Kamis, 19 Juni 2025

Catatan dari Perth (Bagian 3): Kota yang Nyaman, Tenang, dan Tertata

Perth mungkin bukan kota terbesar di Australia, tapi justru itulah daya tariknya. Kota ini tidak terlalu padat, tidak terlalu ramai, namun tetap lengkap dan tertata. Inilah tempat di mana kamu bisa menikmati kehidupan urban modern dengan sentuhan ketenangan khas pinggir pantai. Transportasi publiknya sangat terintegrasi dan efisien. Saya cukup takjub saat tahu bahwa dengan satu kartu—SmartRider—kita bisa naik bus, kereta, dan ferry tanpa repot beli tiket setiap kali. Bahkan ada layanan bus gratis di pusat kota (CAT Bus), yang bisa jadi andalan bagi turis maupun warga lokal.

Wilayah administratif Kota Perth masuk dalam negara bagian Western Australia, dengan pembagian wilayah administratif lokal disebut Local Government Area (LGA). “Perth” sendiri bisa berarti Perth City (pusatnya) atau Perth Metropolitan Area, yang mencakup banyak suburb seperti Cannington, Subiaco, Joondalup, Fremantle, dan lain-lain. Banyak warga bekerja di pusat kota tetapi tinggal di suburb yang nyaman dan hijau, mudah dijangkau dengan kereta atau bus.

Sebagian besar masyarakat Perth yang saya temui memang bekerja sebagai pegawai kantoran, guru, perawat, profesional teknologi, atau di sektor layanan, baik swasta maupun pemerintahan. Tapi tidak sedikit juga yang bekerja paruh waktu di retail, kafe, atau industri kecil. Mereka tinggal menyebar di berbagai suburb, biasanya memilih tempat tinggal yang dekat dengan stasiun, sekolah, dan taman. Rumah-rumah di Perth umumnya satu lantai, cukup luas, dan lingkungan sekitar sangat tertib dan rapi.

Rata-rata penghasilan di Perth (sumber: Australian Bureau of Statistics (ABS). November 2024) adalah sekitar AUD 1.500–1.900 per minggu untuk pekerja penuh waktu, tergantung jenis pekerjaannya. Tapi tentu, biaya hidup juga cukup tinggi, terutama untuk sewa tempat tinggal dan makan di luar. Itu sebabnya banyak yang masak sendiri di rumah dan berbelanja di pasar lokal seperti Spudshed, Aldi, atau Coles.

Yang menarik, kehidupan sosial masyarakat Perth cenderung tenang dan “low profile”. Mereka bukan tipe yang ramai, tapi mereka tetap hangat dan saling menghormati. Keberagaman sangat terasa—kamu akan mudah bertemu warga keturunan Tionghoa, Arab, India, Afrika, dan tentu saja dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Masyarakat di sini sangat terbuka terhadap keberagaman, dan cukup banyak yang beragama. Kamu bisa temukan masjid, gereja, kuil Hindu, dan tempat ibadah lainnya hidup berdampingan dengan damai.

Ada satu hal yang awalnya membuat saya kaget: kenapa jam 8 pagi kota belum ramai, dan jam 6 sore sudah banyak toko tutup? Ternyata, ini bagian dari budaya kerja dan hidup sehat orang Australia. Mereka memulai hari dengan tenang, tidak terburu-buru. Banyak yang sarapan sekitar pukul 7 pagi, lalu mulai kerja atau aktivitas sekitar jam 8. Tapi mereka juga menghargai waktu pulang, jadi banyak toko tutup lebih awal—sekitar pukul 5 atau 6 sore—supaya karyawan bisa pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Ini yang disebut “work-life balance.”

Lalu, bagaimana dengan kehidupan malamnya?

Ternyata tetap ada! Tapi bentuknya berbeda dari kebiasaan kita di Indonesia. Tidak banyak orang “nongkrong” di mall atau kafe sampai larut. Tapi di akhir pekan, restoran, pub, bioskop, dan taman kota tetap ramai. Mall biasanya hanya buka lebih lama pada hari Kamis malam, yang disebut “late-night shopping.” Banyak keluarga atau pasangan makan malam bersama sekitar jam 6–7 malam, kadang di rumah, kadang di restoran, terutama di sekitar area tepi sungai Swan atau pinggiran pantai seperti Cottesloe.

Kegiatan jalan-jalan sore juga umum, tapi bukan ke mall—melainkan ke taman, jogging track, atau sekadar jalan kaki bersama anjing peliharaan. Ini bagian dari kebiasaan hidup sehat dan sederhana masyarakat Perth. Tidak glamor, tapi menenangkan.

Perth adalah kota yang sederhana, terencana, dan manusiawi. Di sini, saya belajar bahwa hidup tidak harus selalu cepat dan ramai. Ada keindahan dalam hidup yang teratur, damai, dan penuh penghargaan terhadap waktu, lingkungan, dan keluarga. Dalam setiap perbedaan yang saya temui, saya merasa seperti diberi ruang untuk memahami dunia dari sudut pandang yang berbeda—dan saya bersyukur bisa merasakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar