Selasa, 28 April 2026

#rica-ricu_11 - Takut Mati Itu Sementara, Rokok Selamanya?

Saya punya teman… bapak-bapak.

Umurnya sekitar 55 tahun. Usia di mana kalau bangun tidur bukan lagi “segar bugar”… tapi “alhamdulillah masih bangun.” 😄


Beliau ini perokok berat.

Beratnya bukan cuma rokoknya… orangnya juga. Paket lengkap.

---

Suatu hari, dia masuk rumah sakit.


Masih sadar, tapi katanya:

“Saya nggak bisa lihat apa-apa…”


Saya langsung mikir, ini bukan sakit biasa.

Ini udah level: hidup lagi di-*restart* sama Tuhan.


Dadanya sakit, napasnya sesak.

Nginep hampir seminggu.


Dan yang paling saya ingat, dia bilang:

“Saya takut kalau itu terulang lagi…”


Nah loh… akhirnya takut juga kan.


Biasanya kan perokok itu pede:

“Tenang aja, saya kuat.”

Padahal paru-parunya mungkin udah rapat umum tanpa izin.

---

Dokter bilang:

“Pak, berhenti merokok. Turunkan berat badan.”


Kalimat klasik dokter.

Kalau dokter bisa diganti kaset, mungkin itu yang keluar terus tiap hari. 😄

---

Pulang dari rumah sakit…

bahkan masih pakai alat bantu oksigen.


Saya mikir:

“Ini pasti tobat. Ini pasti berubah.”


Ini momen hijrah versi paru-paru.

---

Beberapa bulan kemudian…


Saya lihat… kok dia mulai merokok lagi.


Awalnya sembunyi-sembunyi.

Kayak anak SMA pacaran beda agama.


“Cuma satu kok…”

“Cuma nemenin teman…”

“Cuma… ya cuma alasan aja sebenarnya.”

---

Yang bikin saya makin kaget, suatu hari dia bilang:


“Saya bersyukur masih hidup… teman saya meninggal, katanya salah penanganan dokter.”


Saya diem.


Dalam hati saya mikir:

“Pak… ini bukan salah dokter. Ini paru-paru bapak yang demo tiap hari.”

---

Kadang manusia itu unik.


Udah pernah hampir nggak bisa napas…

udah pernah takut mati…

tapi begitu sehat dikit…


Lupa.


Kayak habis ujian.

Baru keluar ruang ujian, ditanya: “Tadi jawab apa?”

“Lupa…”


Ini hidup, Pak… bukan pilihan ganda. 😄

---

Saya dan teman-teman sempat sering ngingetin.


“Pak, inget waktu di rumah sakit…”


Lama-lama… kami capek.


Akhirnya sekarang kalau dia ngerokok, ya kami cuma lihat.

Bukan karena nggak peduli…

tapi karena sadar:


Ngomong itu gampang.

Berubah itu yang mahal.

---

Dari situ saya belajar sesuatu.


Ternyata…

takut mati itu efeknya nggak lama.


Yang lama itu… kebiasaan.


Yang susah itu bukan tahu mana yang bahaya.

Tapi berhenti dari yang terasa “nikmat”.


---

Jadi kalau hari ini kita masih dikasih napas…

masih bisa jalan…

masih bisa ketawa…


Jangan nunggu sampai semuanya itu dipinjam dulu baru sadar.

---

Karena jujur aja…


Berhenti merokok itu memang susah.


Tapi…

napas pakai selang itu jauh lebih susah.

---

Terima kasih. 🙏


Sisingamangaraja, 28 April 2026

Jumat, 17 April 2026

#rica-ricu_14 - bulan evaluasi ibadah

Saat ini memasuki bulan Dzulqa'dah yang disebut bulan evaluasi ibadah untuk berjalannya waktu selanjutnya. Bulan Ramadhan disebut bulan tarbiyah. Bulan pendidikan dimana umat muslim banyak beribadah Ramadhan dengan shoum satu bulan penuh, shalat fardhu tepat waktu ditambah shalat sunah yang pahalanya sama dengan shalat fardhu. Setiap hari di luangkan waktu untuk tadarus Al Qur'an, terutama di malam hari. Banyak berharap dapat khatam minimal satu kali, karena perhitungan pahala terdapat pada satu huruf yang diucapkan dikalikan 1000 pahala. Bayangkan untuk mengucapkan ‘Bismillah’ saja sudah 10 huruf, belum bila diucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ terdapat 19 huruf. Dan banyak lagi ibadah yang biasa akan dilipat gandakan pahalanya di bulan Ramadhan. Bulan Syawal sebagai bulan fitri telah menjalankan ibadah Ramadhan terdapat pula shaum 6 hari yang pahalanya sama ibadah satu tahun. Subhanallah. Belum lagi ibadah lagi yang dijalankannya. 

Bulan Dzulqa'dah menjadi bulan evaluasi, apakah dua bulan sebelumnya sudah tertanam dalam sikap dan tindakan umat muslim. Makin banyak ibadahnya atau malah berkurang. Setidaknya menjadi pengingat bahwa semua yang kita lakukan dengan niat ibadah. Belajar dari dua bulan sebelum akan lebih baik sebagai muslim yang bertaqwa. InsyaAllah. 

Sumber: dari khutbah shalat Jum'at, Masjid Al Kautsar, 29 Syawal 1447 H

#rica-ricu_15 - kangen Baitullah

Aku melihat Baitullah dari hatiku. 
Aneh? 
Ya merasa saat sujud setiap shalat, Baitullah ada dihadapanku. 
Rasa kangen ingin selalu datang ke masjid yang suci, masjid yang agung pemberian Allah subhana wata’ala untuk hambanya yang selalu bersujud, bersyukur. 
Rasanya Masjidil Haram itu dekat rumah. 
Ingin rasanya berdiam lama disana. 
Shalat, tadarus, zikir. 
Kalau capek, makan ya pulang ke rumah dan selanjutnya bisa kembali ke sana. 
Ini seperti kenyataan menjadi mimpi atau sebaliknya. 
Sujud dalam shalat sendirian, bercakap dengan Sang Khalik bisa menentramkan hati. 
Subhanallah.