
Papar itu bukan batas akhir untuk jalan kaki sampai ke rumah, mesti melanjutkan kembali dengan angkutan ke arah Pasar Bogo (ayo bisa ga bacanya hehe...lidah melayu susah deh!!). Pasar Bogo tentu bukan pasar besar, bukan pasar Inpres (mudah2an sekarang sudah banyak perubahan ya). Ketika ku melihatnya dulu, saat itu duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas dan itu pertama kali setelah sekian tahun dari semenjak masuk sekolah baru melihatnya kembali kok....masih sama bentuknya. Mungkin itu tanda untuk bisa mengenal daerah garis keturunan hehe....keren kan. Ya memang ini tempat bapakku dilahirkan, tempat mbahku bertempat tinggal. Itu cerita saat itu dan sekarang....belum bisa lagi melihatnya...kapan ya??
Pasar Bogo dekat dengan rumah paklek dan jika ditanya dimana rumah paklek hehe ga tau!!! Lebih nyasarnya daripada jalan2 di dalam pasar itu padahal tidak pernah ke dalamnya hehe.... Pasar tradisional, di desa2 banyak terdapat pasar yang ramainya hanya pada saat pagi hari. Pagi itu batasya dari ba'da shubuh sampai .... ya jam sembilanan deh... Masih pagi kan tapi bila di desa itu sudah sepi sekali. Tetap ada penjual yang mempunyai kios2 besar yang berjualan sampai sore dan sorenya itu jam tigaan dan yang posisinya hanya yang di tepi jalan besar. Desaku...
Cerita pasar Bogo sebagai patokan untuk melanjuti perjalanan. Saat ini sudah banyak pilihan, bisa ojek, becak atau dokar atau angkutan desa (angdes). Saat itu dan mungkin ketika ku nanti ke sana, ku pilih....jalan kaki menyusuri jalan di temani sawah2 yang membentang luas....Senengnya....masihkah??? Desaku lambat dalam perubahan dan tentunya masih....mudah2an. Banyak orang menoleh, bisa merasa aneh ada orang kota ke desa hehe...saudaranya siapa sih itu, kasian bener mesti jalan kaki, ga punya ongkos ya hehe.... eh anaknya siapa sih mungkin kenal....hehe....Mengikuti jalan aspal tidak seberapa panjang ya sekitar lima ratus meter. Beberapa langkah setelah melewati Pasar Bogo terdapat Kantor Kepala Desa Bogo (wuiii benerkah masih hapal!!). Setelahnya menyeberang jalan untuk masuk ke gang atau tetep bisa disebut jalan ke arah Dukuh Kedungsari. Jalan yang kulalui adalah jalan teristimewa. Jalan ini menapaki langkah2 darah keluargaku. Jalan yang menghubungkan dunia luar dan dalam, dunia beradab dan tidak beradab, dunia kesederhanaan dan kaya akan makna hidup. Jalan itu berpasir, berbatu. Ga akan becek ketika hujan, gak akan debel ketika becek, gak akan kotor bila basah. Jalan itu jalan mbah2ku yang menunjukkan pada bapakku untuk terbang tinggi di langit biru. Menemukan kekasih hatinya, ibuku dan terlahirlah.....aku. Jalan ini penuh dengan cita dan cinta, Jalan ini penuh dengan tetesan keringat, air mata, keluh kesah, kegembiraan, kenestapaan dan harapan.
Bertemu pertigaan, belok kanan, kemudian kanan lagi ketika bertemu pertigaan lagi. Jika sudah melihat SDN Kedungsari dan melihat jalan di sisinya, jalanilah. Sekolah itu adalah sekolah bapakku yang dinyatakan pengakuan bersekolah dari pemerintah karena selebihnya, bapakku masuk pesantren walau tidak tamat. Sekolah itu yang mengembangkan cita2 bapakku untuk kuat mengepakkan sayap dunia yang berbeda diluar alam sana hehe padahal itu alamku. Walaupun ijazah yang didambakan hilang ntah kemana, alhamdulillah, ibu pertiwi lebih berkenan menerima karena semangatnya daripada selembar ijazah. Apalagi itu ijazah sekolah dasar. Ibu Pertiwi lebih bangga kepada putra2 bangsanya yang mau membela tumpah darahnya, menjaga merah putihnya nusantara. Rizki bapakku....
Sepuluh meter dari arah sekolah terdapat jembatan kecil yang ditutupi rimbunan pohon2 bambu. Sangat rimbun sehingga sinar matahari sulit untuk masuk kedalamnya. Sangat rimbun sehingga udara sangat sejuk, sejuk yang melenakan udara desa. Jembatan itu kecil, pernah terbuat dari bambu, selanjutnya sudah terbangun dengan kokoh pondasi batuan berbeton. Masihkah sama.... Berjalan melalui tikungan akan bertemu pagar rumah yang mengelilingi halaman yang luas dengan rumah besar di tengahnya. Berdiri angkuh, sebagai rumah masyarakat, rumah pemimpin yang memberikan perlindungan bagi sekitarnya. Mbah2ku adalah guru ngaji dan banyak juga dari mereka juga seorang kepala dukuh, kepala dusun, atau kepala desa. Terakhir pakdeku, seorang Kamituwo, seorang kepala dusun, Dusun Kedungsari.
Masihkah kuingat rumah besar dengan halaman yang luas itu? Masihkah ku bisa ceritakan betapa arsitektur dari rumah itu yang teramat agung dari buatan tangan pemuda2 desa yang ilmu bangunannya adalah ilmu alam, ilmu ngawur, ilmu yang penting bener, ilmu asal. Bila kupukul dengan tinju kecilku ke arah dindingnya, tak ada bunyi, yang ada tanganku sakit hehe.... Tebal temboknya dua puluh sampai tiga puluh centimeter. Bentengkah??? hehe itulah seni klasik dari rumah mbahku. Masihkah kubisa ceritakan saat ini.....
"Mbah,....kangeeen cucumu ini....., pakde, bude....... Sudah lama ku belum kesareanmu lagi, maafin cucumu ini, mbah, maafin keponakanmu ini, pakde, bude...."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar