Kamis, 04 Juni 2026

#rica-ricu_49 - yang kau tahu, namanya ni luh

Kamu nggak pernah tahu bahwa malam itu aku balik kampus lagi.

Padahal jam sudah terlalu malam untuk ukuran mahasiswa masih nongkrong di kampus. Lorong gedung mulai sepi. Lampu ruang kelas satu per satu dimatikan satpam. Tinggal beberapa titik cahaya kekuningan yang bikin suasana kampus terasa asing. Kalau masih ada mahasiswa, biasanya mereka anak laboratorium yang sengaja nginep karena praktikum atau dikejar deadline laporan.

Aku sebenarnya sudah sampai rumah. Tas kulempar ke kasur, sepatu kulepas setengah hati. Tapi entah kenapa kepikiran terus soal janji pulang bareng sama kamu. Aku pulang duluan tanpa bilang apa-apa. Waktu itu kupikir kamu pasti masih sibuk di kampus. Tapi makin malam, rasa nggak enak itu malah makin mengganggu.

Akhirnya aku balik lagi.

Aku jalan kaki, menyusuri jalan antar kampung dan kebun. Kampus dan rumah lumayan jaraknya, malah serasa dekat. Lewat pintu belakang kampus. Jalanan Jakarta waktu itu belum seramai sekarang. Lampu-lampu rumah banyak yang sudah tutup. Angin malam menemaniku jalan, mempercepat langkah kaki. Kenapa aku ga naik angkutan? 

Dan jujur saja, aku sendiri bingung kenapa sebegitunya.

Aku hanya terlalu khawatir kalau kamu kecewa.

Atau mungkin... aku takut kalau ternyata ada orang lain yang menemanimu pulang.


“Kamu anak 95 ya?”

Aku menoleh. Seorang laki-laki berdiri sambil membawa map lusuh penuh kertas. Wajahnya familiar. Aku tahu dia senior.

“Iya,” jawabku singkat sambil tersenyum kecil.

Ia memperkenalkan diri. Angkatan 94.

Tubuhnya nggak tinggi. Kecil malah menurut ukuran kebanyakan cowok kampus waktu itu. Tapi penampilannya rapi. Kemeja lengan pendek dimasukkan ke celana kain, lengkap dengan jam tangan sederhana di pergelangan kiri. Beda dengan mahasiswa kebanyakan yang lebih sering pakai kaos oblong dan jins belel.

Dalam pikiranku waktu itu: wah, ini pasti sudah kerja.

Ada aura dewasa yang sulit dijelaskan. Cara duduknya tenang. Cara ngomongnya nggak meledak-ledak. Dan aku... ya masih anak baru yang kadang masih bingung membedakan ruang dosen dan ruang administrasi.

Obrolan kami ternyata nyambung.

Tentang kampus. Tentang dosen killer. Tentang laporan praktikum yang lebih tebal dari buku telepon. Tentang mahasiswa yang tiba-tiba menghilang satu semester lalu muncul lagi seolah tak terjadi apa-apa.

Ia banyak bercerita.

Katanya pernah cuti kuliah karena harus kerja dulu. Bukan untuk gaya-gayaan cari pengalaman, tapi untuk bantu biaya kuliah sendiri sekaligus membantu adik-adiknya sekolah.

Aku diam mendengarkan.

Dewasa, gitu deh.

Dan aku?

Masih sering mengeluh uang kiriman telat dua hari.

Semakin lama ngobrol, rasanya seperti bicara dengan teman lama. Padahal sebelumnya kami cuma saling tahu wajah. Mungkin karena dunia mahasiswa memang begitu. Kalau sudah bicara soal tugas, dosen, nilai, atau perjuangan hidup anak rantau, batas antara senior dan junior jadi cepat hilang.

Ia bercerita kalau mata kuliahnya sebenarnya hampir habis. Tinggal tugas akhir dan beberapa mata kuliah yang harus diulang.

“Nilai B juga kadang diulang,” katanya santai.

Aku sempat heran. Dalam pikiranku waktu itu, mengulang kuliah cuma buat mereka yang nilainya jeblok.

Ternyata tidak.

Ada orang-orang yang memang serius mengejar hasil terbaik. Rela duduk lagi satu semester untuk memperbaiki sesuatu yang sebenarnya sudah cukup baik.

Mahasiswa penuh dedikasi.

Dewasa, gitu deh.

Dan aku?

Masih sibuk menghitung minimal nilai aman supaya nggak kena SP.

Lalu malam itu, entah bagaimana, obrolan berbelok ke arahmu.

“Aku pernah lihat kamu bareng anak berjilbab itu,” katanya.

Aku tahu yang dimaksud siapa.

Kamu.

Aku menjawab santai. Awalnya cuma menjelaskan kalau kita sering searah pulang. Kadang makan bareng habis praktikum. Kadang saling titip fotokopi materi kuliah.

Tapi kok lama-lama ceritaku jadi banyak sekali.

Aku sendiri heran.

Ia hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis.

Dan di tengah obrolan itu, tiba-tiba muncul perasaan aneh dalam dadaku.

Eh... memangnya kenapa dia banyak tanya soal kamu?


Besoknya kami benar-benar pulang bareng.

Naik angkutan kota yang harus oper dua kali kalau mau sampai rumah. Padahal kalau dipikir sekarang, jaraknya sebenarnya nggak sejauh itu. Anak kampus memang suka melebih-lebihkan penderitaan transportasi.

Awalnya kami cuma ngobrol biasa.

Tentang kuliah sampai malam.

Tentang dosen yang suka tiba-tiba memberi kuis.

Tentang kantin kampus yang gorengannya selalu keras kalau sudah jam sore.

Lalu aku mulai cerita soal senior itu.

Tentang bagaimana dia terlihat dewasa. Tentang hidupnya. Tentang cara dia bertanya soal kamu.

Kamu mendengarkan sambil menahan senyum.

Lalu tiba-tiba kamu bilang,

“Cieee... ada yang cemburu.”

Aku langsung salah tingkah.

“Apaan sih...” jawabku terlalu cepat.

Kamu malah tertawa kecil.

Aku jadi sibuk melihat keluar jendela angkot supaya wajahku nggak kelihatan merah.

Lucu juga kalau diingat sekarang. Aku bahkan nggak sadar sejak kapan mulai merasa terganggu kalau ada orang lain yang ingin dekat denganmu.

Padahal waktu itu aku masih sering menyangkal semuanya.

Menganggap kita cuma teman.

Teman yang kebetulan sering pulang bareng.

Teman yang kebetulan saling mencari kalau salah satu belum muncul di kampus.

Teman yang kebetulan membuat malam jadi lebih pendek untuk dijalani.


Namanya Ni Luh.

Itu saja yang kuingat jelas.

Aku bahkan nggak pernah benar-benar mencari tahu nama lengkapmu. Rasanya aneh sekarang mengingat hal itu. Dekat hampir setiap hari, tapi banyak hal kecil justru tak pernah ditanyakan.

Kamu berjilbab. Supel. Mudah akrab dengan siapa saja. Jenis orang yang membuat suasana canggung jadi cepat cair.

Aku juga nggak pernah berpikir soal asal namamu. Apakah keluargamu dari Bali, NTB, atau daerah lain. Waktu itu rasanya semua orang di Jakarta ya sama saja: sama-sama anak kuliah yang sedang berusaha bertahan hidup.

Jakarta memang seperti itu.

Kota tempat orang datang dari mana-mana lalu bercampur menjadi satu cerita.

Sampai akhirnya satu per satu pergi lagi.

Lulus.

Pindah kerja.

Pulang kampung.

Menikah.

Menghilang tanpa kabar.

Dan anehnya, justru setelah semua berlalu, aku baru sadar bahwa yang paling sulit dari masa kuliah bukan tugas akhir atau dosen killer.

Melainkan menerima bahwa ada orang-orang yang dulu terasa begitu dekat, namun pada akhirnya hanya tinggal menjadi bagian dari malam-malam yang terus kita kenang diam-diam.

Jati Barat, 28 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar