Selasa, 08 Januari 2013

membenahi diri untuk menjadi manusiawi


Perasaan bahagia dan bingung bagaimana untuk melakukannya. Dua orang putri menjelang kedewasaan yang harus dijaganya. Usia 17 dan 12 tahun, usia yang mencari banyak perhatian untuk lebih diperahatikan. Pekerjaan dan karir selama ini telah melewatkan masa-masa ia mempunyai dua orang anak gadis. Sekarang mesti turun langsung yang biasanya dilakukan istrinya, dan lebih tepatnya menggantikan peran istrinya untuk menjaga putri-putrinya ini karena saat ini istrinya sakit keras, dirawat di rumah sakit. Sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga, mengatur rumah, mengatur rumah tangga, bekerja hmm…tentu membuat tumpukan-tumpukan pikiran dan tenaga makin menggunung. Berharap putri-putrinya menjadi anak-anak yang manis, yang menurut apa yang diinginkan orang tua menjadi anak yang baik. Dan yang ia lihat sekarang….tidak!

Putri bungsunya selalu berbuat masalah di sekolahnya. Namun yang ia tahu, putrinya bisa melakukan yang benar namun salah dalam melakukannya. Cukup dimengerti. Walau sulit untuk didekati, tentunya kedekatan seorang figur ayah yang selama ini hilang pada diri anaknya mencoba untuk didekati. Tindakan putrinya yang salah dijelaskan dengan pemahaman kebaikan bersama untuk dimengerti. Meminta maaf pada orang-orang yang pernah disakiti tentu terasa berat, untuk apa meminta maaf jika yang dilakukannya benar. Dan kenapa ayahnya mencoba untuk mengerti yang selama ini tidak mengerti akan anak-anaknya. Semua berjalan dengan baik. Ayah dan putri bungsunya bisa berjalan beriringan.

Cobaan kedua ketika ia mengunjungi putri sulungnya yang bersekolah dengan asrama. Ia memang figur ayah yang lebih untuk perhatian kepada keluarganya. Ia lebih mencukupi kebutuhan materi untuk keluarganya. Rumah yang besar dengan halaman yang luas. Semua sarana tersedia, dan untuk pendidikan anak-anaknya ia berikan yang terbaik. Padahal menurut putrinya itu adalah cara ayahnya untuk menjauhkannya dengan keluarganya. Banyak sikap dan tingkah laku putri sulungnya yang membuat pusing kepalanya. Pergaulan dewasa dengan mabuk-mabukan, bergaul sampai larut malam, ingkar pada tugas-tugas sekolah. Ia harus mengurus keluarganya. Ia harus mendekatkan keluarganya.

Cerita dibuka, seorang wanita sedang berselancar dan disinilah awal musibahnya. Wanita yang sedang berselancar itu adalah istrinya yang sedang berlibur. Namun ia tidak ikut serta karena kesibukannya bekerja dan berada di luar kota. Liburan itu yang membuat istrinya sakit dan koma yang harus dirawat dengan segala macam jarum dan selang menyentuh kulit istrinya. Ia sangat menyayangi istrinya, keluarganya. Istrinya terjatuh dan terbentur kepalanya sehingga kondisi fisiknya makin menurut setiap waktu. Dan ceritapun bergulir dari ucapan putri sulungnya kenapa ia seperti ini dan membenci ibunya walau kondisinya sakit keras. Ibunya selingkuh.

Layakkah bila ia marah mendengarnya, istri yang ia sayangi dan cintai bisa berbuat seperti itu. Liburan yang ia ketahui bahwa istrinya menginginkannya namun ia jatuh karena bersama orang lain. Saudara-saudaranya mengatakan bahwa istrinya seorang yang tegar, kuat, penyayang keluarga, dan setia namun….hal negatif yang menyakitkan memang harus dibuka karena itu awal dari kerusakan yang lain. Apakah ia harus marah besar dengan memukul orang yang telah merusak istrinya namun….ia pun sadar bahwa istrinya memang sengaja melakukannya. Akhir liburan, rencananya istrinya akan bercerai denganya. Istrinya sudah tidak tahan dengannya karena lebih mementingkan pekerjaan dan karir. Sampai bapak mertuanyapun memarahinya, kenapa ia tidak mencukupi, memberikan kesenangan-kesenangan yang diinginkan istrinya sehingga tidak terjadi hal seperti ini.

Marah, benci, sebal, semua kumpul di kepalanya. Namun ia tetap sadar bahwa ia sangat mencintai istrinya dan keluarganya. Pekerjaan yang menyita waktu adalah untuk keluarganya. Pikiran manusia memang sulit untuk dimengerti. Ia harus memaafkan. Ia harus menerima semua ini yang juga termasuk kesalahannya kalau memang itu dikatakan salah. Ia memaafkan pria yang telah menghancurkan istrinya, rumah tangganya. Ia tahu pria itu punya keluarga, punya anak seperti dirinya. Ada yang lebih berhak menghukumnya daripada dirinya sendiri yang masih banyak kesalahan. Walau harus mencari menyeberangi pulau mencari pria itu hanya untuk mengatakan bahwa istrinya, yang pernah berselingkuh dengannya saat ini sakit keras, koma di rumah sakit dan diminta untuk menjenguk terakhir kali karena pihak rumah sakit sudah menyatakan tidak ada harapan lagi untuk hidup. Semua suntikan dan selang yang masuk dalam tubuh akan dicabut dan iklas menerima kepergiannya.

Hidup akan terus berjalan bagi yang hidup. Musibah yang didapat menjadi pelajaran hidup selanjutnya. Dekat dengan keluarga lebih baik dari harta yang berlimpah namun tidak bisa dinikmati dengan keluarga. Perhatian tidak hanya dari harta namun perhatian langsung walau hanya kecil namun selalu berkelanjutan, setiap saat bertemu tentu lebih bermakna. Tidak akan sama pikiran dari kekasih kita, anak-anak kita dan tentu diri kita sendiri ketika dipandang mereka. Menyatukan bukan berarti berkeras diri namun dengan memahami adanya kebutuhan lebih bisa menyatukan. Nakalnya anak-anak adalah cermin orang tua dan selayaknya diintropeksi, bukan memarahi seperti semua kesalahan mereka. Mencari cinta lain karena kurangnya perhatian, hati-hatilah walau itu indah namun akan merusak keutuhan rumah tangga dan keturunannya walau bisa disembunyikan dengan rapat. Dan jangan sedikitpun untuk mencobanya. Selingkuh……

Sinopsis film The Descendants (2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar