Jumat, 16 Maret 2007

kisah di pasar






Suatu hari Nazarudin
diajak sahabatnya pergi ke suatu pasar. Dia belum tahu tentang pasar
itu makanya ia ingin ikut tetapi ada yang mengganjal di hatinya bahwa
takut ketika di pasar itu ia hilang. Sang sahabat tertawa dengan
perkataan Nazarudin. Semua sahabatnya tahu bahwa Nazarudin seorang yang
baik hati, suka membantu orang lain namun ia kelihatan bodoh walau
sebenarnya hatinya iklas, perangainya suka tersenyum, pandai. Tetapi
kenapa masih tetap ia dikatakan si bodoh ya?

Sahabatnya
memberikan solusi untuk mengikatkan balon warna-warni di kakinya
sebagai tanda. Nazarudin menyetujuinya, bersyukur bahwa ia tidak jadi
hilang.

Setelah lama di pasar itu rasa penat datang. Nazarudin
istirahat sejenak dan rasa kantukpun datang. Terlelap Nazarudin dalam
mimpinya. Dan setelah beberapa ia terbangun. Terpana sejenak
menyadarkan diri sambil melihat-lihat. Tiba-tiba ia terkejut karena
balon-balon dikakinya hilang. Ia merasa sedih sekali, berarti ia hilang
di pasar ini. Dari sedih itu ia melihat disampingnya juga ada seseorang
yang sedang tertidur namun ada yang aneh di kakinya !!!

Nazarudin
bersyukur bahwa ia tidak hilang di pasar ini karena balon-balon itu
sudah ditemukan. Senyumnya tidak lama dikembangkannya, jika
disebelahnya adalah Nazarudin lalu ia sendiri siapa ????


Kisah
humor sufi, si Nazarudin, memberikan pelajaran hidup untuk kita. Ketika
kita lahir ke dunia, kita seperti memasuki suatu pasar. Aneka macam
keadaan, sifat manusia akan terlihat, kepentingan, nafsu yang akhirnya
bisa membawa diri mengikuti arus. Ketakutan, keresahan hati membutuhkan
suatu pegangan atau pedoman hidup. Mana yang kita pilih tentu dilihat
dari lingkungan yang membentuknya. Balon-halon itu disimbulkan sebagai
pedoman hidup. Kisah yang seakan menggelitik hati akan kebodohan namun
bisa menjadi muhasabah diri sendiri akankah diri sendiri sudah benar
selama ini untuk mengikuti syariah yang dijalani. Tidak sekedar
ikut-ikutan. Mengkotak-kotakan dengan menganggap kita sudah paling
benar. Pada saat kita di pasar kita bisa mendapat pelajaran apakah kita
sudah mengenal diri kita sendiri dan Insya Allah bisa juga akan makin
bersyukur akan RahmatNya untuk selalu menjalankan semua perintahNya dan
menjauhkan larangan-laranganNya. Contoh kecil, ketika kita berada di
pasar itu, atau dikendaraan dan azan mengumandang, akankah kita turun
dan mendekati mesjid untuk shalat?? Wallahualam bisowab












Tidak ada komentar:

Posting Komentar