Rabu, 06 Agustus 2025

Menyeberangi Garis Musim: Sebuah Awal dari Negeri Selatan

Saat mendarat di Perth, kota metropolitan paling barat di benua Australia, yang pertama kali saya sadari bukanlah hawa dingin atau aksen bahasa Inggris yang pekat, melainkan perasaan sunyi yang sangat tertib. Langit biru terbuka lebar, udara bersih, dan semua orang tampak tahu ke mana mereka pergi. Tidak tergesa, tapi pasti. Di sinilah, saya memulai sebuah perjalanan melintasi batas fisik dan budaya—masuk ke dalam dunia yang beroperasi dengan logika dan nilai-nilai berbeda dari negeri asal saya.

Rencana awal saya adalah turun di Stasiun Claisebrook atau McIver, dua nama yang tampak logis secara peta karena lebih dekat ke hotel tujuan. Tapi petugas di Stasiun Bandara Internasional Perth menyarankan agar saya turun di Stasiun Perth saja. Alasannya sederhana: “lebih ramai dan aman.” Saya baru menyadari kemudian bahwa kedua stasiun sebelumnya hanyalah stasiun kecil, yang secara fungsi lebih mirip halte bus di tengah pemukiman—tanpa petugas, tanpa keramaian, dan mungkin membingungkan bagi seorang pendatang.

Menuruni tangga Stasiun Perth yang ringkas dan tidak tinggi, saya mendapati suasana yang—secara aneh—mengingatkan saya pada Jalan Sudirman di Jakarta. Bukan karena bentuk fisiknya, melainkan karena di sana pun banyak kantor, banyak orang asing, dan tentu saja, bahasa Inggris mengalir sebagai bahasa kerja dan budaya profesional. Hanya saja, di Jakarta, semua itu terasa sebagai "bagian dari globalisasi", sesuatu yang menumpang lewat jendela ekonomi. Sementara di sini, di negara berbahasa Inggris yang bukan Eropa, semuanya adalah bahasa ibu. Ini bukan "representasi dunia luar"; ini adalah rumah mereka.

Kesadaran sebagai orang luar muncul dari hal-hal sederhana. Ketika saya mengucapkan “thank you” kepada sopir bus sebelum turun, suara saya terasa berat dan kikuk di telinga sendiri—sebuah isyarat kecil bahwa saya masih menyesuaikan lidah. Ketika petugas hotel mengetuk pintu dan, dengan bahasa cepat namun sopan, menyampaikan niat membersihkan kamar dan mengganti handuk serta air minum, saya hanya bisa menjawab pendek: “Yes,” lalu kembali mengulang: “Thank you.” Tindakan kecil ini bukan sekadar sopan santun. Di negeri asing, ia berubah menjadi semacam ritual adaptasi, penanda bahwa saya sedang belajar merawat perasaan saling hormat dalam sistem budaya yang tidak saya bangun.

Australia—dan Perth secara khusus—adalah tempat yang menarik karena secara geografis dekat dengan Asia, namun sosial-budayanya sangat bercorak Eropa. Secara antropologis, kota ini adalah contoh khas dari masyarakat migran yang berhasil menyatukan struktur Eropa dengan kedekatan geografis Asia-Pasifik. Warga lokalnya beragam, namun sistem tetap berjalan dengan nilai-nilai dominan: efisiensi, kerapian, dan penghormatan terhadap privasi. Bahasa Inggris menjadi alat utama komunikasi, dan bagi pendatang, ini adalah ujian pertama untuk bertahan atau sekadar berbaur.

Hidup di negeri seperti ini, terutama bagi yang ingin bekerja, belajar, atau bahkan menetap bersama keluarga, memerlukan lebih dari sekadar dokumen dan perencanaan ekonomi. Ia memerlukan kesiapan budaya: menerima kesendirian yang tidak selalu menyedihkan, belajar membaca kebiasaan yang tidak tertulis, dan yang paling penting—menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri. Hal ini bisa tampak sepele saat kita melihat anak-anak sekolah berjalan di pagi hari mengenakan jaket tebal dan sepatu bot, atau ketika pasangan lansia menikmati kopi pagi di tepi Swan River, tapi di balik semua itu ada kesadaran hidup yang tertanam dan diwariskan.

Satu hal yang pelan-pelan saya sadari: untuk merasa nyaman di negeri orang, bukan berarti kita harus menjadi seperti mereka. Yang lebih penting adalah memahami struktur sosialnya, menghormatinya, dan menemukan ruang kita di dalamnya. Di Perth, hal itu memungkinkan, karena kotanya memberi ruang untuk pelan-pelan belajar. Mulai dari transportasi publik yang ramah pengguna, hingga kehadiran taman kota yang bukan sekadar pelengkap estetika, tetapi ruang sosial terbuka bagi setiap kelas dan latar belakang budaya.

Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah negeri ini bisa menjadi rumah, melainkan apa yang harus kita lakukan agar diri kita layak tinggal di dalamnya. Dunia tidak akan berubah agar cocok dengan kita. Tapi kita bisa memilih untuk menyesuaikan—tanpa kehilangan nilai diri. Seperti kata orang bijak: berjalanlah ke negeri orang, bukan untuk menjadi seperti mereka, tapi untuk memahami dunia dengan lebih utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar