Perasaan bahagia dan bingung bagaimana untuk melakukannya. Dua orang
putri menjelang kedewasaan yang harus dijaganya. Usia 17 dan 12 tahun,
usia yang mencari banyak perhatian untuk lebih diperahatikan. Pekerjaan dan
karir selama ini telah melewatkan masa-masa ia mempunyai dua orang anak gadis.
Sekarang mesti turun langsung yang biasanya dilakukan istrinya, dan lebih
tepatnya menggantikan peran istrinya untuk menjaga putri-putrinya ini karena
saat ini istrinya sakit keras, dirawat di rumah sakit. Sebagai kepala keluarga,
ibu rumah tangga, mengatur rumah, mengatur rumah tangga, bekerja hmm…tentu
membuat tumpukan-tumpukan pikiran dan tenaga makin menggunung. Berharap
putri-putrinya menjadi anak-anak yang manis, yang menurut apa yang diinginkan
orang tua menjadi anak yang baik. Dan yang ia lihat sekarang….tidak!
Putri bungsunya selalu berbuat masalah di sekolahnya. Namun yang ia
tahu, putrinya bisa melakukan yang benar namun salah dalam melakukannya. Cukup
dimengerti. Walau sulit untuk didekati, tentunya kedekatan seorang figur ayah
yang selama ini hilang pada diri anaknya mencoba untuk didekati. Tindakan
putrinya yang salah dijelaskan dengan pemahaman kebaikan bersama untuk
dimengerti. Meminta maaf pada orang-orang yang pernah disakiti tentu terasa
berat, untuk apa meminta maaf jika yang dilakukannya benar. Dan kenapa ayahnya
mencoba untuk mengerti yang selama ini tidak mengerti akan anak-anaknya. Semua
berjalan dengan baik. Ayah dan putri bungsunya bisa berjalan beriringan.
Cobaan kedua ketika ia mengunjungi putri sulungnya yang bersekolah
dengan asrama. Ia memang figur ayah yang lebih untuk perhatian kepada
keluarganya. Ia lebih mencukupi kebutuhan materi untuk keluarganya. Rumah yang
besar dengan halaman yang luas. Semua sarana tersedia, dan untuk pendidikan
anak-anaknya ia berikan yang terbaik. Padahal menurut putrinya itu adalah cara
ayahnya untuk menjauhkannya dengan keluarganya. Banyak sikap dan tingkah laku
putri sulungnya yang membuat pusing kepalanya. Pergaulan dewasa dengan
mabuk-mabukan, bergaul sampai larut malam, ingkar pada tugas-tugas sekolah. Ia
harus mengurus keluarganya. Ia harus mendekatkan keluarganya.
Cerita dibuka, seorang wanita sedang berselancar dan disinilah awal
musibahnya. Wanita yang sedang berselancar itu adalah istrinya yang sedang
berlibur. Namun ia tidak ikut serta karena kesibukannya bekerja dan berada di
luar kota. Liburan itu yang membuat istrinya sakit dan koma yang harus dirawat
dengan segala macam jarum dan selang menyentuh kulit istrinya. Ia sangat
menyayangi istrinya, keluarganya. Istrinya terjatuh dan terbentur kepalanya
sehingga kondisi fisiknya makin menurut setiap waktu. Dan ceritapun bergulir
dari ucapan putri sulungnya kenapa ia seperti ini dan membenci ibunya walau
kondisinya sakit keras. Ibunya selingkuh.
Layakkah bila ia marah mendengarnya, istri yang ia sayangi dan cintai
bisa berbuat seperti itu. Liburan yang ia ketahui bahwa istrinya
menginginkannya namun ia jatuh karena bersama orang lain. Saudara-saudaranya
mengatakan bahwa istrinya seorang yang tegar, kuat, penyayang keluarga, dan
setia namun….hal negatif yang menyakitkan memang harus dibuka karena itu awal
dari kerusakan yang lain. Apakah ia harus marah besar dengan memukul orang yang
telah merusak istrinya namun….ia pun sadar bahwa istrinya memang sengaja
melakukannya. Akhir liburan, rencananya istrinya akan bercerai denganya.
Istrinya sudah tidak tahan dengannya karena lebih mementingkan pekerjaan dan
karir. Sampai bapak mertuanyapun memarahinya, kenapa ia tidak mencukupi,
memberikan kesenangan-kesenangan yang diinginkan istrinya sehingga tidak terjadi
hal seperti ini.
Marah, benci, sebal, semua kumpul di kepalanya. Namun ia tetap sadar
bahwa ia sangat mencintai istrinya dan keluarganya. Pekerjaan yang menyita
waktu adalah untuk keluarganya. Pikiran manusia memang sulit untuk dimengerti.
Ia harus memaafkan. Ia harus menerima semua ini yang juga termasuk kesalahannya
kalau memang itu dikatakan salah. Ia memaafkan pria yang telah menghancurkan
istrinya, rumah tangganya. Ia tahu pria itu punya keluarga, punya anak seperti
dirinya. Ada yang lebih berhak menghukumnya daripada dirinya sendiri yang masih
banyak kesalahan. Walau harus mencari menyeberangi pulau mencari pria itu hanya
untuk mengatakan bahwa istrinya, yang pernah berselingkuh dengannya saat ini
sakit keras, koma di rumah sakit dan diminta untuk menjenguk terakhir kali
karena pihak rumah sakit sudah menyatakan tidak ada harapan lagi untuk hidup.
Semua suntikan dan selang yang masuk dalam tubuh akan dicabut dan iklas
menerima kepergiannya.
Hidup akan terus berjalan bagi yang hidup. Musibah yang didapat
menjadi pelajaran hidup selanjutnya. Dekat dengan keluarga lebih baik dari
harta yang berlimpah namun tidak bisa dinikmati dengan keluarga. Perhatian
tidak hanya dari harta namun perhatian langsung walau hanya kecil namun selalu
berkelanjutan, setiap saat bertemu tentu lebih bermakna. Tidak akan sama
pikiran dari kekasih kita, anak-anak kita dan tentu diri kita sendiri ketika
dipandang mereka. Menyatukan bukan berarti berkeras diri namun dengan memahami
adanya kebutuhan lebih bisa menyatukan. Nakalnya anak-anak adalah cermin orang
tua dan selayaknya diintropeksi, bukan memarahi seperti semua kesalahan mereka.
Mencari cinta lain karena kurangnya perhatian, hati-hatilah walau itu indah
namun akan merusak keutuhan rumah tangga dan keturunannya walau bisa
disembunyikan dengan rapat. Dan jangan sedikitpun untuk mencobanya. Selingkuh……
Sinopsis film The Descendants (2011)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar