Aku selalu merasa ada sesuatu yang berbeda ketika Hari Raya Idul Adha datang. Suara takbir yang bergema sejak malam, aroma rumput dari kandang hewan qurban, hingga orang-orang yang sibuk membicarakan sapi mana yang paling besar atau kambing mana yang paling sehat. Dulu aku mengira Idul Adha hanyalah soal menyembelih hewan dan membagikan daging. Namun semakin bertambah usia, aku mulai sadar bahwa inti hari raya ini sebenarnya bukan pada darah atau dagingnya, melainkan pada pertarungan paling sulit dalam diri manusia: belajar ikhlas melepaskan sesuatu yang bernilai besar.
Dan ternyata, yang paling berat memang bukan membeli hewan qurbannya. Yang paling berat adalah melawan suara hati sendiri.
“Apa tidak terlalu mahal?”
“Bukankah uang itu bisa dipakai kebutuhan lain?”
“Atau cukup yang biasa saja?”
Aku sadar, manusia memang cenderung nyaman pada pola sedekah yang sudah menjadi kebiasaannya. Dalam psikologi perilaku, Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow (2011) menjelaskan bahwa manusia cenderung memilih keputusan yang terasa aman dan familiar karena otak menyukai kenyamanan serta menghindari kehilangan. Maka ketika harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk seekor hewan qurban terbaik, sebenarnya yang sedang diuji bukan sekadar kemampuan finansial, tetapi kemampuan hati untuk rela memberi lebih dari batas nyaman dirinya sendiri.
Nilai besar dalam qurban bukan hanya soal nominal harga. Tetapi tentang keberanian memberikan yang terbaik.
Hewan yang sehat, besar, tidak cacat, dan dagingnya banyak tentu memiliki harga tinggi. Pertanyaannya kemudian menjadi sangat pribadi: apakah aku benar-benar mau bersedekah di luar kebiasaanku sendiri?
Aku teringat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang selama ini sering diceritakan hanya sebatas “perintah penyembelihan anak.” Padahal jika direnungkan lebih dalam, kisah itu adalah puncak ujian keikhlasan manusia kepada Tuhannya.
Dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaffat ayat 102–107 dikisahkan bagaimana Nabi Ibrahim mendapatkan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail. Putra yang lahir setelah penantian sangat panjang di usia tua. Seorang anak yang sebelumnya hampir mustahil dimiliki. Bayangkan seseorang yang sudah lama menunggu kebahagiaan, lalu justru diminta mengikhlaskan sumber kebahagiaannya itu.
Dan yang membuatku selalu merinding adalah sikap Nabi Ismail sendiri:
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Tidak ada pemberontakan. Tidak ada kemarahan. Yang ada hanya kepasrahan penuh kepada Sang Khalik.
Lalu Allah menggantikan Ismail dengan seekor sembelihan besar. Dalam banyak tafsir klasik seperti karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa hewan pengganti itu adalah sembelihan istimewa yang telah dipersiapkan Allah. Sebagian riwayat menyebut hewan tersebut berkaitan dengan qurban Habil, putra Nabi Adam, yang diterima Allah karena ketulusannya. Habil memilih memberikan hasil ternak terbaiknya, sedangkan Qabil justru memberikan hasil yang buruk. Kisah ini disebut dalam banyak literatur tafsir dan sejarah Islam sebagai simbol bahwa Allah menilai kualitas keikhlasan, bukan sekadar bentuk persembahan.
Aku mulai berpikir, mungkin sejak awal Allah memang ingin mengajarkan satu hal sederhana kepada manusia: jika memberi, berikan yang terbaik.
Bukan sisa.
Bukan yang sudah tidak dipakai.
Bukan yang paling ringan dilepas.
Dan hidup Nabi Ibrahim sendiri seperti rangkaian pelajaran tentang harapan dan keikhlasan. Ketika usianya menua dan harapan memiliki anak terasa hampir hilang, Allah justru memberinya Nabi Ismail. Lalu setelah ujian pengorbanan itu selesai, Allah kembali memberinya kebahagiaan lain melalui kelahiran Nabi Ishaq dari istrinya, Sarah.
Kadang Allah memang membuat manusia bahagia dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Aku sering menyadari, ketika manusia merasa hidupnya terlalu berat, sebenarnya ia sedang melihat masalah dari ukuran ketakutannya sendiri. Padahal dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 286 sudah ditegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.
Ayat itu terdengar sederhana, tetapi sulit diterima ketika hidup sedang sesak.
Saat kehilangan.
Saat ekonomi sulit.
Saat doa terasa lama dijawab.
Namun bukankah Nabi Ibrahim juga pernah berada di titik itu? Menunggu bertahun-tahun untuk memiliki anak. Lalu diuji kembali dengan perintah yang menghancurkan perasaannya sebagai seorang ayah.
Tetapi dari sana aku belajar satu hal: mungkin sabar bukan berarti tidak sedih. Sabar adalah tetap percaya bahwa Allah tidak sedang menghancurkan hidup manusia, melainkan sedang membentuk keluasan hatinya.
Hari Raya Idul Adha akhirnya membuatku bertanya kepada diri sendiri:
Apa sebenarnya yang paling sulit aku ikhlaskan?
Hartaku?
Ego-ku?
Rasa takut kehilangan?
Atau justru keyakinanku sendiri bahwa Allah mampu mengganti sesuatu yang hilang dengan hal yang lebih baik?
Karena mungkin, qurban terbesar dalam hidup manusia bukan hanya menyembelih hewan. Tetapi menyembelih rasa terlalu cinta pada dunia, lalu belajar percaya penuh kepada Tuhan.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar