Senin, 24 Maret 2008

ketika Allah berbicara cinta

Mengalir jernih, kali kecil di sebuah perkebunan. Seorang petani sedang bekerja di temani anak gadisnya. Bersyukur ia mempunyai kebun yang penuh rizki ini. Selalu menghasilkan, memberi penghidupan yang cukup untuk keluarganya. Istri dan seorang anak gadis. Namun ini pula yang menjadi kegusaran hatinya. Selalu ia bertanya kepada dirinya sendiri, Sang Khalik dalam ibadahnya, apakah ia kurang mensyukuri akan nikmat yang Allah berikan kepadanya, sampai anak gadisnya yang telah dewasa ini belum ada yang meminang yang sesuai dengan kriterianya bahwa pemuda yang akan meminang anak gadisnya adalah seorang pemuda yang alim, tinggi ilmu agamanya, sikapnya sopan, bersahaja. Kadang ia merasa, apakah terlalu tinggi yang ia inginkan untuk putri tersayangnya. Petani itu seorang yang alim, tak ada keluh kesan pernah ia ucapkan, hanya kepada Sang Khalik, Sang Pencipta, ia mengadukan isi hatinya. Ia pun seorang yang dermawan, ramah, siapa juga yang tak ingin dekat dengan dirinya. Banyak pemuda yang ingin melamarnya namun tidak tahu kenapa ia selalu menolaknya.

Suatu hari si petani melihat sebuah apel  hanyut mengalir. Diambilnya apel itu karena dilihat masih baik sekali seperti baru jatuh dan diberikannya kepada putrinya. Tiba-tiba dia merasa tersentak seperti ada yang menyadarkan bahwa dia mesti meminta izin kepada si pemilik apel itu supaya berkah ketika di makan putrinya. Dia tidak ingin, apel yang terjatuh itu tidak diketahui oleh si pemiliknya dan membuat kesal karena telah kehilangan miliknya. Dia berpikir tentu di hulu kali ia akan menemukan pemilik dari buah ini. Dan ternyata benar ia menemukan sebuah kebun apel di hulu kali. Petani mencari pemiliki kebun apel dan meminta izin untuk meminta apelnya yang terjatuh di kali yang mengalir di kebunnya.

Alangkah terkejutnya si pemilik kebun apel ini ada seorang petani yang bersahaja sekali untuk meminta izin untuk memiliki apel miliknya yang padahal ia pun tidak mengetahui dan tentu ia merasa tidak enak hati karena itu pun barang yang sudah dianggapnya dibuang. Selayaknya petani ini mendapat lebih dari yang ia dapatkan, ia merasa tentu petani ini bukan orang biasa yang bisa bersikap seperti ini. Seperti jalan Allah sudah digariskan, secara tidak sengaja berbicara soal keluarga dan anak2, mereka sepakat untuk menikahkan anak-anak mereka.

Terima kasih ustad Badrun yang telah memberi saya pandangan dengan cerita hikayat seorang sufi. Ada pelajaran hidup yang diceritakan. Hidup, mati, rizki, jodoh adalah kehendak Allah, tidak bisa dipaksakan untuk segera datang atau  tidak menerima kedatangnya. Hanya dengan "Kun fayakun" yang tidak terjadi menjadi terjadi. Namun sebagai manusia kita merasa kurang terima, kurang yakin akan pemberiannya. Rizki tidak hanya kebahagiaan namun juga musibah, semua itu untuk makin mendekatkan diri kita kepadaNya. Doa adalah senjata paling ampuh seorang muslim disertai dengan ikthiar. Belum terkabulnya doa bukan berarti Allah lupa namun Allah masih menginginkan dalam ikhtiar kita maikin serong kita berdoa makin dekatnya kita kepada sang Pencipta. Istilahnya ustad Badrun,"wong mo seneng kok AKU gak dilibatkan seneng sih" .

Satu yang perlu dicatat, dipahami, dimengeti, dan dikaji dengan pengertian yang mendalam, kita lebih siap untuk menikah namun tidak siap untuk menjadi seorang Abi atau Ummi. Coba kita sama-sama memahami ya!! Semoga Allah memberikan kita selalu kesabaran dan keiklasan.

Terima kasih teruntuk ustad Badrun dan ustadzah Eni yang telah memberikan tausyiah ini. Barakallah.

4 komentar: