Senin, 11 Mei 2026

#rica-ricu_25 - why - nihilist penguin

 Ada cerita seekor pinguin yang berkelana di pegunungan es. Kehidupan pinguin selalu dalam kelompok. Kehidupan migrasi mengikuti musim dingin dan tentunya karena kebutuhan sumber makanan. Sekelompok keluarga pinguin berjalan bersama dipimpin ayahnya. Ayahnya seorang yang bijak, pengalaman hidupnya diceritakan kepada anak2nya selama perjalanan. Diceritakan apa itu makan dan bagaimana mendapatkan sumber makan. Tentunya ibunya menambahkan bahwa makan yang enak itu bagaimana rasanya. Ayahnya pun menceritakan hal2 yang tidak boleh dilakukan. Bahaya tidak hanya dari sekawanan mereka namun bisa lingkungan yang berbeda dan angan2 yang belum tahu kebenarannya.

Sampailah perjalanan melewati pegunungan salju yang tebal. Ayahnya mengarahkan jalannya ke arah daratan yang luas dan makin merendah untuk mendekati perairan. Laut lepas. Pemandangan disebelahnya tentunya indah di mata. Pegunungan salju. Putih. Tinggi menangkap langit. Seekor anak pinguin menatap dengan penuh rasa penasaran. Kenapa ayahnya tidak mengarahkan jalannya kesana? Kehidupan mereka harus dalam kondisi dingin, bersalju dan puncak pegunungan itu bersalju tentunya akan banyak harapan bahagia di sana, pikirnya. Ketinggian letak dan cuaca yang mendukung tentu kehidupan akan berjalan dengan indahnya.

'Ayah sebenarnya kita mau kemana?'

'Yang sering kubilang, menuju laut lepas.'

'Memang di sana ada apa?'

'Segala yang kita butuhkan.'

'Apa laut itu masih jauh?'

'Bisa ya, bisa juga tidak.'

'Lebih jauh mana dengan jarak ke puncak gunung itu?'

'Tidak, Nak! Tujuan kita laut lepas, titik!'

'Tapi bagaimana kalau gunung adalah tempat yang lebih baik?'

'Laut lepas punya segala yang kamu butuhkan!'

'Yang aku butuhkan atau yang ayah butuhkan!'

'Bagaimana kalau ternyata di gunung tidak lebih baik untukmu? Atau meungkin kau gagal mencapai itu?' Nada tinggi karena lelah dari ayah pinguin.

'Aku..... Tidak tahu.... ' Ada kebimbang si anak pinguin.

'Aku tidak tahu apa yang terjadi jika di sana tidak lebih baik atau meungkin aku gagal di tengah jalan.' Pikir si anak pinguin dan terus berjalan melepaskan diri dari rombongan.

'Satu hal yang ku tahu..... Aku pasti akan hidup dalam penyesalan kalau aku tidak pernah mencoba.'

'Kalian mungkin bisa selamat tapi aku memilih untuk hidup.'

'Why?' Geram dalam hati ayah pinguin dan tetesan air mata ibu pinguin melihat anaknya pergi memisahkan diri disertai tatapan nanar saudara2nya.

Seakan yakin hidup dalam penyesalan kalu tidak mencoba. Pernyataan klasik bagi 'perintis'. Akhirnya.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar