Kembali lagi bersama aku, Drupadi. Wanita nomor satu di Kerajaan Amarta yang di dunia nyata aslinya pusing tujuh keliling mengurus suami serba lurus macam Prabu Yudistira.
Mari kita jujur-jujuran saja di sini. Punya suami yang saking jujurnya nggak bisa bohong itu ternyata melelahkan secara batin. Yudistira itu kalau bicara nadanya datar, topiknya kalau nggak soal keadilan negara, ya soal filsafat darma. Romantis? Wah, jangan harap ada candle light dinner atau kejutan buket bunga. Yang ada, aku diajak merenungi arti kehidupan di bawah pohon beringin. Membosankan? Banget!
Makanya, jangan salahkan aku kalau sesekali mataku—dan hatiku—melirik ke arah iparku sendiri: Arjuna.
Arjuna itu, astaga... dia adalah definisi fakboy premium bersertifikat internasional lintas jagat pewayangan. Karismanya itu lho, tipis-tipis tapi mematikan. Kalau Yudistira adalah jalan tol yang lurus dan sepi, maka Arjuna adalah lampu disko yang gemerlap. Dia punya sejuta cara untuk membuat wanita merasa menjadi makhluk paling spesial di bumi, sebelum akhirnya dia pindah ke wanita berikutnya.
Pernah suatu hari di taman istana, aku lagi cemberut karena Yudistira seharian sibuk rapat membahas anggaran renovasi pasar. Tiba-tiba Arjuna muncul dari balik pohon kemuning, berjalan pelan dengan senyum mautnya yang bisa meruntuhkan iman para bidadari Kahyangan.
Tanpa permisi, dia duduk di dekatku, menatap mataku dalam-dalam—jenis tatapan yang bikin jantungku serasa lagi naik roller coaster.
"Diajeng Drupadi," bisiknya, suaranya berat-berat serak basah, tipe suara yang kalau di zaman modern cocok jadi pengisi suara podcast menjelang tidur. "Mengapa wajah cantikmu mendung? Sungguh, melihatmu sedih seperti ini, rasanya seluruh panahku kehilangan sasarannya. Karena sasaran sejati dari panah asmaraku... ada di matamu."
Gila! Gombalan receh begitu kalau yang ngomong orang lain pasti sudah kutampol pakai kipas. Tapi karena yang ngomong Arjuna, lengkap dengan kedipan mata indahnya, pertahananku langsung runtuh.
Gaya fakboy-nya itu sangat halus. Dia tahu kapan harus mendekat, kapan harus memuji selendangku yang senada dengan warna bunga, dan kapan harus menyentuh ujung jariku dengan alasan "ingin meramal garis tangan". Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kombinasi antara puisi sastra tingkat tinggi dan rayuan maut siberia. Bersamanya, semua beban hidup sebagai ibu ratu langsung menguap. Aku lupa kalau punya suami yang membosankan. Aku lupa pada tumpukan tugas domestik istana. Dunia rasanya cuma milik aku dan si tampan Arjuna.
Tapi ya... namanya juga fakboy. Menyenangkan untuk diselingi, tapi bikin jantungan kalau dimiliki seutuhnya. Toh, realitas langsung menampar wajahku begitu senja tiba.
Begitu malam datang, Arjuna pamit pergi—entah mau menemui Srikandi, Subadra, atau daftar antrean istri-istrinya yang lain. Dan aku? Aku harus kembali ke kamar megahku, duduk di samping Yudistira yang sedang khusyuk membaca kitab suci kuno tanpa menoleh sedikit pun padaku. Realitas pewayangan Jawa mengunci statusku: aku adalah istri sah dari satu orang pria, dan pria itu bukan Arjuna.
Sekarang, hiburan satu-satunya bagiku hanyalah lewat dunia mimpi. Hanya di alam bawah sadar, di dalam tidur yang lelap, aku bebas menyusun skenario alternatif di mana Arjuna adalah suamiku satu-satunya, yang merayuku tiap pagi dan mengajakku keliling dunia dengan kereta kencan.
Namun, setiap kali aku terbangun dari mimpi indah itu, ada rasa bersalah yang langsung menusuk dada.
Muncul pertanyaan besar yang sering menghantui nuraniku: Apakah boleh seorang istri memikirkan pria lain? Apakah berdosa jika di dalam benakku ada bayangan lelaki yang bukan suamiku?
Secara hukum adat dan agama, raga dan kesetiaanku memang 100% milik Yudistira. Aku tidak pernah melangkah keluar dari batas suci pernikahan kami. Tapi pikiran manusia itu ibarat angin, tidak ada satupun prajurit atau raja yang bisa memenjarakannya. Kadang hatiku mendebat, apakah memikirkan Arjuna itu sebuah dosa besar? Ataukah itu hanya mekanisme pertahanan diri seorang wanita yang kesepian dan merindukan sedikit percikan romantis dalam hidupnya yang terlalu kaku?
Ah, entahlah. Biarlah ini menjadi rahasia kecil antara aku, malam, dan bantal istana yang sering menampung keluh kesahku. Yang jelas, besok pagi aku harus kembali menjadi Dewi Drupadi yang anggun dan berwibawa, mendampingi Prabu Yudistira yang lurus. Tapi kalau besok sore Arjuna lewat di taman lagi... yah, sepertinya tersenyum sedikit mendengarkan rayuannya bukan dosa-dosa amat, kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar