Senin, 06 Agustus 2012

tumpukan rizki

Tersenyum melihat sang bapak menarik gerobaknya, didalamnya anak-anaknya bercanda riang. Ibu mereka dengan menggendong si bungsu mendorong gerobak sang bapak. Begitu berlimpah rizki yang mereka dapatkan. Berpeluh keringat mengais rizki, terbayarkan dengan riangnya anak2 mereka. Berjalan berpuluh langkah, menyelusuri jalan yang panjang. Kegigihan, keuletan dan tentunya kesabaran. Rizki mereka makin berlimpah oleh mutiara-mutiara kecil yang menjadi penerus generasi.


Banyak cerita, Allah memberi arah. Tinggal bagaimana kita menyatakan syukur atas rizki yang telah didapat. Tumpukan rizki sering tertutupi oleh nafsu. Astagfirullah aladzim.


Cobalah menuliskan keinginan apa atau pengharapan yang belum terpenuhi. Ribuan keinginan akan meluncur, sampai ingin menuliskan yang paling penting yang mana karena semua keinginan itu sekarang menjadi penting semua dan secepatnya terwujud. Kehendak Allah bisa tiba-tiba langsung diwujudkan, terdiam sejenak, pasti kita sudah berpikir, "terwujud memang benar, menjadi takjub dan selanjutnya akan muncul kata 'tapi.....' Nah..."


Kenapa kita menyangsikan kata 'tapi'? Kita akan beranggapan bahwa iya sudah diwujudkan namun tentu akan berbeda dengan apa yang kita kehendaki. Manusia diciptakan mempunyai akal yang membedakan dengan mahluk lainnya ciptaan Allah SWT. Akal ini yang membuat seperti mengakal-akali, membohongi, sifat manusia itu sendiri yang ikut menegatifkan Sang Pencipta. Semua yang diberikan kepada hambaNya adalah yang terbaik, paling baik untuk hambaNya. Sifat manusia yang terbatas oleh nafsu yang juga membatasi untuk merasakan rizki. Sekecil apapun yang kita pikir itu kecil, selalu untuk bersyukur. Kecil menurut hambaNya, sebenarnya besar untuk hambaNya. Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar