Senin, 04 Mei 2026

#rica-ricu_12 - Mengapa Hal Irasional Masih Eksis di Era Digital?

Pernahkah kamu membayangkan sebuah kota besar yang penuh dengan teknologi, namun saat acara ulang tahunnya diguyur hujan, orang-orang masih bertanya: "Mana pawangnya?"

Kejadian nyata pada malam perayaan HUT Kota Semarang, 2 Mei 2026 kemarin, menjadi studi kasus yang sangat menarik. Meskipun ritual sudah dijalankan, hujan deras tetap memaksa acara Semarang Night Carnival (SNC) batal. Fenomena ini memicu debat panas: Di era AI yang sudah bisa memprediksi cuaca dengan presisi, mengapa kita masih mengandalkan cara-cara tradisional? Apakah ini tanda kemunduran ilmu pengetahuan?

Saat Data Beradu dengan Ritual

Kita hidup di zaman di mana aplikasi AI bisa mengolah ribuan data—mulai dari tekanan udara, kelembapan, hingga arah angin dari bulan-bulan sebelumnya—untuk memberikan prediksi cuaca yang mendekati akurat. AI bekerja dengan logika dan angka. Ia jujur. Jika data menunjukkan kemungkinan hujan 90%, AI akan mengatakannya.

Namun, di lapangan, kita sering melihat pemandangan kontradiktif. Penyelenggara acara memantau radar cuaca di ponsel pintar mereka, namun di sudut lain, seorang pawang sedang sibuk dengan ritualnya. Ini adalah bentuk Disonansi Kognitif—sebuah kondisi di mana seseorang memegang dua keyakinan yang bertentangan secara bersamaan.

Antara Literasi dan Ego Manusia

Mungkin kamu bertanya, "Abad ke-21 kan sudah melek literasi, kok masih begini?"

Masalahnya ternyata bukan pada kurangnya informasi. Sumber literasi sains bertebaran di media sosial. Hambatan terbesarnya adalah Ego Manusia.

  1. Ketakutan akan Ketidakpastian: Sains memberikan probabilitas, sementara ritual menawarkan "janji". Manusia yang cemas lebih suka mendengar janji palsu yang pasti daripada kebenaran ilmiah yang masih mengandung kemungkinan gagal.

  2. Asuransi Psikologis: Banyak yang menganggap pawang sebagai "usaha tambahan". Meski tidak logis, keberadaannya memberikan ketenangan batin bagi penyelenggara yang memiliki beban ego besar agar acaranya sukses.

Agama dan Ilmu Pengetahuan: Jalan yang Sama

Jika kita kembali ke landasan akidah, agama sebenarnya mendorong manusia untuk berpikir rasional. Agama dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan untuk menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja melalui hukum-hukum Tuhan (Sunnatullah).

Ketika AI menjawab tantangan alam dengan data dan teknologi, itu adalah bentuk nyata dari memfungsikan akal yang diberikan Sang Pencipta. Maka, tetap bertahan pada cara irasional di tengah solusi yang lebih masuk akal sebenarnya adalah langkah mundur yang tidak perlu.

Menuju Masyarakat yang Berani Logis

Ke depan, AI bukan sekadar alat prediksi, tapi jembatan untuk mempermudah ilmu pengetahuan diterima masyarakat awam. Visualisasi data dari AI membuat fenomena alam yang dulu dianggap "ajaib" menjadi masuk akal.

Transisi dari mentalitas mistis ke rasional memang sulit karena berbenturan dengan urusan pribadi dan ego. Namun, seiring teknologi AI yang semakin dominan dan terbukti akurat, ruang bagi mitos akan mengecil dengan sendirinya. Kita tidak hanya butuh masyarakat yang melek teknologi, tapi juga masyarakat yang berani menerima kenyataan alam secara logis dan religius.

Sisingamangaraja, 4 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar