang,  

Walau rasa tiada berlagu di daun.  


Burung tempua hinggap ke ranting,  

Nyanyian riang menghiasi hari.  

Tak perlu nama terucap di angin,  

Doa bahagia tetap diberi.  


Bunga melati di taman meluruh,  

Harumnya tinggal mengiring waktu.  

Tak paham rasa yang tersirat utuh,  

Namun damai jika ia bertemu restu.  


Bulan sabit tersenyum perlahan,  

Menjaga malam yang hening berbalut.  

Cukup melihatnya dalam bayangan,  

Rindu pun reda, hati pun tunduk.  


Angin senja membelai perlahan,  

Daun gugur tak bersisa lagi.  

Semoga bahagia menjadi jalannya,  

Walau diriku tak berarti di sini.   

Rabu, 02 Juli 2025

asa di balik bayang

Pohon berangan di tepi telaga,  

Daunnya jatuh melingkar rata.  

Hingga kini bertanya di jiwa,  

Tahukah dia akan tatap mata?  


Pelita malam sinari kamar,  

Cahayanya redup dipeluk malam.  

Bayang gadis bagai bunga mawar,  

Harum merebak dalam diam.  


Angin pagi berhembus mesra,  

Daun kering tersapu pergi.  

Andai ia tahu yang ku rasa,  

Adakah hatinya menyimpan seri?  


Alun gelombang berkejaran damai,  

Buah kelapa jatuh ke pasir.  

Dalam bayangan hati pun bertamai,  

Mungkin takdir kan membawa takdir.  


Bagai siulan merdu di kejauhan,  

Gema cerita terjalin indah.  

Walau tak tahu apa balasan,  

Asa tetap mekar, tak hilang sudah.