Senin, 01 Juni 2026

#rica-ricu_42 - Pledoi Hati Burisrawa: Mengapa Aku Layak Mencintai Sembadra

Nuwun sewu, poro konco, juga seluruh hadirin di mahkamah romansa pewayangan yang terhormat. Kenalkan, aku Burisrawa. Ya, aku tahu apa yang ada di kepala kalian saat mendengar namaku: raseksa berwajah sangar, rambut gimbal awut-awutan, taring nongol dikit, kelakuan urakan, dan dicap sebagai pengacau nomor satu di lakon Parta Krama. Tapi tolong, singkirkan dulu bias visual kalian yang sudah terdoktrin oleh pakem pedalangan itu. Hari ini, lewat coretan ini, aku mau mengajukan sebuah pledoi—sebuah pembelaan jujur dari lubuk hati seorang pria yang cuma pengen memperjuangkan cinta sejatinya kepada Dewi Sembadra.

Mari kita bedah secara objektif dari awal mula drama ini. Semua orang memuja-muja Raden Arjuna. Katanya dia ksatria tampan, lemah lembut, jago memanah, dan idola para wanita di seantero marcapada. Tapi coba kalian pikir pakai logika sehat, bukan pakai perasaan emak-emak penggemar drakor. Arjuna itu sudah punya berapa istri? Baru di fase awal ini saja daftarnya sudah seperti antrean bansos! Ada roro ini, roro itu. Dia itu inkarnasi dari fakboi premium zaman kuno yang dibungkus dengan jubah kesalehan. Sementara aku? Aku ini pria single, setia, berkomitmen tinggi, dan belum pernah membagi hatiku untuk madu-madu yang lain. Cintaku pada Sembadra itu orisinal, tanpa pengawet, dan tidak bercabang!

Kalian menuduhku tidak tahu diri karena berani melamar adik dari Prabu Kresna dan Baladewa itu. Halo? Sadar fisik itu perlu, tapi sadar status ekonomi dan politik juga jangan dilupakan. Aku ini putra Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka! Secara silsilah, aku ini pangeran resmi, bukan ksatria pengembara yang tidurnya di hutan atau numpang di kerajaan orang seperti para Pandawa itu. Ketika keluarga Dwarawati meminta syarat pernikahan atau bebana yang tingkat mustahilnya melebihi ujian masuk CPNS, apakah aku mundur? Sama sekali tidak! Aku langsung gas pol.

"Arjuna mungkin punya panah Pasupati yang bisa membidik tepat di jantung musuh, tapi aku punya nyali dan dana tak terbatas untuk membidik restu mertua!"

Ingat tidak syarat-syarat gila yang diajukan itu? Sembadra minta mas kawin berupa patahnya patahan petir, kereta kencana yang ditarik oleh hewan gaib, dan pengiring yang bukan manusia biasa. Kresna sengaja bikin syarat begitu biar aku mundur teratur. Tapi mereka meremehkan kekuatan dompet dan koneksi seorang Burisrawa. Demi mendapatkan Sembadra, aku bela-belain sowan ke Ngastina, minta bantuan finansial dan personel dari Kurawa. Aku sewa tim kreatif terbaik, aku cari vendor kereta kencana paling eksklusif di jagat raya, bahkan aku nego langsung dengan makhluk-makhluk halus untuk jadi pengiring pengantin. Kalau ini bukan bentuk perjuangan totalitas seorang lelaki, lalu kalian mau sebut apa? Arjuna paling-paling cuma modal tampang melas, lalu mendadak dibantu para dewa lewat jalur orang dalam. Sungguh tidak adil!

Lalu mari kita bahas soal insiden puncaknya, di mana aku dituduh berbuat nekat dan kurang ajar di dalam keputren. Tolong dicatat, aku itu cuma korban misdirection dari takdir dan situasi yang memojokkan. Aku masuk ke sana bukan mau berbuat jahat, aku cuma mau meyakinkan Sembadra secara personal. Aku mau bilang: "Diajeng Sembadra, lihatlah mataku yang agak melotot ini. Di dalam sini tidak ada niat selingkuh seperti di mata Arjuna. Aku akan membangunkanmu istana yang paling megah di Mandaraka, lengkap dengan jaminan hari tua tanpa perlu ikut perang Baratayuda!" Tapi sialnya, begitu aku mendekat, dia malah ketakutan seolah melihat genderuwo lepas luapan emosi. Padahal itu cuma ekspresi wajahku kalau lagi grogi berat, sumpah!

Kemudian, ketika suasana makin kacau, muncul si Arjuna dengan gaya pahlawannya yang sok kalem tapi mematikan itu. Ujung-ujungnya, aku yang diusir, aku yang dikeroyok, dan aku yang dijadikan bahan tertawaan seisi jagat pewayangan sebagai pihak yang patah hati paling tragis. Mereka merayakan pernikahan Parta Krama dengan sorak-sorai, sementara aku pulang ke Mandaraka sambil memeluk lutut di pojokan kamar, mendengarkan lagu-lagu patah hati versi gamelan laras slendro yang menyayat kalbu.

Jadi, lewat pledoi ini, aku ingin menegaskan kepada kalian semua: memperjuangkan cinta itu bukan monopoli orang-orang berwajah glowing semacam Arjuna saja. Kami, para pemilik wajah berfitur tegas dan bernasib carangan, juga punya hak asasi untuk mencintai dengan ugal-ugalan. Jika memperjuangkan seorang wanita dengan modal kejujuran, kesetiaan tunggal, dan materi yang jelas dianggap sebagai sebuah kesalahan, maka aku rela dicap bersalah selamanya di dalam lakon ini.

Tertanda, 

Burisrawa (Ksatria yang Kalah Rupo tapi Menang Setio) 

Kaliwiru, 26 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar