Senin, 13 November 2023

akhlak kaum muslimin lebih buruk?

Apakah akhlak kaum Muslim lebih buruk daripada akhlak orang non-Muslim?

Saya pikir pertanyaan ini akan mengundang kontroversi. Oleh karena itu, simaklah sampai tuntas karena kita akan berbicara dalam konteks akhlak yang lebih luas.

Apa yang dimaksud dengan akhlak? Imam Abu Hamid Al-Ghazali, atau dikenal juga sebagai Al-Ghazali, adalah seorang ulama besar dalam tradisi Islam. Salah satu karyanya yang terkenal yang membahas akhlak adalah "Ihya Ulum al-Din" (Revival of the Religious Sciences). Dalam kitab ini, Al-Ghazali menyelidiki berbagai aspek kehidupan spiritual dan etika, termasuk akhlak. Imam Abu Hamid Al-Ghazali menyebut bahwa akhlak itu adalah nama lain dari sifat. Jadi, kalau sifatnya jahat, berarti akhlaknya jahat. Begitu juga sebaliknya. Pernyataan Al-Ghazali ini nampaknya juga serupa dengan yang dijabarkan oleh kamus bahasa Indonesia-Arab. Biasanya, akhlak disebut sebagai karakter, sifat, sikap, atau hal-hal semacam itu.

Nah, di sinilah kita harus memahami bahwa akhlak itu adalah sesuatu yang sangat luas kriterianya, banyak terkait dengan kejujuran, keberanian, mentalitas, kebersihan, ketahanan, sikap rendah hati, dan sebagainya. Semuanya itu adalah akhlak. Namun, kaum Muslim nampaknya tertinggal jauh dibandingkan dengan umat lain, baik itu sekuler atau bahkan atheis. Kok bisa seperti itu?

Misalkan, kita ambil salah satu kriteria, kejujuran. Jika kita melihat daftar negara-negara yang paling jujur di dunia, tidak ada negara yang mayoritas penduduknya Muslim di 10 besar. Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya Islam, kita tahu bahwa negara ini dipenuhi oleh para penipu dan koruptor. Sekarang saya tanya kepada Anda, siapa di antara Anda yang tidak pernah ditipu seumur hidupnya? Tidak akan ada yang bisa menjawab. Ini menunjukkan bahwa populasi para penipu di negeri ini sangat besar.

Namun, kita belum berbicara tentang korupsi atau penyalahgunaan wewenang, kita baru membahas penipuan. Di negeri Muslim, fenomenanya selalu sama. Mengapa akhlak kaum Muslimin dalam konteks kejujuran seperti ini? Misalkan kita lihat kriteria lain, seperti kemampuan untuk menahan diri dari amarah. Ini juga adalah akhlak yang baik. Dia mampu untuk mengendalikan diri, khususnya dari amarahnya. Ada hadits bahkan sampai seperti itu. Tetapi jika melihat 10 besar negara paling mudah marah, hanya satu yang bukan negara Muslim.

Berarti, dalam hal ini, akhlak kaum Muslimin juga tertinggal. Kemudian, jika melihat akhlak dalam konteks kebersihan, kaum Muslimin selalu membanggakan dalil-dalil soal kebersihan. Nabi Muhammad adalah orang yang sangat terobsesi dengan kebersihan. Tetapi jika melihat 10 negara paling bersih di dunia, tidak semuanya Muslim. Ada New Zealand, Denmark, Finlandia, dan sebagainya. Jadi, mengapa dalam hal kebersihan, kaum Muslimin terkesan tertinggal?

Selanjutnya, mari kita lihat bahwa akhlak itu sangat luas. Jadi, mengapa kaum Muslimin selalu terjebak pada dimensi Islam yang tidak kaffah, melihat segala sesuatu hanya dari satu sudut pandang? Seseorang yang berkata kasar, meskipun ada banyak dalil yang melarang, tetap diangkat sebagai ulama atau ustadz. Mengapa itu terjadi? Karena entah bagaimana, akhlak selalu dihubungkan dengan seks dan wanita. Ini adalah sesuatu yang menjadi jamur di antara kaum Muslimin.

Kita harus memahami Islam secara lebih luas, tidak hanya sepotong-sepotong, tidak membawa Islam ke dalam jurang kehancuran karena melihatnya secara parsial. Kita harus menuju pada Islam yang kaffah, mengambil akhlak secara keseluruhan, bukan hanya sebagian kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar