Selasa, 17 September 2013

sadao, mengejar pesawat

Setiap pekerjaan yang kita lakukan harus disiapkan apa saja yang akan dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Jangan menganggap remeh dari hal yang kecil sekalipun, seperti tidak menganggap penting namun dari yang kecil itu bila kecil-kecil itu terkumpul akan lebih besar dari masalah yang ada. Berpikir dan bertindak cerdas. Jadilah tahu karena mengetahuinya.

Hari itu, semua sudah dipersiapkan. Hal terkecil sudah diupayakan sudah disiapkan. Perkara ini penting karena berada jauh dari negeri sendiri, melintas antar negara yang sudah tentu berbeda hukum dan aturan. Pesan tiket pesawat dan van jauh hari, bisa lebih mudah dan murah juga mengatur waktu perjalanan.

Perjalanan pulang ke Indonesia dari liburan, mengunjungi kekasih yang sedang menimba ilmu di Kota Hatyai - Thailand. Jadwal van, angkutan yang akan membawa ke Kota Penang - Malaysia ada tiga waktu. Pagi jam 9, siang jam 1, dan sore jam 3. Jadwal ini akan sama dengan di Penang untuk ke Hatyai, bisalah menjadi masukan bagi yang ingin jalan-jalan di kedua kota tersebut dengan dua negara yang berbeda. Pilihan pada jam 9, bermaksud akan bermalam dulu di Penang dan ingin jalan-jalan juga di sana.

Perjalanan ditempuh kurang lebih tiga jam kalau normal, tidak ada rintangan dan beda pula bila musim liburan seperti saat perjalanan ini. Nah yang menjadi pokok cerita disini. Perbatasan Sadao (nama daerah perbatasan di Thailand), pemeriksaan imigrasi, paspor. Inilah yang menjadi pelajaran dalam menggunakan paspor dinas atau paspor biasa (perjalanan biasa).

Pemeriksaan mengikuti antrian, sebaiknya mengikuti rombongan van atau bis yang mengangkut, untuk mempermudah pengawasan sesama rombongan perjalanan. Tiba giliran kekasih yang menggunakan paspor dinas (paspor sebagai tugas belajar dari kedinasan), pemeriksaan lama sekali menghubungkan antara tanggal masuk serta visa tinggal. Tanggal seperti kehilangan petunjuk, petugas bertanya deeng....bahasa thai coy.... Ngertilah maksudnya namun bagaimana untuk menyampaikannya kembali agar komunikasi bisa bersambung. Bahasa Inggris sebagai jembatan bahasa tidak bisa. Harap maklum tidak semua pegawai negeri dimana saja apalagai sebagai pejabat publik yang langsung berhadapan dengan masyarakat mengerti akan bahasa jembatan ini, bahasa Inggris. Petugas sepertinya kesulitan, kami diarahkan menuju kantor imigrasi Thailand. Petugas depan menyerah dan daripada menghambat antrian yang panjang karena musim liburan. Setelah proses pemeriksaan saya selesai, langsung mendampingi kekasihku ke kantor imigrasi.

Lagi-lagi petugas di dalam yang sepertinya Kepala Imigrasi kebingungan menghubungkan tanggal masuk dan tanggal visa tinggal. Penggunaan bahasa jembatan sudah dilakukan namun....tetep tidak nyambung begitu saja. Mungkin saja kondisi yang stres, sehingga tingkat konsentrasi menjadi labil dari petugas. Wah jika dialami proses pemeriksaan, kita pun menjadi stres karena lama menunggu. Bolak-balik kertas tapi kita tidak boleh mendekat. Ya bermaksud menerangkan tidak diberi kesempatan. Pelajaran bagi kita sebagai abdi negara, pelayanan publik harus bisa kooperatif. Jangan sok tahu walau tahu tapi tidak semua menjadi tahu.

Tidak hanya pemeriksaan yang membuat menjadi stres berat, ternyata ada salah satu teman seperjalan yang juga akan pulang ke Indonesia berharap mendapatkan jadwal penerbangannya jam 5 sore. Berpikir masih ada waktu luang yang banyak bila berangkat lebih awal tapiii... Jadinya semua penumpang resah, supir kami menghampiri, menanyakan perihal yang terjadi di antara kami dengan petugas. Jika mau menghitung detik-detik waktu, tiga jam kami berada di kantor imigrasi yang biasanya, setengah jam itu sudah termasuk antri. Akhirnya Kepala Imigrasi menyarankan, bahwa pemeriksaan akan dilanjutkan besok lagi di Kantor Imigrasi Hatyai agar visa tinggalnya tidak hilang. Penjelasannya sesungguhnya seperti menyalahkan karena tanggal yang tertera tidak jelas, loh mana kita tahu??!! Semua itu oleh petugas imigrasi sendiri yang lakukan, kita hanya mengikuti kok bisa-bisanya bicara seperti itu. Tenangkan hati dan berharap prosesnya cepat selesai dan melanjutkan perjalanan.

Dalam van kami semua terdiam. Ada perasaan tertuduh jadinya. Diam sajalah. Van melaju cepat, mengejar waktu. Waktu terbayar lebih banyak juga bagi si ibu yang akan langsung ke bandara karena harus membayar lebih dan kita semua harus menghantarkan serta tidak bisa jalan-jalan. Waktu, ditunggu dan menunggu. Hargailah.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar