Kamis, 19 Juni 2025

Catatan dari Perth (Bagian 2): Menyesuaikan Waktu, Ibadah, dan Hidup Sehari-hari

Kota Perth - 19 Juni 2025. Tinggal di luar negeri selalu memberi pengalaman baru yang kadang unik, kadang membingungkan, tapi selalu mengesankan. Setelah beberapa waktu berada di Perth, Australia, saya mulai menyadari bahwa ritme hidup di sini berbeda, bahkan sejak hal paling dasar: waktu.

Secara geografis, waktu di Perth sama dengan WITA (Waktu Indonesia Tengah). Jadi kalau kamu berada di Denpasar, Bali atau Makassar, kamu akan merasakan waktu yang "nyetel". Tapi jika kamu berasal dari zona WIB, ya sama seperti saya harus terus menyesuaikan diri. Perbedaan dua jam ini cukup terasa, apalagi kalau ada keperluan komunikasi dengan keluarga atau pekerjaan di Indonesia.

Namun yang paling menarik sekaligus membingungkan adalah ketika saya mencoba mengikuti waktu shalat. Di Perth, waktu Subuh bisa masuk sekitar pukul 05.45 pagi, bahkan kadang lebih siang. Bayangkan, di Semarang jam segitu sudah terasa telat. Ini membuat saya harus menyesuaikan kebiasaan. Waktu shalat di Perth memang sangat dipengaruhi oleh posisi matahari sesuai lintang selatan, apalagi saat musim dingin seperti sekarang, ketika hari terasa lebih pendek. Maghrib bisa masuk jam 5 sore, dan Isya kadang sudah selesai sebelum pukul 7 malam. Sebaliknya, waktu Subuh dan Dhuha bisa terasa “mundur” bagi orang Indonesia.

Lalu, bagaimana kehidupan umat Muslim di sini?

Ternyata, komunitas Muslim di Perth cukup besar dan aktif. Banyak berasal dari Indonesia, Malaysia, Afrika, Timur Tengah, bahkan warga lokal yang menjadi mualaf. Terdapat sejumlah masjid besar, seperti Masjid Perth di William Street, yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial. Ada juga pusat komunitas Muslim Indonesia (ICWA - Indonesian Community of Western Australia) yang sering mengadakan pengajian, bazar halal, dan acara-acara Islami lainnya.

Yang membuat saya kagum, masyarakat Muslim di sini sangat terorganisir. Mereka punya aplikasi atau situs untuk mengecek jadwal shalat, info arah kiblat, dan bahkan lokasi makanan halal di sekitar Perth. Saat Jumatan, banyak masjid dipenuhi jamaah dari berbagai latar belakang budaya dan bahasa—sebuah pemandangan indah tentang keberagaman dalam Islam.

Namun, tantangan tetap ada. Misalnya, harus shalat di sela-sela waktu kerja atau kuliah, atau mencari makanan halal di tempat yang tidak terlalu ramai Muslim. Tapi saya lihat, banyak Muslim di sini tidak ragu membawa sajadah dan shalat di taman, ruang terbuka, atau ruang tenang di kampus/kantor. Mereka melakukannya dengan tenang dan percaya diri—tanpa takut dipandang aneh. Ini memberi saya pelajaran penting: menjalankan ibadah bukan hanya soal tempat, tapi soal keyakinan dan konsistensi.

Tinggal di Kota Perth berarti belajar menyesuaikan banyak hal: dari perbedaan waktu, cuaca yang dingin, hingga penyesuaian ibadah dalam rutinitas baru. Tapi justru dari situlah saya belajar bahwa Islam itu fleksibel dan bisa dijalankan di mana pun, selama ada niat dan usaha. Perth bukan hanya kota yang indah, tapi juga tempat yang memperluas cara pandang saya terhadap dunia, perbedaan, dan iman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar