Jumat, 05 Juni 2026

#rica-ricu_52 - ASN Ngaji Bandongan ala Santri

Pagi itu aula terasa berbeda. Tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak sunyi. Deretan kursi ASN memenuhi ruangan dengan wajah-wajah yang tampak lelah setelah bekerja seharian. Sebagian masih mengenakan seragam dinas lengkap, sebagian lain membawa kitab kecil dan buku catatan. Di depan ruangan, terpampang tulisan tentang kegiatan “ASN Ngaji Bandongan ala Santri” dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.

Acara dimulai ketika perwakilan biro kesejahteraan melaporkan tujuan kegiatan itu. Bukan sekadar pengajian biasa, melainkan usaha untuk menjaga tradisi pesantren sekaligus membentuk ASN yang religius. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa dalam maknanya. Di tengah birokrasi yang identik dengan administrasi, angka, dan laporan, ternyata masih ada ruang untuk membicarakan adab, ilmu, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Wakil Gubernur yang hadir malam itu berbicara singkat, tetapi cukup membuat ruangan hening. Ia mengingatkan bahwa Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan. Ada sejarah panjang tentang para ulama dan santri yang ikut mengusir penjajah. Menurutnya, mengenang perjuangan mereka adalah kewajiban moral, bukan hanya nostalgia. Ia juga mengatakan sesuatu yang membuat banyak orang mengangguk pelan, “Kalau mengajak orang lain memulai kebaikan, diri sendiri harus jadi orang pertama yang melakukannya.”

Ucapan itu seperti menampar pelan banyak orang di ruangan, termasuk aku sendiri.

Malam itu pembahasan kitab dipimpin oleh KH. Ubaidulloh Shodaqoh, Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah. Kitab yang dibahas adalah Adabul ‘Alim wal Muta’alim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sebelum mulai, beliau mengajak seluruh peserta menghadiahkan Al-Fatihah kepada pengarang kitab. Tradisi sederhana khas pesantren, tetapi justru di situ terasa hubungan batin antara murid, guru, dan ilmu.

Beliau lalu menjelaskan bahwa orang alim tidak boleh menyimpan ilmunya sendiri. Ilmu harus diajarkan. Namun sebelum belajar, seseorang juga harus mengenal muallim atau gurunya. Di pesantren, hubungan guru dan murid bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan hubungan adab dan keteladanan.

Beliau bercerita tentang Imam Nawawi yang jarang berkumpul dengan orang-orang kampung karena sebagian besar waktunya dihabiskan bersama kitab-kitabnya. “Tamunya Imam Nawawi itu kitab,” kata beliau sambil tersenyum. Tetapi kitab-kitab itu bukan benda mati. Dalam tradisi pesantren, membaca kitab berarti menghadirkan ruh pengarangnya di dalam hati.

Pembahasan lalu masuk pada halaman awal kitab. Tentang pentingnya memulai segala sesuatu dengan “Bismillahirrahmanirrahim.” Dalam sastra Arab, kata pembuka dan penutup bukan sekadar formalitas. Ada makna besar di dalamnya. Bahkan dalam tradisi pesantren, niat dianggap sebagai ruh dari sebuah tindakan.

Aku melihat beberapa ASN mulai menulis cepat di buku catatan mereka.

“Kalau semua dimulai dengan nama Allah,” kata beliau, “maka pekerjaan tidak hanya menjadi rutinitas dunia, tetapi juga bernilai ibadah.”

Beliau lalu mengaitkan hal itu dengan kehidupan modern. Banyak orang merasa umat Islam tertinggal secara ekonomi dibanding bangsa lain. Namun menurut beliau, ukuran kekayaan tidak berhenti pada dunia. Ada kekayaan akhirat yang jauh lebih besar. Karena itu, ucapan seperti basmalah dan hamdalah bukan sekadar kebiasaan lisan, tetapi jalan mendapatkan berkah.

Penjelasan itu mengingatkanku pada banyak penelitian psikologi modern tentang rasa syukur. Dalam jurnal Personality and Individual Differences tahun 2010, para peneliti menemukan bahwa orang yang terbiasa bersyukur memiliki tingkat stres lebih rendah dan kepuasan hidup lebih tinggi. Apa yang diajarkan pesantren ternyata punya kesesuaian dengan kajian ilmiah modern.

Pembahasan kemudian bergeser pada pendidikan anak. Hal pertama yang baik dari orang tua kepada anaknya, kata beliau, adalah memberikan nama yang penuh doa. Setelah itu memberi makan yang halal dan baik, lalu mengajarkan adab.

“Adab itu melindungi sunnah, sunnah melindungi wajib,” ucap beliau pelan.

Kalimat itu membuat suasana mendadak tenang.

Beliau menjelaskan bahwa ilmu paling penting adalah ilmu ketuhanan, ilmu tentang tata cara menyembah Tuhan, ilmu akhlak, ilmu makanan halal, hingga ilmu thaharah. Artinya, pendidikan manusia tidak cukup hanya soal kecerdasan akademik.

Pada halaman enam puluh, pembahasan menjadi lebih dalam. Orang berilmu harus takut kepada Allah ketika melakukan sesuatu yang dilarang. Sebab ilmu adalah titipan Allah. Kalau seseorang berilmu tetapi jarang mengingat Allah, itu seperti berkhianat pada ilmu itu sendiri.

Beliau juga menjelaskan sifat guru yang baik: anteng, jatmiko, tahu menempatkan diri sesuai maqamnya. Tidak mudah marah, tidak haus pujian, dan menjaga diri dari hal-hal syubhat—sesuatu yang tidak jelas halal haramnya.

Di bagian lain beliau mengingatkan bahwa ilmu jangan dijadikan sekadar tangga mencari harta dunia. Ilmu yang paling dekat dengan Allah adalah ilmu yang bermanfaat.

Ketika masuk halaman enam puluh tiga, pembahasan tentang zuhud terasa sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Zuhud bukan berarti miskin atau anti harta. Zuhud berarti tidak bergantung pada dunia. Orang alim tetap boleh mencari harta, tetapi harta tidak boleh menguasai hati.

“Sedikit tapi berkah itu cukup,” kata beliau.

Aku melihat beberapa peserta hanya diam sambil menunduk.

Menjelang akhir pengajian, beliau menutup dengan nasihat sederhana: jangan mudah jengkel dan harus terus punya ambisi menambah ilmu. Dalam istilah beliau, wassamina—semangat meningkatkan kapasitas diri.

Udara siang tidak terasa ketika pengajian selesai. Namun anehnya, tidak ada wajah yang terlihat mengantuk. Barangkali karena siang itu bukan hanya belajar kitab, melainkan belajar memaknai hidup kembali. Di tengah dunia kerja yang penuh target dan tekanan, pengajian seperti itu mengingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan adab, rasa syukur, dan hubungan dengan Tuhan agar hidup tidak kehilangan arah.

Gubernuran, 20 Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar