Sabtu, 19 Juli 2025

Begini Rasanya Naik Transportasi Umum di Perth

Satu hal yang membuat saya betah di Perth adalah sistem transportasi umumnya yang praktis, ramah pengguna, dan tepat waktu. Sejak hari pertama saya mencoba naik bus, saya langsung merasa seperti disambut oleh sistem yang benar-benar memudahkan warganya untuk bergerak ke mana saja—baik di pusat kota maupun ke daerah pinggiran.

Yang paling memudahkan adalah adanya satu kartu pintar bernama SmartRider, yang bisa digunakan untuk naik bus, kereta, dan bahkan ferry. Cukup “tap in” saat masuk, dan “tap out” saat keluar. Kalau naik kereta, kamu hanya perlu tap di pintu masuk dan pintu keluar stasiun. Tapi untuk bus, tap saat naik dan turun. Sistem ini membuat pembayaran jadi efisien, dan kamu bisa memantau sisa saldo atau mengisi ulang secara online maupun di mesin top-up di stasiun.

Uniknya, di beberapa rute pusat kota Perth, ada layanan bus gratis bernama CAT Bus (Central Area Transit) yang beroperasi dengan jalur dan warna berbeda. Ini benar-benar membantu, terutama untuk pelancong atau pekerja yang beraktivitas di dalam city centre. Hal ini menurut saya menunjukkan betapa pemerintah daerah—dalam hal ini Pemerintah Negara Bagian Western Australia melalui Transperth—mengelola sistem transportasi dengan perencanaan yang baik dan berpihak pada warganya.

Masyarakat Perth sendiri punya banyak pilihan: mau naik transportasi umum, atau menggunakan kendaraan pribadi. Fasilitas parkir tersedia banyak dan luas, terutama di stasiun-stasiun pinggiran. Tapi saya belum tahu pasti apakah tarif parkir di pusat kota mahal, karena saya sendiri belum pernah membawa mobil—masih setia dengan kaki dan kartu SmartRider. Bagi yang ingin menyewa kendaraan, ada juga layanan sewa mobil yang mudah diakses, baik dari bandara maupun pusat kota. Sayangnya, saya belum bisa menyetir mobil, baru bisa motor, jadi belum sempat mencoba sendiri.

Salah satu hal yang membuat saya tersentuh adalah adab sopan santun penumpang. Banyak penumpang bus yang mengucapkan “Thank you!” kepada sopir saat turun. Awalnya saya kira hanya kebetulan, tapi setelah beberapa hari, saya lihat itu memang kebiasaan yang umum. Sebuah bentuk penghargaan sederhana tapi bermakna. Di kereta mungkin tidak semudah itu karena interaksi dengan petugas terbatas, tapi suasana tertib dan tenang tetap terasa. Rasanya seperti menemukan nilai-nilai Timur dalam budaya Barat.

Stasiun kereta dan halte bus di Perth juga beragam. Ada yang besar dan modern, seperti di Perth Station atau Cannington, tapi ada juga yang sederhana dan kecil, bahkan tak terlihat seperti stasiun jika kamu belum tahu. Beberapa orang menyarankan saya untuk turun di stasiun besar saja jika baru pertama kali datang, karena di beberapa tempat suasananya sepi dan bisa membingungkan. Tapi selama ini, saya merasa Perth cukup aman, baik di kota maupun pinggiran. Tentu saja, tetap perlu kewaspadaan seperti di mana pun kita berada.

Bagi pendatang baru, penting untuk tahu cara memiliki SmartRider. Kartu ini bisa dibeli di beberapa stasiun besar, di toko retail tertentu seperti newsagent, atau bahkan bisa dipesan secara online. Dan meskipun sistemnya berbasis kartu, Transperth tetap menyediakan opsi pembayaran tunai di atas bus, jadi sangat membantu jika kamu belum sempat punya kartu.

Bagaimana dengan taksi?

Taksi tetap tersedia, tapi tidak sebanyak di negara Asia. Banyak orang di sini lebih memilih ride-share seperti Uber, DiDi, atau Ola yang bisa dipesan lewat aplikasi. Sistem pembayarannya juga praktis—bisa pakai kartu kredit, debit, atau dompet digital. Untuk naik taksi konvensional, kamu bisa memanggil lewat pangkalan atau telepon, tapi tarifnya memang relatif mahal dibanding transportasi umum, sehingga taksi sering hanya digunakan dalam keadaan darurat atau untuk jarak yang tidak terlayani bus/kereta.

Naik transportasi umum di Perth bukan hanya soal berpindah tempat. Ini juga menjadi pengalaman yang memperkenalkan saya pada budaya keteraturan, efisiensi, dan rasa saling menghormati. Mulai dari sopir bus yang ramah, sistem kartu yang terintegrasi, hingga penumpang yang terbiasa mengucapkan terima kasih—semuanya mengajarkan saya bahwa teknologi dan tata kelola akan jadi sia-sia tanpa nilai-nilai kecil yang dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar