Senin, 15 Juni 2026

#rica-ricu_60 - Menemukan Kesalehan di Gerbong Kereta: Kritik Sosial dari Sebuah Senja Kota

Tulisan berjudul “Sebuah pengalaman sederhana, tapi membekas dalam ingatan saya” menghadirkan potret kehidupan urban yang terasa dekat dengan masyarakat perkotaan Indonesia, khususnya para pekerja komuter Jabodetabek. Dengan bahasa puitis dan penggambaran suasana yang detail, penulis berhasil membawa pembaca masuk ke dalam gerbong kereta sore hari yang penuh kelelahan, sesak manusia, sekaligus menyimpan fragmen kecil tentang kemanusiaan dan spiritualitas.

Namun di balik keindahan deskripsinya, tulisan ini juga menarik untuk dikritisi. Bukan untuk menjatuhkan isi ceritanya, melainkan untuk melihat bagaimana pengalaman personal sering kali dipakai untuk menggambarkan kondisi sosial yang lebih luas. Di sinilah kritik sosial dan pendekatan ilmiah menjadi penting.

Tulisan tersebut sangat kuat dalam membangun romantisme kehidupan komuter. Jakarta digambarkan sebagai pusat magnet ekonomi yang “menarik berjuta semut pekerja dari pinggiran”. Gambaran ini sebenarnya sesuai dengan fakta urbanisasi modern. Penelitian dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan berbagai kajian sosiologi perkotaan menunjukkan bahwa kawasan Jabodetabek memang menjadi wilayah dengan mobilitas pekerja harian terbesar di Indonesia. Banyak masyarakat memilih tinggal di Bogor, Depok, atau Bekasi karena harga hunian di Jakarta terlalu tinggi. Akibatnya, perjalanan panjang dan padat di transportasi umum menjadi rutinitas yang dianggap biasa.

Namun, tulisan ini cenderung melihat para komuter hanya dari sisi kelelahan dan perjuangan personal. Padahal jika dikaji lebih dalam, persoalan ini bukan sekadar “nasib hidup kota”, melainkan hasil dari ketimpangan tata ruang dan pembangunan ekonomi yang belum merata. Penulis menyebut sesaknya kereta sebagai konsekuensi hidup metropolitan, tetapi tidak menyentuh akar masalah struktural seperti kebijakan transportasi, ketimpangan upah, dan mahalnya hunian di pusat kota. Kritik sosial terhadap negara atau sistem perkotaan nyaris tidak muncul.

Di sisi lain, bagian paling menarik dalam tulisan ini adalah penggambaran sosok pemuda di kereta. Pemuda itu tidak banyak bicara, tetapi perilakunya menjadi simbol moralitas di tengah kerasnya kehidupan kota. Ia memberi tempat duduk kepada seorang ibu, berdzikir diam-diam, menghitung lafaz dengan jemarinya, lalu menutup perjalanan dengan doa maghrib sebelum turun di stasiun.

Narasi seperti ini sangat menyentuh karena menawarkan kontras. Di tengah kota yang individualis, masih ada manusia yang menjaga kesadaran spiritualnya. Penulis seolah ingin mengatakan bahwa agama tetap bisa hidup di tengah hiruk pikuk modernitas.

Tetapi di sinilah kritik lain muncul. Tokoh pemuda tersebut digambarkan hampir terlalu ideal. Ia menjadi representasi “anak muda baik” yang tenang, religius, sopan, dan penuh makna. Sementara penumpang lain secara implisit digambarkan sebagai simbol masyarakat kota yang egois dan kehilangan kepedulian. Pandangan seperti ini sebenarnya cukup problematis karena menyederhanakan realitas sosial menjadi hitam-putih: religius berarti baik, sedangkan masyarakat urban berarti individualis.

Padahal penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa perilaku tolong-menolong tidak selalu berkaitan langsung dengan identitas religius seseorang. Dalam teori prosocial behavior yang dikembangkan oleh para psikolog sosial seperti Daniel Batson, tindakan membantu orang lain lebih dipengaruhi oleh empati, situasi sosial, dan norma lingkungan dibanding sekadar simbol kesalehan pribadi. Artinya, orang yang tidak tampak religius pun bisa memiliki kepedulian sosial tinggi.

Selain itu, tulisan ini juga menarik jika dilihat dari fenomena “kesalehan simbolik” di masyarakat modern. Dalam banyak kajian sosiologi agama, termasuk yang dibahas oleh Robert Wuthnow dan Bryan Turner, masyarakat urban modern memang sering mencari ketenangan spiritual di tengah tekanan hidup kota. Kereta, halte, atau ruang publik lainnya menjadi tempat lahirnya spiritualitas personal. Maka pemuda dalam cerita sebenarnya bukan hanya individu biasa, tetapi simbol pencarian makna hidup di tengah rutinitas mekanis perkotaan.

Meski demikian, kekuatan terbesar tulisan ini tetap terletak pada kemampuan observasinya. Penulis mampu menangkap detail kecil yang sering luput dari perhatian: wajah lelah pekerja, panas aspal sore hari, suara penjual asongan, hingga jemari yang bergerak menghitung dzikir. Detail-detail seperti ini membuat cerita terasa hidup dan manusiawi.

Tulisan ini juga berhasil menunjukkan bahwa pengalaman sederhana bisa menjadi refleksi kehidupan yang dalam. Di era media sosial yang serba cepat dan penuh sensasi, kemampuan mengamati hal kecil seperti ini justru menjadi sesuatu yang langka. Pembaca diajak berhenti sejenak dan menyadari bahwa di tengah keramaian kota, selalu ada cerita-cerita sunyi yang menyimpan makna.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar cerita tentang perjalanan kereta. Ia adalah cermin tentang manusia kota: lelah, sibuk, kadang egois, tetapi tetap mencari secercah ketenangan dan harapan. Kritik terhadap tulisan ini bukan berarti menolak nilai moral yang ingin disampaikan, melainkan mengajak pembaca melihat bahwa persoalan kehidupan urban tidak cukup dipahami hanya melalui sudut pandang individu dan religiusitas personal. Ada faktor sosial, ekonomi, dan kebijakan yang ikut membentuk wajah keras kota metropolitan.

Dan mungkin memang begitulah kehidupan modern berjalan. Di antara desakan pintu kereta, aroma keringat penumpang, dan suara rel yang berisik, manusia tetap berusaha mempertahankan sisi paling mendasar dari dirinya: menjadi manusia yang masih mampu peduli, berpikir, dan berdoa.

Jatibarat, 28 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar