Minggu, 04 Agustus 2019

realita...

Ternyata kembali ke nol .... tidak ada yang dapat  dibanggakan.... dulu bangga dengan jabatan apa itu Nakhoda apa itu KKM apa itu Direktur apa itu Bos perusahaan  besar...                

Ungkapan Hati BJ Habibie soal akhirat  yang bikin merinding
(8 Jan 2019)

NONSTOPNEWS.ID - Pidato BJ Habibie viral. Mantan Presiden RI ini menuliskan tentang kisah hidupnya.

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT.
KALAULAH SEMPAT ?
Renungan utk kita semua !!!!

BJ Habibie ketika berpidato di Kairo, beliau berpesan "Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat .Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama."

Sepi penghuni...
Istri sudah meninggal... 
Tangan menggigil karena lemah...
Penyakit menggerogoti sejak lama...
Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman... Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu...

Tiga anak, semuanya sukses... berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri...
» Ada yang sekarang berkarir di luar negeri... »
Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi... »
Dan ada pula yang jadi pengusaha ...

Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya...

Namun....
Saat tua seperti ini dia "merasa hampa", ada "pilu mendesak" disudut hatinya..

Tidur tak nyaman...
Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yg penuh kenangan

Di rumah yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur...

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya....
Dari sudut mata ada air yang menetes.. rindu dikunjungi anak-anak nya

Tapi semua anak nya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain...
Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan....

Sudah terlanjur melemah...

Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak...
sepanjang waktu ....  

Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya... atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti_
Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti...
yang pasti hanyalah KEMATIAN.
Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya..._
Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC...
Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang..._
Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?

Kira-kira jika malaikat "datang menjemput", akan seperti apakah kematian nya nanti.

Siapa yang akan memandikan ?

Dimana akan dikuburkan ??

Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?
Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula...
Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???
Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???
Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama???  Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja..._

"Kalau lah sempat" menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya...

"Kalau lah sempat" dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang...... 

"Kalau lah sempat" memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan..... 

"Kalau lah sempat" membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan...

Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi "Amal Penolong" nya ...

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan

Ibadah sedekahnya di bimbing/diajarkan & diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam', 'meneteskan air mata' mendoakan orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama...

"KALAULAH SEMPAT"

Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ?  Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri.  Kenapa kita tidak lebih serius?
Menyiapkan 'bekal' untuk menghadap-Nya dan 'Mempertanggung Jawabkan kepadaNya?
Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang  bisa  melalaikan.....

Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita.

Teruslah menjadi  "si penabur  kebajikan" selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan.

Semoga Bermanfaat...🙏

Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie

Kamis, 01 Agustus 2019

rhena dan takdir yang keruh


Sinopsis

Penulis: Mezia K.S.

Penerbit: Edwrite Publishing, 2019

Pertama melihat covernya tentu membayangkan akan cerita Islami. Cerita tentang perjalanan hidup mencari hidayah Allah Subhanawata’ala untuk hamba Nya yang terpilih. Dan kesimpulan cerita sesungguhnya..... baca ya.

Lembaran selanjutnya sebagai pembuka cerita tentu ada lembaran pengantar, harusnya ada dari seseorang yang dianggap profesional atau ahli dalam sastra yang bisa mengkritisi novel ini supaya lebih menarik perhatian. Pengantar dari penerbit serta pengantar dari penulis sendiri. Dan ini bisa juga terdapat pada cover belakang novel. Lembaran ini mesti di baca terlebih dahulu, karena umumnya kita bisa mengetahui isi cerita secara umum. Menarik, lembaran pengantar ini menjadi pembuka untuk meneruskan untuk terus membaca atau tidak. Tapiiii...seringnya ga pernah di baca kan. Lihat daftar isi terus lihat bab terakhir hehe.... Hal ini bisa menjadi masukan kepada penulis novel bahwa alur cerita itu penting dan bisa menentukan bab-bab mana yang menjadi kisah yang menarik.


Lembaran pengantar menjelaskan tentang penderitaan seorang bipolar (gangguan psikologis) dan penjelasannya. Dugaan kembali muncul bahwa ini seperti buku saku pengajaran psikologi atau keperawatan kejiwaan. Menarik sebagai sebuah novel? Bisa jadi malah mundur untuk meneruskan membaca karena bisa jadi malah bosenin. Walau dalam pengantar penulis sudah menggambarkan sedikitnya apa yang akan diceritakan dalam novelnya. Fokus tulisan pada seorang penderita kejiwaan dan perjalanan religi memperoleh hidayah. Masih mau baca?

Rhena, bercerita tentang dirinya dan kehidupannya. Kehidupan saat kecil, keseharian, saat sebagai seorang pelajar. Hidupnya bisa menjadi contoh teladan bagi orang-orang yang mengenalnya dan tentu teman-teman sekolahnya. Terpikir bahwa hidupnya bahagia? Kehidupan sesungguhnya ada di rumah. Sebagai bintang pelajar itu sebagai pelarian dari pencarian perhatian dari orang tuanya yang sangat sulit didapatkannya. Kehidupan yang serba ada secara materi namun ketiadaan dalam perhatian hati seorang anak. Ketiadaan ini yang membawanya menjadi penghuni rumah sakit jiwa.

Plot cerita mengalir dengan cepat, sebab-akibat berkaitan berharap menjadi jebakan cerita menarik. Cerita seorang anak yang kurang perhatian orang tua, orang tua yang selalu sibuk akan pekerjaannya, kehidupan remaja yang mencari jati diri umumnya puncak cerita sang anak menjadi orang kehidupannya negatif. Pencandu narkotik, kriminal, atau kenakan remaja lainnya. Namun ini bercerita lain.

Rumah sakit jiwa bercerita hitam-putih penghuninya. Hitam-putih ini bisa menjadi abu-abu. Siapa sesungguhnya yang menjadi sakit jiwa. Pasien penderita kejiwaan atau tenaga kesehatannya atau justru keluarga dari masing-masing dari mereka. Orang tua Rhena yang menjadi insyaf untuk mulai memberi perhatian kepada anaknya. Dokter dan perawat yang memberi perhatian yang terbaik bagi para pasiennya. Cerita bisa dikembangkan bisa menjadi dramatis. Cerita ini berputar menjadi cerita kriminal. Cerita menjadi religius. Plot cerita tiba-tiba berputar arah.

Happy ending. Akhir cerita yang membahagiakan tentunya yang diharapkan. Rhena mencerita dirinya sendiri sebatas yang ia ketahui. Cerita lainnya dari sang penulis sebagai dalang dalam novel. Banyak tokoh yang ditampilkan, ayah dan ibu Rhena, dokter Teguh, suster Mila dan suster Anna, tentunya bisa menarik bila mereka masing-masing bisa menceritakan diri mereka sendiri sebagai penyambung kisah.

Kesalahan penulisan halaman 84, harusnya Suster ditulis Sister. Ketidakkonsistensinya penggunaan kata, apakah menggunakan bahasa keseharian atau bahasa Indonesia yang baik dan benar serta juga dalam penggunaan bahasa asing. Penggunaan kata gawai semoga mulai memasyarakat, ayo siapa yang tahu? Oren, statement, dan masih banyak lagi kata-kata yang tidak tepat. Antara kesalahan pengetikan atau memang ingin dipakai sebagai percakapan bahasan kesehariaan atau pergaulan.

Ide cerita menarik. Cerita bersambung?

Pengapon, 20190801