Pernahkah kita bertanya mengapa hampir semua peradaban manusia, sejak zaman paling kuno hingga era modern, selalu memiliki pertanyaan yang sama?
"Siapa yang menciptakan alam semesta?"
"Mengapa saya hidup?"
"Apa yang terjadi setelah kematian?"
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul pada manusia yang hidup di gurun, di pegunungan, di kota besar, bahkan di pulau-pulau yang terpisah ribuan kilometer. Seolah-olah ada sesuatu dalam diri manusia yang selalu mendorongnya untuk mencari makna yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dalam Islam, kecenderungan itu disebut fitrah.
Ketika Manusia Mulai Bertanya
Seorang anak kecil sering mengajukan pertanyaan yang sederhana tetapi mendalam.
"Siapa yang membuat langit?"
"Kenapa ada matahari?"
"Kenapa kita hidup?"
Pertanyaan semacam itu muncul jauh sebelum anak memahami filsafat atau teologi.
Para ulama menjelaskan bahwa manusia tidak lahir sebagai lembaran kosong dalam urusan spiritual. Dalam konsep fitrah, manusia membawa potensi bawaan untuk mengenali kebenaran, mencari makna, dan mengakui adanya kekuatan yang lebih besar daripada dirinya. (Ar-Raniry Journal)
Karena itulah, dalam pandangan Islam, tugas para nabi bukan menciptakan gagasan tentang Tuhan yang sebelumnya tidak ada, melainkan mengingatkan manusia kepada fitrah yang telah ada dalam dirinya.
Mengapa Manusia Selalu Mencari Tuhan?
Menariknya, pertanyaan ini juga menjadi perhatian para ilmuwan modern.
Bidang yang dikenal sebagai Cognitive Science of Religion mencoba memahami mengapa keyakinan kepada Tuhan atau kekuatan adikodrati muncul berulang kali dalam berbagai budaya manusia.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan alami untuk mencari tujuan, pola, dan pelaku di balik suatu peristiwa. Manusia tidak nyaman hidup dalam dunia yang dianggap sepenuhnya acak. Kita cenderung bertanya, "Siapa yang menyebabkan ini?" atau "Apa tujuan dari semua ini?" (Sage Journals)
Ilmu pengetahuan tidak dapat membuktikan atau membantah keberadaan Tuhan. Namun para peneliti menemukan bahwa kecenderungan untuk mencari makna dan mengaitkan dunia dengan suatu kehendak yang lebih besar merupakan karakter yang sangat umum pada manusia. (ScienceDirect)
Menariknya, temuan ini memiliki titik temu dengan konsep fitrah dalam Islam, meskipun keduanya berbicara dari sudut pandang yang berbeda.
Dari Fitrah Menuju Agama
Jika manusia memiliki fitrah yang sama, mengapa muncul begitu banyak agama, aliran, dan keyakinan?
Pertanyaan ini sudah ada sejak lama.
Bayangkan sebuah kompas yang selalu menunjuk ke arah utara. Jika kompas itu terkena gangguan magnet, arah jarumnya bisa bergeser. Kompasnya masih ada, tetapi petunjuknya tidak lagi terbaca dengan sempurna.
Dalam perspektif Islam, fitrah manusia tetap ada, tetapi lingkungan, budaya, pendidikan, pengalaman hidup, dan kepentingan pribadi dapat memengaruhi cara seseorang memahami dan mengekspresikan pencarian spiritualnya. (UIN Ar-Raniry Journal Portal)
Karena itu sejarah manusia dapat dipandang sebagai sejarah pencarian yang panjang. Ada yang menemukan jalan yang menurutnya benar. Ada yang tersesat. Ada yang terus mencari sepanjang hidupnya.
Tahu Belum Tentu Mau
Namun ada hal yang lebih menarik lagi.
Tidak semua orang yang memahami sesuatu akan menerimanya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat hal ini terus berulang.
Orang tahu bahwa hidup sehat itu penting, tetapi tetap mengabaikannya.
Orang tahu bahwa kejujuran itu baik, tetapi tetap berbohong.
Orang tahu bahwa shalat membawa ketenangan, tetapi masih sering menundanya.
Artinya, masalah manusia tidak selalu terletak pada pengetahuan.
Kadang masalahnya terletak pada kemauan.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa keyakinan manusia tidak hanya dibentuk oleh logika, tetapi juga oleh identitas, lingkungan sosial, kebiasaan, dan kebutuhan untuk mempertahankan konsistensi dirinya. Ketika suatu keyakinan telah menjadi bagian dari identitas seseorang, perubahan sering kali terasa mengancam, meskipun secara rasional ia memahami argumen yang berbeda. (arXiv)
Di sinilah kita memahami bahwa perjalanan menuju Tuhan bukan hanya perjalanan akal, tetapi juga perjalanan hati.
Shalat sebagai Cara Mengingat Fitrah
Mungkin karena itulah dalam Islam, pencarian Tuhan tidak berhenti pada pemikiran.
Ia diterjemahkan ke dalam ibadah.
Shalat, misalnya, bukan hanya kumpulan gerakan dan bacaan. Ia adalah latihan untuk mengingat kembali siapa diri kita.
Di tengah kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai ambisi dunia, manusia mudah lupa bahwa dirinya hanyalah makhluk.
Shalat menghadirkan jeda.
Sejenak manusia berhenti mengejar dunia dan kembali mengingat asal-usulnya.
Dalam bahasa yang sederhana, shalat adalah cara fitrah mengetuk kembali pintu kesadaran manusia.
Penutup: Perjalanan Pulang yang Tidak Pernah Selesai
Mungkin fitrah bukan sesuatu yang membuat manusia langsung mengetahui seluruh kebenaran secara otomatis.
Fitrah lebih mirip benih.
Benih itu ada dalam setiap manusia.
Sebagian tumbuh subur.
Sebagian tertutup oleh kesibukan hidup.
Sebagian lagi memerlukan waktu panjang untuk tumbuh.
Karena itu pencarian Sang Pencipta bukanlah perjalanan yang hanya dilakukan oleh para nabi, ulama, atau filsuf. Ia adalah perjalanan setiap manusia.
Ketika seseorang bertanya tentang makna hidup, ketika ia merenungi keindahan alam, ketika ia merasa kecil di hadapan luasnya langit, atau ketika ia bersujud dalam shalat dan merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan, mungkin pada saat itulah fitrah sedang berbicara.
Dan sepanjang sejarah manusia, suara fitrah itu tampaknya tidak pernah benar-benar hilang. Ia terus mengajak manusia untuk mencari, mengenal, dan pada akhirnya kembali kepada Sang Pencipta yang telah memberinya kehidupan.
Referensi
Julijar, S. Mahmud, & S. Ulhusni. Konsep Fitrah Menurut Islam dan Teori Tabula Rasa John Locke, FITRAH: International Islamic Education Journal (2024). Menjelaskan fitrah sebagai potensi bawaan manusia yang mencakup aspek spiritual dan intelektual. (Ar-Raniry Journal)
Daniel Jou. Ibn Taymiyya on Human Nature and Belief in God: Using the Cognitive Science of Religion to Study the Fiṭra, Religions (2022). Menghubungkan konsep fitrah dengan kajian psikologi dan ilmu kognitif agama modern. (MDPI)
Dedi Sahputra Napitupulu. Elemen-Elemen Psikologi dalam Al-Qur'an: Studi tentang Nafs, Aql, Qalb, Ruh, dan Fitrah (2019). Membahas fitrah sebagai kecenderungan bawaan manusia untuk mengenal dan percaya kepada Tuhan. (UIN Ar-Raniry Journal Portal)
Will M. Gervais. Perceiving Minds and Gods (2013). Menjelaskan bagaimana kemampuan manusia memahami niat dan pikiran berperan dalam pembentukan konsep ketuhanan. (Sage Journals)
Pascal Boyer. The Science of Religious Beliefs (2008). Menguraikan mengapa keyakinan religius muncul secara luas dalam berbagai budaya manusia melalui mekanisme kognitif yang berulang. (ScienceDirect)
Rozzaq Auwali & Muhammad Habib al-Anshari. Potensi Fitrah dalam Diri Manusia (2025). Menjelaskan fitrah sebagai potensi emosional, intelektual, fisik, dan spiritual yang melekat pada manusia. (journal.stkipsubang.ac.id)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar