Kamis, 19 Juni 2025

Catatan dari Perth: Tentang Hujan, Dingin, dan Gaya Hidup Orang Australia

Perth - 19 Juni 2025. Saya sedang berada di Perth, salah satu kota besar di Australia Barat. Banyak hal menarik yang saya temui di sini, terutama soal cuaca dan kebiasaan warganya yang terasa berbeda dengan kehidupan di Indonesia. Salah satunya adalah soal hujan.

Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa banyak orang di sini tetap berjalan ke sekolah, bekerja, atau beraktivitas tanpa payung meskipun sedang hujan?” Apakah mereka punya tubuh anti-air? Hehe, tentu saja tidak. Tapi benar adanya, mereka seperti tidak terlalu peduli dengan gerimis atau bahkan hujan yang bagi saya cukup membuat kedinginan. Ada yang tetap naik sepeda, ada pula yang hanya memakai hoodie tipis sambil tersenyum santai.

Ternyata, ada beberapa alasan di balik “keberanian” mereka ini. Di Perth, hujan biasanya hanya berupa gerimis ringan, bukan hujan deras seperti di Indonesia. Banyak orang menganggap tidak perlu repot membawa payung hanya untuk sedikit basah. Selain itu, gaya hidup masyarakat sini juga cenderung praktis dan santai. Mereka lebih memilih memakai jaket tahan air atau raincoat, dan sebagian besar memang sudah terbiasa sejak kecil menghadapi cuaca seperti ini. Bahkan, anak-anak sekolah sering berjalan kaki dalam hujan tanpa terlihat mengeluh. Filosofinya mungkin kira-kira: “Kalau cuma basah dikit, ya sudahlah.”

Bukan hanya soal hujan, saya juga merasa bahwa cuaca di Perth ini dingin sekali. Rata-rata suhu harian sering di bawah 19 derajat Celsius, dan saat hujan turun, rasanya seperti sedang berada di dalam “AC alam” yang terlalu dingin. Bahkan di dalam kamar sekalipun—tanpa menyalakan AC—suhu tetap membuat saya ingin terus mengenakan jaket tebal. Saya jadi tertawa sendiri dan berpikir, “Ini kalau bisa dikecilkan, AC alamnya mau saya atur ke level 1 saja.”

Orang-orang lokal tampaknya kuat menghadapi dingin. Banyak yang hanya memakai kaos meskipun angin dingin menusuk. Tapi tentu, mereka juga manusia biasa. Bedanya, mereka memang sudah terbiasa sejak kecil, dan berpindah dari rumah ke mobil, lalu ke kantor—tanpa terlalu lama di luar ruangan. Jadi kalau saya merasa kedinginan, ya wajar saja. Itulah bagian dari proses adaptasi.

Saya juga baru tahu bahwa sekarang, pertengahan Juni, termasuk awal musim dingin di Australia, dan di Perth ini, musim dingin sekaligus menjadi musim paling basah. Ya, tidak ada musim hujan secara resmi seperti di Indonesia, tapi bulan Juni hingga Agustus biasanya memang sering diguyur hujan. Jadi, jangan heran kalau pagi cerah, siang gerimis, lalu sore hujan deras.

Perth punya empat musim: musim panas (Desember–Februari), musim gugur (Maret–Mei), musim dingin (Juni–Agustus), dan musim semi (September–November). Karena letaknya di belahan bumi selatan, musim-musim di sini berkebalikan dengan negara-negara di utara.

Begitulah sebagian pengalaman dan pengamatan saya selama di Perth. Dari kebiasaan orang yang santai menghadapi hujan, hingga harus beradaptasi dengan suhu dingin tanpa “pengatur suhu” yang bisa saya atur seenaknya. Tapi justru dari situlah saya belajar: bahwa hidup di negeri orang bukan hanya soal pindah tempat, tapi juga membuka pikiran dan membiarkan diri belajar dari hal-hal kecil yang kita jumpai setiap hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar