Sebuah Narasi Sejarah tentang Darah, Gunung, dan Ingatan Nusantara
Malam turun perlahan di lereng Gunung Bromo. Kabut menyelimuti lautan pasir, sementara suara doa dari rumah-rumah sederhana suku Tengger terdengar lirih menembus dingin pegunungan. Di tempat seperti inilah, banyak orang Jawa bertanya dalam diam:
“Apakah kami keturunan Majapahit?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya membawa perjalanan panjang tentang identitas, sejarah, dan ingatan kolektif bangsa Nusantara.
Di tanah Jawa, nama Kerajaan Majapahit bukan sekadar kerajaan lama. Ia telah menjadi simbol kejayaan. Sebagian orang merasa memiliki hubungan batin dengannya, terutama masyarakat Jawa Timur. Namun sejarah tidak sesederhana garis keturunan langsung antara rakyat hari ini dan istana masa lalu.
Majapahit bukanlah sebuah keluarga kecil. Ia adalah peradaban besar yang menaungi banyak suku, pelabuhan, desa, bangsawan, petani, prajurit, hingga pendeta dari berbagai wilayah Nusantara. Maka ketika orang Jawa modern mengatakan dirinya “keturunan Majapahit”, secara budaya mungkin ada kesinambungan, tetapi secara biologis hampir mustahil dibuktikan secara langsung.
Yang tersisa adalah warisan budaya: bahasa Jawa halus, struktur sosial, kesenian wayang, tradisi keraton, hingga pola kosmologi gunung dan laut.
Di sinilah sering muncul apa yang disebut “egosentris geografis”: anggapan bahwa karena seseorang berasal dari Jawa Timur, maka otomatis lebih dekat dengan Majapahit dibanding wilayah lain. Padahal sejarah menunjukkan Majapahit sendiri lahir dari jaringan keluarga lintas budaya Jawa dan Sunda.
Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, justru memiliki kisah darah campuran yang rumit dan menarik.
Menurut beberapa sumber tradisional dan naskah babad, ayah Raden Wijaya adalah Rakeyan Jayadarma, bangsawan dari Sunda-Galuh, sementara ibunya Dyah Lembu Tal berasal dari keluarga Singhasari di Jawa Timur. Versi ini menjadikan Raden Wijaya sebagai figur percampuran Sunda dan Jawa. ([History of Cirebon][1])
Namun para sejarawan juga mencatat bahwa asal-usul Raden Wijaya masih diperdebatkan. Sumber yang lebih tua seperti kitab *Nagarakretagama* cenderung menempatkannya sebagai keturunan langsung wangsa Rajasa dari Singhasari, keturunan Ken Arok. Sementara kisah darah Sunda muncul lebih kuat dalam naskah yang lebih muda seperti *Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara* atau tradisi Wangsakerta. ([Wikipedia][2])
Di titik inilah sejarah Nusantara menjadi menarik: bahkan pendiri Majapahit sendiri kemungkinan adalah simbol percampuran dua dunia besar Pulau Jawa — Sunda dan Jawa Timur.
Maka pertanyaan tentang “perselisihan” antara Jawa dan Sunda tidak bisa dipahami secara hitam putih.
Memang benar pernah terjadi tragedi besar yang meninggalkan luka sejarah: Perang Bubat. Peristiwa itu terjadi ketika rombongan Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk pernikahan Dyah Pitaloka dengan Raja Hayam Wuruk. Namun perbedaan tafsir politik antara pihak Sunda dan Gajah Mada berubah menjadi pertumpahan darah. Dalam ingatan budaya Sunda, tragedi itu diwariskan turun-temurun sebagai luka kehormatan. ([Reddit][3])
Tetapi sejarah juga memperlihatkan bahwa hubungan Sunda dan Jawa tidak selalu bermusuhan. Banyak pernikahan politik, hubungan dagang, dan pertalian keluarga terjadi selama berabad-abad. Bahkan beberapa diskusi sejarah modern menyebut adanya hubungan darah antara elit Sunda-Galuh dan Majapahit. ([Reddit][4])
Karena itu, menganggap suku Jawa dan Sunda sebagai dua kelompok yang “selalu berselisih” adalah penyederhanaan sejarah. Yang terjadi sesungguhnya adalah dinamika politik kerajaan — bukan permusuhan abadi antarsuku.
Sementara itu, di pegunungan Tengger dan Pulau Bali, jejak Majapahit memang tampak lebih nyata.
Ketika pengaruh Islam berkembang kuat di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16, sebagian bangsawan, pendeta, dan masyarakat Hindu-Buddha Majapahit memilih bertahan di daerah pegunungan atau menyingkir ke Bali. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa masyarakat Tengger dan sebagian masyarakat Bali memiliki kesinambungan budaya paling dekat dengan Majapahit lama.
Tradisi upacara Kasada di Tengger, struktur ritual Hindu Bali, hingga beberapa bentuk sastra Jawa Kuno menjadi bukti kesinambungan budaya itu. Namun sekali lagi, sejarah budaya tidak selalu identik dengan garis darah murni.
Majapahit sendiri adalah percampuran.
Ia dibangun dari migrasi manusia, perkawinan politik, perdagangan antarpulau, dan perebutan kekuasaan. Tidak ada satu suku pun hari ini yang bisa mengklaim menjadi “pemilik tunggal” Majapahit.
Barangkali justru di situlah kebesaran Majapahit berada.
Bahwa ia bukan milik Jawa Timur saja.
Bukan milik Jawa saja.
Bukan pula milik Sunda atau Bali semata.
Ia adalah ingatan besar Nusantara tentang bagaimana perbedaan dapat dipersatukan oleh peradaban.
Dan mungkin, ketika kabut pagi turun di Bromo, atau ketika gamelan Bali berdentang di pura tua, yang tersisa bukanlah pertanyaan “siapa paling asli keturunan Majapahit”, melainkan kesadaran bahwa sejarah Nusantara sejak awal memang lahir dari percampuran manusia-manusia berbeda.
---
Referensi:
1. Nagarakretagama — ditulis tahun 1365 M.
Salah satu sumber primer paling penting mengenai Majapahit.
2. Pararaton — diperkirakan disusun abad ke-15–16.
3. Slamet Muljana, *Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit* — terbit ulang oleh LKiS, 2005. ([Wikipedia][5])
4. C.C. Berg, penelitian mengenai historiografi Majapahit dan tradisi Jawa Kuno — pertengahan abad ke-20.
5. Artikel “Raden Wijaya Pewaris Hak Tahta Kerajaan Sunda Galuh” — SINDOnews, 2021. ([Sindonews Daerah][6])
6. Artikel “Asal Usul Raden Wijaya Pendiri Majapahit Berdarah Campuran Sunda dan Jawa” — iNews/RCTI+, 2025. ([RCTI+][7])
7. Artikel “Silsilah Kekerabatan Raden Wijaya dengan Raja Sunda-Galuh” — History of Cirebon, 2023. ([History of Cirebon][1])
8. Diskusi sejarah publik mengenai hubungan Majapahit dan Sunda di komunitas sejarah daring. ([Reddit][4])
[1]: https://www.historyofcirebon.id/2023/08/silsilah-kekerabatan-raden-wijaya.html?utm_source=chatgpt.com "Silsilah Kekerabatan Raden Wijaya dengan Raja Sunda-Galuh - Sejarah Cirebon"
[2]: https://en.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya?utm_source=chatgpt.com "Raden Wijaya"
[3]: https://www.reddit.com/r/MalayHistory/comments/1mkutzt?utm_source=chatgpt.com "Perang Bubat: Tragedi Jawa- Sunda 1357 M"
[4]: https://www.reddit.com/r/indonesia/comments/z7v2xy?utm_source=chatgpt.com "Kenapa Kerajaan Majapahit tidak Menaklukan Kerajaan Sunda & Galuh?"
[5]: https://en.wikipedia.org/wiki/Majapahit?utm_source=chatgpt.com "Majapahit"
[6]: https://daerah.sindonews.com/read/606083/29/raden-wijaya-pewaris-hak-tahta-kerajaan-sunda-galuh-pendiri-kerajaan-majapahit-1637511069?showpage=all&utm_source=chatgpt.com "Raden Wijaya Pewaris Hak Tahta Kerajaan Sunda Galuh, Pendiri Kerajaan Majapahit | Halaman Lengkap"
[7]: https://www.rctiplus.com/news/detail/nasional/4805299/asal-usul-raden-wijaya-pendiri-majapahit-berdarah-campuran-sunda-dan-jawa?utm_source=chatgpt.com "Asal Usul Raden Wijaya, Pendiri Majapahit Berdarah Campuran Sunda dan Jawa | News+ on RCTI+"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar