Mengenang Keusuma Izzati: Sebuah Pergulatan Hidup di Balik Tsunami
Oleh Dewa, 24.21.11
Sahabat, masihkah kita ingat dengan sebuah tulisan berjudul "Ketika Tuhan Bertanya – Maka Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" yang pernah dimuat di rubrik Oase Iman sebulan yang lalu? Tulisan itu, sekarang membuka kembali kenangan saya bersama almarhumah ibunda tercinta. Ayat tersebut merupakan bagian dari surat Ar-Rahman, kesukaan beliau yang hampir setiap malam dilantunkan setelah shalat tahajud.
Izinkan saya berdoa agar Allah tetap menjaga ingatan kita semua. Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak Anda mengenang kebaikan-kebaikan sang penulis, Keusuma Izzati, atau yang akrab disapa "Nanda." YISC Al-Azhar, organisasi pemuda masjid Al-Azhar, Jakarta, adalah tempat di mana dia melarutkan dirinya sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahirannya – Aceh.
Sepekan yang lalu, pada tanggal 25 Desember 2004 pukul 11:23 pagi, Nanda melantunkan bait doa penuh makna, "Semoga Tuhan tunjukkan jalan terbaik dalam setiap langkah hidupku, dalam peran apapun yang harus aku emban, dan dalam suka maupun dukaku. Karena aku sangat yakin, Allah tidak akan membiarkan aku terus dalam kesendirian."
Sahabat, tanpa kita tahu, doa itu mungkin kata-kata terakhirnya. Nanda menjadi salah satu korban gempa bumi dan tsunami dahsyat yang menghantam Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Tsunami membawanya kembali kepada sang Pencipta – Allah Robbul ‘Alamin.
Doanya mungkin telah terkabul bahwa Allah tidak akan membiarkannya terus dalam kesendirian. Allah lebih mencintainya, sehingga Allah mengambilnya lebih cepat dari dugaan kita. Saat ini kita menyadari bahwa antara hidup dan mati memang sangat tipis, dan kita tidak pernah tahu kapan kematian itu akan menjemput.
Setelah satu minggu, kami tidak tahu keberadaannya. Di mana jasadnya bila memang dia telah tiada, pun kami tidak tahu. Berita-berita sedih telah mengisi kehidupan kami. Tsunami dan gempa bumi membawa kita pada kebinasaan, namun kita yakin Allah tidak akan menurunkan sesuatu kecuali dengan hikmahnya.
Kini kita melihat persatuan umat manusia sedunia! Dulu kita hanya bisa bermimpi, sekarang mereka bahu membahu tanpa peduli perbedaan. Semua orang berlomba mencari posisi terdepan sebagai volunteer untuk "Bantuan kemanusiaan bagi para korban tragedi tsunami."
Nanda, sahabat terbaik kami, istirahatlah dengan tenang. Seruan shalat ghaib telah dikumandangkan di seluruh negeri, dan kami telah mendirikannya. Seluruh dunia menyambut bergantinya tahun di antara tragedi tsunami dan gempa bumi.
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman: 37-38)
Inilah bait terakhir puisi Nanda, "Kutitipkan Rahasia Hatiku Padamu," yang dibuat pada tanggal 9 Desember 2004 – dua minggu menjelang tragedi.
Sudahlah… satu rintangan terlewati kini satu teka-teki terjawab kini satu angan terpupuskan kini tapi ada satu asa yang masih melangkah walau dalam remang mencoba memijakkan kaki tetap di atas bumi dengan tangan menengadah ke langit Ya Allah… pantulkanlah cinta untukku dari cermin hati hambaMu yang terpapar cahaya cintaMu Beningkanlah hati kami agar tiada redup pelita kasihMu.
9 Desember 2004 Keusuma.
Allah selalu punya cara untuk membuat kita kembali kepada-Nya. Selamat jalan Nanda, tersenyumlah bahwa raudhatul jannah sedang menunggumu. Insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar